
BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Warisan spiritual dan budaya Bali kembali mendapat ruang melalui Work Shop Lontar Prembon Usadha, bagian dari Festival Khasanah Lontar Bali Odalan Saraswati yang digelar di Wantilan Museum Pustaka Lontar, Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Jumat (30/5/2025).
Salah satu topik yang menarik perhatian dalam workshop ini adalah pembahasan mendalam tentang Tetebasan Gering, sebuah konsep dalam lontar usada Bali yang berkaitan erat dengan penyakit spiritual dan hutang karma.
Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Jero Mangku I Nyoman Merta, pegiat lontar Bali, dan I Ketut Dharma Kresna Wijaya, seorang praktisi Usadha Bali, dengan moderator I Nyoman Ardika alias Sengap, pelawak senior Bali. Turut hadir pula tokoh adat serta para bendesa dari berbagai wilayah di Karangasem.
Menurut Kresna Wijaya, Tetebasan Gering merupakan istilah dalam lontar usada yang merujuk pada penyakit atau prahara akibat hutang karma dari kelahiran sebelumnya, yang baru muncul saat seseorang memasuki usia paruh baya.
“Biasanya saat usia memasuki setengah umur, barulah muncul penyakit atau prahara, misalnya konflik dalam rumah tangga, sakit mendadak, atau hal-hal pamali yang berulang. Jika sudah begitu, sebaiknya segera dilakukan pewacakan untuk mengetahui apakah ada unsur tetebasan gering,” ungkapnya.
Jika seseorang terbukti mengalami tetebasan gering, maka perlu dilakukan upacara khusus yang disesuaikan dengan hasil pewacakan dan hari kelahirannya. Upacara ini diyakini mampu mengurangi atau menyembuhkan penyakit maupun gangguan yang dialami.
Kresna menjelaskan, setiap individu lahir dengan membawa hutang karma yang berbeda-beda. Dalam lontar, terdapat 210 jenis kelahiran berdasarkan kombinasi Saptawara, Pancawara, dan Kaliwuku. Masing-masing membawa tetebasan yang unik, sehingga lokasi dan jenis upakara pun menyesuaikan.
“Ada tetebasan yang dilakukan di Pura Dalem, Pemuhunan, atau perempatan jalan. Misalnya, jika upacara dilakukan di Setra (kuburan), maka itu biasanya terkait kelahiran melik, yang punya beban karma khusus,” jelasnya.
Selain tempat, banten dan sarana pelukatan juga harus disesuaikan dengan kelahiran seseorang agar upacara tetebasan bisa terlaksana dengan tepat sasaran secara niskala.
Menutup pemaparannya, Kresna Wijaya mengapresiasi penyelenggaraan festival dan workshop ini sebagai langkah penting untuk membangkitkan minat masyarakat terhadap warisan lontar.
“Terima kasih kepada Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban. Festival ini luar biasa. Selama ini banyak masyarakat menganggap lontar itu mistis atau tabu untuk dipelajari. Padahal, isinya sangat kaya dan bisa membuka wawasan spiritual dan kesehatan secara tradisional.”
Sementara itu, Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya, menyampaikan bahwa workshop ini adalah bagian dari rangkaian Festival Khasanah Lontar yang telah dibuka beberapa waktu lalu.
“Ada banyak kegiatan dalam festival ini yang bertujuan untuk melestarikan budaya lontar Bali, mulai dari workshop, bedah lontar, hingga pelatihan konservasi lontar,” ujar Suarya.(st/bpn)












