
BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Sebanyak 12 organisasi Tionghoa di Bali menggelar Bali Bakcang Festival (BBF) 2025 di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung, Sabtu (31/5/2025) malam. Festival ini menjadi ajang pelestarian budaya Tionghoa sekaligus mengenang sosok Qu Yuan, penyair bijak yang dikenal karena pengabdiannya dalam membela kebenaran dan negaranya.
Ketua Panitia BBF 2025, Salman, menjelaskan bahwa tema festival tahun ini adalah “Menjaga Tradisi, Menyongsong Harmoni”. Tema ini diangkat untuk menegaskan pentingnya menjaga kerukunan dalam keberagaman dengan tetap melestarikan nilai-nilai tradisi.
“Dengan BBF 2025, kita tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan komunitas,” ujar Salman.
Bakcang sendiri merupakan makanan tradisional Tionghoa yang berbentuk segitiga dan dibungkus daun. Menurut Salman, secara filosofis bakcang melambangkan harapan akan cinta kasih, kedamaian, keharmonisan keluarga, kelancaran rezeki, dan kesuksesan dalam usaha maupun karir.
Rangkaian BBF 2025 ke depan juga akan semakin meriah dengan rencana penyelenggaraan Lomba Perahu Naga di Pulau Serangan, Kota Denpasar, pada tahun mendatang.
Konsul Jenderal Tiongkok di Bali, Zhang Zhisheng, yang hadir dalam acara tersebut menyambut baik pelaksanaan BBF sebagai sarana mempererat hubungan persaudaraan antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Bali.
“Melalui pelestarian Bakcang, kita berharap jalinan persaudaraan antarkomunitas semakin erat dan hubungan warga Tionghoa dengan masyarakat lokal semakin harmonis,” ujar Zhang.
Hadir pula dalam acara tersebut, Gubernur Bali periode 2008–2018 Made Mangku Pastika. Ia mendukung penuh rencana lomba Perahu Naga yang dinilainya mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan pariwisata di Bali.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster melalui sambutan yang dibacakan oleh Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama dan Ormas Kesbangpol Provinsi Bali, I Gede Adityana Putra, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan BBF 2025.
“Festival ini bukan sekadar acara kuliner atau budaya, tapi juga menjadi wujud nyata semangat persaudaraan, toleransi, dan gotong royong yang menjadi pondasi kokoh kehidupan bermasyarakat di Bali,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsistensi komunitas Tionghoa dalam menyelenggarakan kegiatan lintas etnis dan generasi menunjukkan kontribusi besar dalam memperkuat tatanan budaya Bali, baik dalam dimensi spiritual maupun fisik.
“Bali Bakcang Festival adalah ruang suci untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, toleransi dan keharmonisan sosial. Di tengah arus modernisasi, festival ini mengingatkan kita bahwa pembangunan Bali tidak cukup hanya dengan infrastruktur, tapi juga dengan kekuatan budaya dan hubungan antarmanusia yang harmonis,” pungkasnya.(ads/bpn)












