Ni Made Ary Lisnawati
Ni Made Ary Lisnawati, S.KM., M.Kes., Mahasiswa Program Doktor, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Remaja merupakan fase transisi penting dalam kehidupan manusia yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Di tengah gejolak pencarian jati diri dan penyesuaian terhadap lingkungan baru, terdapat satu aspek penting yang sering kali terabaikan, yaitu kesehatan reproduksi. Ironisnya, isu ini masih dianggap tabu di banyak kalangan—baik dalam lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat secara umum. Padahal, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk membantu remaja memahami tubuh mereka sendiri, mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta melindungi diri dari risiko kehamilan tidak direncanakan, infeksi menular seksual (IMS), dan pernikahan dini.

Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta Kementerian Kesehatan, mayoritas remaja Indonesia belum memiliki pemahaman yang memadai tentang kesehatan reproduksi. Edukasi yang diberikan di sekolah sering kali bersifat terbatas dan kurang komprehensif. Sementara itu, dalam keluarga, topik ini cenderung dihindari karena dianggap terlalu sensitif untuk dibicarakan. Akibatnya, banyak remaja yang beralih ke internet untuk mencari informasi, tanpa dibekali kemampuan literasi digital yang memadai. Hal ini membuat mereka rentan terhadap paparan informasi yang keliru atau menyesatkan. Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga belum sepenuhnya ramah terhadap kebutuhan remaja, baik dalam hal layanan yang tersedia maupun cara komunikasi tenaga medis yang kadang kurang empatik.

Berbagai tantangan inilah yang menghambat upaya peningkatan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia. Setidaknya ada empat tantangan utama yang saling berkaitan dan memperlebar kesenjangan dalam sistem edukasi dan pelayanan kesehatan. Pertama, terbatasnya pendidikan formal dan informal yang membahas kesehatan reproduksi secara terbuka dan interaktif. Kedua, masih kuatnya stigma sosial dan norma budaya yang menganggap isu ini sebagai sesuatu yang tabu. Ketiga, banyaknya informasi digital yang tidak tervalidasi yang justru memperburuk kebingungan remaja. Dan keempat, akses yang terbatas terhadap layanan kesehatan yang inklusif dan ramah remaja.

Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, dibutuhkan pendekatan yang kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan dinamika zaman. Dua strategi utama yang dapat diterapkan adalah mendorong kepemimpinan remaja sebagai agen perubahan di komunitas mereka, serta memanfaatkan teknologi digital untuk menyampaikan informasi yang edukatif, menarik, dan mudah diakses. Ketika remaja dilibatkan sebagai bagian dari solusi—bukan hanya sekadar objek intervensi—mereka akan merasa lebih terlibat dan memiliki tanggung jawab terhadap isu yang menyangkut masa depan mereka sendiri.

Sejumlah langkah strategis dapat diterapkan untuk memperkuat promosi kesehatan reproduksi remaja. Pertama, mengintegrasikan kurikulum kesehatan reproduksi secara menyeluruh di sekolah mulai dari tingkat SMP hingga SMA/SMK dengan pendekatan yang interaktif dan inklusif. Kedua, memberdayakan para pemimpin muda (youth leader) untuk terlibat aktif dalam kampanye edukatif dan kegiatan komunitas. Ketiga, mengembangkan platform digital resmi yang menyediakan konten informatif dan terpercaya, seperti video edukasi, sesi tanya jawab dengan ahli, hingga forum diskusi sehat. Keempat, memberikan pelatihan bagi tenaga pendidik dan tenaga kesehatan agar mampu berkomunikasi secara empatik dan bersahabat dengan remaja. Kelima, menjalin kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), institusi pendidikan, media, dan industri digital untuk memperluas jangkauan serta meningkatkan efektivitas kampanye.

Pada akhirnya, kesehatan reproduksi remaja bukanlah isu sektoral semata, melainkan persoalan multidimensional yang menuntut kerja sama dan komitmen dari semua pihak. Dengan strategi yang tepat, pemanfaatan teknologi digital, serta keterlibatan aktif remaja sebagai pemimpin perubahan, kita dapat menciptakan generasi muda yang lebih sadar, peduli, dan bertanggung jawab terhadap tubuh dan masa depan mereka. Sudah saatnya kita menghentikan sikap tabu dan membuka ruang dialog yang sehat, edukatif, dan konstruktif. Karena remaja bukan hanya masa depan bangsa, tetapi juga penentu arah perubahan di hari ini.

 

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News