
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ekonomi Bali menunjukkan pertumbuhan signifikan, dari minus 2,46% pada tahun 2021 menjadi positif 4,48% pada tahun 2022, dan meningkat lagi menjadi 5,71% pada tahun 2023. Pada kuartal I tahun 2024, ekonomi Bali tumbuh sebesar 5,98%, melampaui pertumbuhan nasional sebesar 5,11%.
Data ini menunjukkan pemulihan ekonomi Bali yang terus menguat pasca pandemi. Rilis dari BPS Provinsi Bali juga menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen pada sektor kesehatan sebesar 1,49% pada tahun 2024. Data ini penting bagi pelaku usaha farmasi untuk memahami perubahan perilaku pasar dan menyesuaikan strategi bisnis mereka.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Provinsi Bali mengadakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dengan tema ‘Inovasi dan Kolaborasi untuk Kesehatan Masyarakat’ pada Sabtu (6/7/2024), di ruang pertemuan UC Silver Batubulan. Acara tahunan ini menjadi forum komunikasi bagi pengurus GPFI untuk memperkuat komitmen, budaya organisasi, dan merancang langkah strategis dalam mendukung tugas dan peran organisasi.
Pada Rakerda kali ini, penekanan diberikan pada pentingnya inovasi dalam penyediaan dan distribusi produk farmasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat di Bali. Inovasi ini mencakup komitmen untuk terus maju, mengadopsi teknologi baru, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kesehatan yang semakin kompleks. Keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama juga sangat bergantung pada kerja sama erat antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat. Melalui kolaborasi ini, diharapkan tercipta ekosistem kesehatan yang berkelanjutan dan inklusif.
Kadek Sudika selaku Ketua Umum GPFI Provinsi Bali, dalam sambutannya menyatakan, dengan sinergi yang baik, kita bisa lebih efektif dalam menghadapi tantangan dan mengoptimalkan peluang di sektor farmasi.
“Dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh anggota GPFI Provinsi Bali sangat penting untuk menjawab tantangan tersebut,” sebutnya.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Kesehatan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bali, dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., menyampaikan paparan mengenai enam pilar Transformasi Kesehatan: Transformasi Layanan Primer, Transformasi Layanan Rujukan, Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan, Transformasi Pembiayaan Kesehatan, Transformasi SDM Kesehatan, dan Transformasi Teknologi Kesehatan.
Patra juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pengurus dan seluruh anggota GPFI untuk mendorong inovasi kesehatan, yang berdampak signifikan terhadap ketahanan kesehatan nasional. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah mencanangkan alternatif perekonomian Bali yang sesuai dengan potensi pariwisatanya, termasuk pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sanur dengan pembangunan Bali International Hospital.

Acara ini juga menghadirkan motivational session oleh Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr., yang dikenal sebagai Pak Oles. Pencipta produk Bokashi dan pemegang lisensi EM (effective microorganism) di Indonesia ini berbagi pandangan tentang budaya Bali yang telah diadopsi sebagai gaya hidup internasional, seperti Pranayama dalam pengaturan nafas untuk gaya hidup sehat.
Pak Oles juga menekankan pentingnya regenerasi dalam menghadapi tantangan dan memastikan keberlanjutan usaha di masa depan.
GPFI Bali terus berupaya mencapai tujuan dalam penyediaan dan distribusi produk farmasi yang berdaya saing dan berkelanjutan. Semangat gotong royong dan komitmen bersama sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan ini. (IGAR Widowati, Pengurus GPFI/bpn)












