
BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Pameran seni rupa bertajuk “Root” yang digelar di ARMA Museum, Ubud, dari 24 Mei hingga 14 Juni 2025 bukan sekadar selebrasi estetika visual. Ia hadir sebagai cermin yang memantulkan jejak sejarah, kritik sosial, hingga kegelisahan atas masa depan Bali.
Pameran ini memperingati seratus tahun kehadiran Walter Spies, seniman legendaris asal Jerman, di Pulau Dewata—sosok yang tak hanya membentuk sejarah seni Bali modern, tetapi juga turut menciptakan lanskap budaya dan pariwisata yang kini membesarkan sekaligus membebani pulau ini.
Walter Spies, lahir di Moskow dan besar di Jerman, pertama kali menginjakkan kaki di Bali pada tahun 1925. Di usia 28 tahun, ia memilih meninggalkan Eropa untuk selama-lamanya dan menetap di Bali, tempat ia kemudian menemukan rumah dan inspirasi artistik. Sosoknya menjadi pionir dalam dunia seni dan budaya di Bali, memperkenalkan seni lukis dengan gaya magical realism yang unik dan menggugah.
Michael Schindhelm, seorang penulis, pembuat film, dan konsultan budaya asal Swiss-Jerman yang menjadi penggagas pameran ini, menyebut Spies sebagai “anomali dalam sejarah Modernisme”. Menurutnya, transformasi artistik Spies setelah tiba di Bali begitu drastis hingga sulit dipercaya bahwa karya sebelum dan sesudahnya dibuat oleh seniman yang sama.
Namun ironisnya, meski Spies berpengaruh besar, ia hampir terlupakan di Barat.
“Jika Spies tetap di Eropa, bisa jadi ia sekarang dipamerkan di museum-museum besar Jerman. Tapi ia memilih Bali. ‘Lebih baik Balimama daripada Europa,’ begitu katanya,” ujar Schindhelm dalam konferensi pers di ARMA Museum, Jumat (23/5/2025).
Pameran “Root” menampilkan karya instalasi, grafis, dan cuplikan film dokumenter fiksi berjudul ROOTS karya Michael Schindhelm, yang menghidupkan kembali sosok Spies sebagai tokoh metaforis yang menelusuri perubahan Bali dari masa ke masa.
Tak hanya itu, dua seniman kontemporer Bali, Made Bayak dan Gus Dark, turut berkontribusi dalam pameran ini. Lewat karya-karya mereka, keduanya menyuarakan isu-isu aktual seperti krisis air bersih, rusaknya sistem subak, hilangnya sawah, serta pergeseran nilai spiritual akibat konsumerisme global.
“Ini bukan sekadar kritik, tetapi refleksi dari akar-akar kebudayaan Bali yang mulai tergerus,” ujar Made Bayak.
Ia menekankan, bahwa karya seni bisa menjadi ruang perenungan, bukan penghukuman.
“Kami ingin membawa Bali kembali ke rel-nya. Bukan untuk romantisisme, tapi untuk mengingatkan bahwa yang kita alami sekarang adalah hasil dari sistem yang diciptakan bersama,” tambahnya.
Schindhelm juga menyoroti perubahan fundamental dalam struktur sosial dan budaya Bali.
“Ketika Spies datang, kehidupan masyarakat Bali adalah wujud dari budaya itu sendiri. Kini, Bali menjadi penerima manfaat sekaligus korban dari pariwisata massal global,” katanya.
Spies pernah menjadi tuan rumah bagi tokoh-tokoh dunia seperti Charlie Chaplin, Barbara Hutton, Vicky Baum, hingga Margaret Mead dan Gregory Bateson. Ia bahkan terlibat dalam pengembangan tari Kecak bersama Wayan Limbak dan mendorong berdirinya Koperasi Seni Pita Maha, sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi pasar seni Barat.
Kini, warisan itu disorot kembali dalam konteks modern, di mana budaya Bali tak lagi sepenuhnya milik rakyatnya, tetapi menjadi komoditas global.
“Pameran ini mengingatkan kita bahwa dulu seni dan kehidupan menyatu. Setiap orang adalah seniman. Hari ini, seni jadi industri dan kehidupan terpinggirkan,” tutur Schindhelm.
Kurator pameran, Chiara Turconi dan Yudha Bantono, mengorkestrasi dialog lintas zaman dan lintas budaya dalam pameran ini. Bersama tim yang terdiri dari seniman, musisi, penari, dan peneliti budaya, mereka menggali lebih dalam kisah Spies dan warisannya bagi Bali kontemporer.
Salah satunya melalui karya I Wayan Dibia, penari dan koreografer yang menciptakan tari topeng tentang Spies. Dalam tari itu, tokoh-tokoh seperti Spies, Chaplin, dan Margaret Mead dihidupkan kembali melalui gestur dan interpretasi khas Bali.
“Melalui mereka, kita bisa melihat bagaimana orang Bali memandang Barat—bukan sebagai penjajah, tapi sebagai bagian dari narasi yang kompleks,” ungkap Schindhelm.
Pendiri ARMA Museum, Agung Rai, menyambut hangat pameran ini sebagai bentuk pelestarian nilai yang dibawa oleh Spies.
“Dia tidak hanya memperkenalkan seni, tetapi juga mengajarkan bagaimana merasakan keindahan dari lanskap dan tradisi,” ujarnya.
Bagi Agung Rai, pameran “Root” merupakan upaya bersama untuk merumuskan ulang masa depan Bali.
“Budaya kita yang memuliakan air dan lingkungan mulai luntur. Melalui lukisan-lukisan ini, kita diajak mengingat kembali—dan mungkin, memperbaiki yang telah kita lupakan,” ungkapnya.
Pameran “Root” tidak berhenti sebagai nostalgia. Ia adalah ajakan untuk berpikir ulang: apa arti modernitas, kemajuan, dan identitas dalam konteks Bali hari ini. Melalui figur Walter Spies dan refleksi dari seniman Bali masa kini, kita dihadapkan pada pertanyaan esensial: apakah kita masih mengenal akar kita, atau justru telah tercerabut dari tanah yang membesarkan kita?
Sebagaimana Spies pernah mengatakan, “Lebih baik Balimama daripada Europa.” Mungkin sudah saatnya kita bertanya: Bali seperti apa yang ingin kita tinggali, wariskan, dan perjuangkan?.(ads/bpn)












