BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pendidikan formal bukan satu-satunya jalan untuk anak belajar dan berkembang, terutama bagi mereka yang memiliki bakat di bidang non-akademik.
Hal ini menjadi motivasi bagi Yekti Wulan Cahyani untuk mendirikan sekolah informal yang fokus pada pengembangan potensi dan bakat anak. Sebagai Direktur dan Pendiri Homeschooling Primagama (HSPG) Bali atau Sekolah Rumah Primagama Bali, Wulan menegaskan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak.

“Maka itu saya memutuskan untuk mengembangkan sekolah informal yang berfokus pada keterampilan bakat, tanpa melupakan pendidikan akademik,” ujar Wulan saat ditemui di Homeschooling Primagama (HSPG) Bali pada jumat 7 Juni 2024.
Wulan menjelaskan bahwa dirinya banyak berdiskusi dengan Kak Seto, seorang tokoh pendidikan anak di Indonesia, tentang pentingnya menjaga keunikan setiap anak.
“Setiap anak itu unik dan keunikan anak itu harus tetap terjaga, tidak menggeneralisasi yang justru dapat membuat kompetensi mereka hilang,” tambahnya.
Berbasis Potensi dan Kurikulum Merdeka
HSPG Bali merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang setara dengan sekolah formal sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 129 Tahun 2014. Wulan menekankan pentingnya mencari potensi anak agar mereka dapat belajar dengan efektif sesuai dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang menerapkan pembelajaran terdiferensiasi.
“Jika ada anak yang kemampuannya hanya sedikit, tidak mungkin kita paksa semua bisa. Di situlah kami mencari potensi dan keunikan mereka dan kami bantu kembangkan sehingga menjadi kekuatan mereka,” jelas Wulan.

Fleksibilitas
Salah satu keunggulan HSPG Bali adalah fleksibilitas waktu belajar, yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan bakat mereka tanpa mengabaikan pelajaran akademik. Fleksibilitas ini juga memudahkan guru dalam mengajar.
“Platform Merdeka Mengajar membantu kami dalam berbagi ilmu dan kami juga telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Berbagi sejak dua tahun lalu. Kami juga menjadi pilot project untuk KOSP yang didukung oleh Kementerian melalui Puskurjar,” tambah Wulan.
Proyek Muatan Lokal dan Inklusivitas
HSPG Bali memiliki tiga proyek muatan lokal sebagai pilot project: mengajarkan peserta didik membuat lawar khas Bali yang sarat filosofi, mengangkat isu sampah melalui Eco Enzym, dan budaya hidroponik sebagai solusi keterbatasan lahan untuk bercocok tanam.
Selain itu, HSPG Bali juga mendukung inklusivitas dalam pendidikan dengan menerima siswa berkebutuhan khusus dan menerapkan Kurikulum Bina Diri.
“Kami menerima siswa berkebutuhan khusus dan menerapkan kurikulum khusus yang berfokus pada kemampuan anak untuk tahu dan mengerti mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Selanjutnya kami akan melakukan penilaian kemampuan sebelum akhirnya kami arahkan peserta didik berkebutuhan khusus ini ke kelas akademik,” jelas Wulan.

Prestasi dan Kepuasan Orang Tua
Gabriella Puri, salah satu orang tua siswa yang anaknya menempuh pendidikan di HSPG Bali dari SD hingga SMA, mengungkapkan rasa syukur dan kepuasan atas pendidikan yang diterima anaknya. Menurutnya, bakat dan minat anaknya dapat tersalurkan dengan baik dan banyak prestasi yang diraih.
“Pendidikan formal jalan, dan untuk prestasi bakat dan minat dapat berjalan dan gak ada beban,” terangnya.

“Tempat ini memang pas buat anak saya, selain seperti belajar di rumah sendiri, psikologi anak juga terjaga baik dan mutu lulusannya tidak kalah dengan sekolah formal,” tambah Gabriella.
Melalui pendekatan yang berfokus pada pengembangan bakat dan minat anak, HSPG Bali menunjukkan bahwa pendidikan informal dapat menjadi alternatif yang efektif dan setara dengan pendidikan formal, menciptakan anak-anak yang berjiwa merdeka dan siap berdaya di masyarakat. (ads/bpn)













