Siat Api
Ribuan Penonton Saksikan Tradisi Sakral Siat Api di Desa Adat Duda. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Ribuan penonton memadati Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem untuk menyaksikan Tradisi Siat Api yang digelar pada Rabu malam (26/2/2025). Ritual sakral yang pernah terhenti akibat erupsi Gunung Agung tahun 1963 ini kini kembali hadir dengan kemasan berbeda.

Tahun ini, Tradisi Siat Api tidak lagi dipusatkan di Jembatan Tukad Sangsang, lokasi utama pelaksanaan sebelumnya. Bendesa Adat Duda, Jero Komang Sujana, menjelaskan bahwa perubahan lokasi dilakukan agar tidak terlalu lama menutup akses jalan, sehingga pementasan penuh dialihkan ke Jalan Gajah Mada, sementara simbolisasi tetap dilakukan di atas Tukad Sangsang.

“Setelah beberapa kali rapat, panitia memutuskan memusatkan pementasan di Jalan Gajah Mada. Namun, simbolisasi tetap kami laksanakan di atas Tukad Sangsang agar tidak mengganggu arus lalu lintas,” jelas Sujana dalam sambutannya.

Tradisi Siat Api rutin digelar setiap tahun menjelang upacara Usaba Dalem pada Sasih Kesange. Ritual ini bertujuan untuk menetralisir energi negatif dan membersihkan alam semesta, mengembalikan keseimbangan unsur alam di lingkungan Desa Adat Duda.

Dalam prosesi ini, peserta terlibat dalam ‘perang’ menggunakan prakpak, yaitu daun kelapa tua yang diikat, dibakar, dan dijadikan senjata. Tradisi ini juga memiliki makna filosofis sebagai ujian pengendalian emosi manusia, yang semakin terasa sakral dengan tambahan pementasan fragmen teatrikal.

“Melalui tradisi ini, kami berharap masyarakat desa terhindar dari hal-hal buruk. Selain itu, Siat Api juga menjadi ujian bagi manusia dalam mengendalikan emosi,” tambah Sujana.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam perhelatan ini, antara lain: Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Anggota DPD RI Provinsi Bali), Putu Eddy Surya Artha (Kadisbudpar Karangasem), I Gusti Agung Dwi Putra (Wakil Ketua DPRD Karangasem), I Nengah Suarya (Ketua MDA Karangasem).

Tradisi Siat Api Desa Adat Duda tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang mengundang ribuan wisatawan dan pecinta budaya. Diharapkan, ritual ini terus lestari dan semakin dikenal luas sebagai bagian dari kearifan lokal Bali.(st/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News