Sampah
Ketua Yayasan Bali Wastu Lestari, Ni Wayan Riawati. Sumber Foto : ads/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Di tengah situasi darurat sampah yang masih membayangi Bali, Yayasan Bali Wastu Lestari (YBWL) terus menggerakkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui jaringan Bank Sampah yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.

Pegiat bank sampah sekaligus Ketua YBWL, Ni Wayan Riawati, menyatakan bahwa tantangan utama dalam pengelolaan sampah bukan terletak pada sampah itu sendiri, melainkan pada pola pikir dan tindakan masyarakat dalam menanganinya.

“Permasalahan utama justru karena rendahnya kesadaran masyarakat dan belum terbangunnya konsep manajemen sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Kami percaya perubahan bisa dimulai dari rumah, dan itulah semangat yang kami bawa sejak 2010,” ujar Riawati.

YBWL sejak lama aktif mengedukasi masyarakat melalui pendekatan sosial gotong royong, dan kini mulai mendorong transformasi gerakan bank sampah menjadi social enterprise bersama Bank Sampah Induk melalui pendirian PT Bali Recycle Center (BRC). Transformasi ini diharapkan bisa memastikan pengelolaan sampah berjalan lebih konsisten dan berkelanjutan.

Dalam rentang 2012–2025, jumlah unit bank sampah yang aktif terus meningkat, mencapai lebih dari 650 unit aktif pada 2024. Aktivitas ini juga telah memberikan manfaat ekonomi, dengan penyerapan sampah plastik hingga 4.500 ton per tahun dan nilai ekonomi mencapai Rp13 miliar.

Namun, Riawati menilai implementasi kebijakan pemerintah daerah belum berjalan maksimal. Meski regulasi sudah cukup lengkap, termasuk UU Pengelolaan Sampah, Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang strategi nasional pengelolaan sampah, hingga Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber masih terdapat inkonsistensi di lapangan.

“Komitmen regulasi sangat baik, tapi belum ditunjang dengan tindakan yang konsisten dan terukur. Padahal, perubahan perilaku masyarakat butuh keteladanan dan pendampingan berkelanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, sinergi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media sangat penting untuk mendorong gerakan ini. YBWL sendiri telah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Unilever, Coca-Cola, Aqua, serta perguruan tinggi dan institusi pendidikan.

YBWL juga aktif mendorong edukasi lingkungan melalui pelatihan guru, penyediaan komposter rumah tangga, serta kerja sama dengan sekolah dan Dinas Pendidikan. Mereka meyakini bahwa pengelolaan sampah yang baik akan berdampak langsung pada ketahanan ekonomi, kesehatan masyarakat, dan lingkungan yang lestari.

“Gerakan bank sampah bukan sekadar soal sampah, tapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa setiap individu punya tanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkas Ni Wayan Riawati. (ads/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News