
BALIPORTALNEWS.COM, MANGUPURA – Seniman Bali, Putu PW Winata membuka pameran tunggal bertajuk ‘Jatiluwih, A Beauty Interrupted’ di Deus Ex Machina Temple of Enthusiasm, Badung, Bali, menampilkan 42 karya dari hasil dua tahun penelitian dan eksplorasi visual terhadap lanskap dan kehidupan budaya Jatiluwih.
Pameran yang digelar mulai 24 Januari – hingga 22 Februari tersebut memamerkan rangkaian lukisan berukuran kecil, sedang, dan besar, serta sebuah instalasi berbahan seng yang menjadi salah satu titik fokus pameran.
Putu Winata menyatakan, bahwa pameran ini merupakan wujud ‘kegelisahan’ dan refleksi atas kondisi Jatiluwih yakni situs yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Selama dua tahun risetnya, Putu Winata menjelajahi banyak tema, mulai dari panorama alam, ritual subak, kehidupan masyarakat lokal, hingga dampak pariwisata terhadap komunitas setempat.

“Judul ‘Jatiluwih, A Beauty Interrupted’ menggambarkan keindahan alam yang seolah-olah terpotong atau terganggu,” ujar Putu Winata, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, bahwa status Jatiluwih sebagai warisan dunia membuat kawasan tersebut ramai dikunjungi wisatawan dan mendorong berkembangnya industri pariwisata. Kondisi ini kemudian menimbulkan dilema antara upaya menjaga nilai budaya dan spiritual dengan kepentingan ekonomi pariwisata.
Isu sosial yang diangkat pameran ini juga merujuk pada protes petani pada Desember 2025, ketika sekelompok petani menyuarakan ketidakpuasannya terhadap pembagian manfaat dari geliat pariwisata. Instalasi seng-seng pada pameran disebut merefleksikan kegelisahan penduduk lokal dan perasaan tersisih dari mereka yang hidup di wilayah yang sering disebut ‘lumbung emas’ tersebut.
Dari sisi estetika, karya-karya lukis Putu Winata memperlihatkan eksplorasi unsur keramaian dan kepadatan yang dipadukan dengan ruang kosong.
“Ruang kosong sebagai sebuah metafora tentang kesunyian, kecemasan, dan kekhawatiran masyarakat lokal yang hidup di Jatiluwih,” jelas Putu Winata.
Lebih lanjut, Arif Bagus Prasetyo selaku Kurator mengatakan, bahwa secara keseluruhan, pameran ini menawarkan semacam ‘arsip emosional’ sekaligus pernyataan etis tentang kondisi Jatiluwih saat ini.
“Ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan benda mati untuk dikagumi semata, melainkan sistem hidup yang menuntut keadilan,” ungkap Arif Bagus Prasetyo.
Putu Winata juga mengungkapkan alasannya memilih Deus Ex Machina sebagai lokasi pameran di Bali yakni selain pasar pengunjungnya yang beragam, lokasi itu dinilai memiliki potensi untuk memperkenalkan karya kepada komunitas expat dan wisatawan internasional, termasuk pencinta seni dari berbagai negara.
Pameran ini diharapkan membuka ruang diskusi dan perenungan publik mengenai bagaimana menjaga kelestarian warisan budaya sekaligus memastikan keadilan bagi komunitas lokal yang menjadi bagian hidup dari situs tersebut.(dnd/bpn)












