BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR — Dalam upaya memperkuat wawasan kebangsaan dan kesadaran regional di kalangan pelajar, Departemen Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Indonesia (UI) bersama Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Udayana (HI FISIP UNUD) menggelar kegiatan literasi bertema ‘We Feeling ASEAN’ di SMA HighScope Indonesia Bali, Kabupaten Badung, Jumat (7/11).
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang juga didukung oleh ASEAN Study Center FISIP UI, dengan tujuan menanamkan semangat kebersamaan dan kesadaran global di kalangan pelajar. Kegiatan ini diikuti oleh 60 siswa SMA HighScope Indonesia Bali, jajaran pengajar, serta perwakilan dosen dan mahasiswa dari kedua universitas.
Kepala SMA HighScope Indonesia Bali, Ni Putu Yunita Kurniawati, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran tim akademik dari UI dan UNUD.
“Kami merasa sangat beruntung atas kedatangan tim edukasi ASEAN dari Universitas Udayana dan Universitas Indonesia. Kegiatan ini sangat memperkaya pengetahuan siswa kami tentang ASEAN dan menumbuhkan kesadaran untuk berkontribusi positif sebagai bagian dari masyarakat ASEAN,” ujarnya.
Ia berharap para siswa dapat menjadi generasi muda yang mampu memberikan dampak positif dalam menghadapi berbagai tantangan kawasan Asia Tenggara di masa depan.
Kegiatan diawali dengan sesi edukatif bertema ‘Know Your ASEAN’ yang dipandu oleh Ni Wayan Wahyuni, M.A., dosen HI FISIP UNUD. Dalam sesi ini, siswa diperkenalkan pada sejarah, struktur kelembagaan, dan peran ASEAN dalam komunitas internasional.
Sesi berlanjut dengan kegiatan fun learning dan permainan interaktif yang dipandu oleh Yuni R. Intarti, M.Si., dosen HI FISIP UI. Para siswa diajak menebak nama tempat ikonik, mengenal bendera dan kostum nasional negara-negara anggota ASEAN, hingga menebak founding fathers ASEAN.
Antusiasme siswa semakin meningkat saat mereka berpartisipasi dalam kuis interaktif, di mana peserta yang aktif mendapatkan souvenir eksklusif berupa kaos dan tumbler bertema ASEAN.
Sebagai puncak kegiatan, dilakukan peresmian Pojok Literasi ASEAN, sebuah sudut edukatif yang menyediakan koleksi buku, infografis, video, komik edukasi, hingga bendera negara-negara ASEAN.
Pojok Literasi ini diharapkan menjadi pusat referensi permanen di lingkungan sekolah untuk mengenal lebih dalam ASEAN secara menyenangkan dan berkelanjutan.
“Dengan adanya pojok ini, kami berharap semangat literasi ASEAN terus hidup di sekolah, bahkan setelah kegiatan berakhir,” ujar Wahyuni.
Sebagai fasilitator kegiatan, Yuni R. Intarti, M.Si., menekankan pentingnya menanamkan We Feeling ASEAN sejak usia sekolah dasar, bahkan taman kanak-kanak.
“Generasi muda harus menyadari bahwa Indonesia memiliki peran strategis di ASEAN, wilayah terluas, sumber daya alam terkaya, dan populasi terbesar. Namun, keunggulan ini belum tercermin secara optimal di tingkat regional. Dengan memperkuat kesadaran bersama (We Feeling ASEAN), generasi muda bisa menjadi jembatan kolaborasi yang kompetitif, toleran, dan berwawasan global,” jelasnya.
Ia menambahkan, semangat We Feeling ASEAN juga menjadi kunci membangun solidaritas antarwarga Asia Tenggara di tengah derasnya arus teknologi dan informasi yang dapat memicu konflik atau persaingan tidak sehat.
Perwakilan UNUD, Ni Wayan Wahyuni, M.A., menambahkan bahwa kegiatan ini adalah contoh nyata sinergi perguruan tinggi dan sekolah dalam membangun kesadaran kawasan.
“Kolaborasi antara HI UI dan HI UNUD ini sangat bermanfaat. Melalui literasi ASEAN, generasi muda Bali bisa lebih mengenal identitas regionalnya dan merasa menjadi bagian dari masyarakat ASEAN,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dari siswa HighScope.
“Hari ini sangat menyenangkan dan informatif. Kami jadi lebih tahu tentang ASEAN, negara-negara anggotanya, dan sejarahnya. It was really fun and very informative,” ujar salah satu siswa dengan penuh antusias.
Departemen HI FISIP UI berencana menjadikan program Literasi ASEAN ini sebagai program berkelanjutan, melalui diskusi rutin, kompetisi kreatif, dan kolaborasi lintas sektor berbasis pentahelix (kampus, sekolah, pemerintah, media, dan masyarakat).(r/bpn)













