BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Konferensi Internasional tentang Minyak Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2025 kembali digelar dengan mengusung tema Transformasi Agroekologi Kelapa Sawit: Menuju Pertanian yang Positif terhadap Iklim dan Alam.
Acara ini menjadi forum penting bagi berbagai pemangku kepentingan industri kelapa sawit untuk membahas solusi konkret dalam menghadapi tantangan keberlanjutan sektor ini.
ICOPE, yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007, merupakan hasil kolaborasi antara Sinarmas Agribisnis dan Pangan, Pusat Penelitian Pertanian Prancis untuk Pembangunan Internasional (CIRAD), dan WWF-Indonesia. Konferensi ini bertujuan meningkatkan kapasitas industri kelapa sawit serta mendorong kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga penelitian, dan organisasi lingkungan.
Kelapa Sawit Berkelanjutan dan Tantangan Global
Dewi Lestari Yani Rizki, Direktur Konservasi Yayasan WWF Indonesia, menegaskan bahwa tantangan terbesar industri kelapa sawit saat ini adalah memastikan keberlanjutan di tengah meningkatnya regulasi global yang melarang produk tidak berkelanjutan.
“Kita perlu membuktikan bahwa kelapa sawit berkelanjutan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah,” ujarnya saat diwawancari pada Rabu (12/2/2025).
Dalam konferensi ini, WWF-Indonesia menyoroti pentingnya inklusivitas, terutama bagi petani kecil yang mengelola lebih dari 40% perkebunan kelapa sawit di Indonesia. WWF telah membantu 2.500 petani kecil, dengan 1.300 di antaranya telah memperoleh sertifikasi RSPO. Selain itu, aplikasi keterlacakan Hamurni dikembangkan untuk memastikan kelapa sawit yang diproduksi tidak berasal dari kawasan hutan.
Kolaborasi Riset dan Kebijakan untuk Masa Depan
WWF-Indonesia juga tengah bekerja sama dengan berbagai universitas, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Palangkaraya, dan Universitas Jambi, untuk mengembangkan riset terkait pertanian regeneratif dan rehabilitasi ekosistem hutan.
Beberapa studi yang tengah dilakukan meliputi:
- Analisis kontribusi industri kelapa sawit terhadap pencapaian target NDC Indonesia.
- Strategi peningkatan produktivitas hingga 5-6 ton/ha untuk mendukung program B50.
- Penilaian ekonomi layanan ekosistem dan keanekaragaman hayati di perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.
Selain riset, WWF-Indonesia juga terlibat dalam perumusan kebijakan keberlanjutan, termasuk dalam pengembangan skema Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).
Peluang Masa Depan
Dengan berkembangnya skema seperti kredit karbon dan kompensasi keanekaragaman hayati, industri kelapa sawit memiliki peluang strategis untuk mengadopsi konsep modal alam.
“Kelapa sawit tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga aset ekologi bernilai tinggi di pasar global,” kata Dewi.
Melalui ICOPE 2025, para pemangku kepentingan diundang untuk bersinergi dalam pengembangan teknologi dan kebijakan guna memastikan bahwa industri kelapa sawit Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (ads/bpn)













