Ular Piton
Nampak warga di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng sedang mengamankan ular jenis piton yang telah membuat resah. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Warga di tepian Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng dua Minggu terakhir dibuat resah dengan fenomena munculnya puluhan ular piton dengan ukuran jumbo. Ular-ular tersebut ditemukan warga merayap di sekitar ladang, warung, bahkan sampai jaring ikan ditepian danau.

Salah seorang warga setempat bernama Made Suartana menyebutkan selama dua Minggu terakhir sudah ada sekitar 28 ular piton yang ditemukan oleh warga. Bahkan dari total tersebut ada yang ditemukan masih dalam kondisi hidup dan ada pula tidak bernyawa dengan panjang rata-rata mencapai dua meter.

“Ular-ular itu sudah sempat memangsa peliharaan dan mengganggu warga yang biasa memancing di malam hari. Banyak warga kemudian takut keluar malam atau ke danau untuk mencari ikan,” jelasnya.

Baca Juga :  Bupati Sutjidra Fokus Benahi Sempadan Pantai Singaraja demi Kawasan Pesisir yang Lebih Tertata

Disisi lain, Kepala Desa Pancasari, I Wayan Komiarsa membenarkan terkait kemunculan ular piton dalam jumlah yang cukup banyak dengan ukuran besar. Bahkan fenomena itu disebutnya merupakan baru pertama kali terjadi di wilayahnya. Meski begitu hingga berita ini diturunkan pihaknya mengaku belum ada menerima laporan jika ular-ular yang muncul masuk ke pemukiman warga.

“Saya juga kaget, dari dulu didaerah ini belum pernah ada ular piton sebesar itu. Bisa jadi ada yang membuang atau melepas, entah dari hutan atau hasil penangkapan. Tapi belum ada masuk ke pemukiman dan baru di area sekitar danau. Kami akan segera berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali,” terangnya.

Menyikapi informasi tersebut, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bali, Sumarsono langsung membantah telah melepas liarkan ular piton di kawasan Danau Buyan. Bahkan ditegaskan dalam melangsungkan pelepasliaran satwa pihaknya tentu melakukan pemilihan lokasi seperti di hutan lindung kawasan Batukau di Kabupaten Tabanan.

Baca Juga :  ASN Baru Resmi Dilantik, Bupati Sutjidra Tekankan Etika dan Profesionalisme dalam Bertugas

“Kami kalau melepas satwa itu di cagar alam tepatnya di Batukau, di kawasan hutan desa Tabanan. Itu perbatasan dengan hutan lindung langsung, tidak berbatasan dengan kebun warga,” tegas dia.

Pihaknya juga menyampaikan keberadaan ular piton di kawasan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Dan belakangan populasinya meningkat akibat berkurangnya predator alami pemangsa piton seperti elang dan burung hantu. Disamping itu dirinya menilai ada pula faktor perubahan fungsi hutan di sekitar kawasan Danau Buyan juga ikut memicu terjadinya gangguan habitat sejumlah satwa.

Baca Juga :  Bupati Sutjidra Sebut Sampah sebagai Faktor Utama Penyebab Banjir di Baktiseraga

“Dari dulu (ular piton) memang ada, kemudian predator seperti elang tidak ada. Jadi ularnya semakin banyak. Untuk penanganan kita memerlukan data konkret, lokasinya termasuk jenis ularnya,” pungkas dia.(dar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News