
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Keterlibatan perempuan Bali dalam politik dan dunia profesional terus meningkat. Namun, Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali, Seniasih Giri Prasta, mengingatkan pentingnya keseimbangan peran sebagai perempuan dalam kehidupan rumah tangga.
Hal ini disampaikannya saat mengisi Seminar Pendidikan Politik bagi Perempuan Provinsi Bali yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bali secara luring dan daring, Kamis (17/7/2025), di Denpasar. Kegiatan ini melibatkan organisasi perempuan, sayap partai politik, pelajar SMA/SMK, mahasiswa, serta perwakilan OPD dan Kesbangpol kabupaten/kota.
“Boleh saja perempuan aktif berpolitik atau meniti karier tinggi, tapi jangan abaikan tanggung jawab sebagai ibu dan istri. Anak-anak tetap membutuhkan perhatian penuh dari ibunya, terutama di era digital yang penuh tantangan ini,” ungkap Seniasih, yang juga istri dari Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta.
Menurutnya, perempuan harus cerdas mengatur waktu, mampu membagi fokus antara aktivitas publik dan kehidupan keluarga, serta tidak larut dalam ambisi pribadi.
“Jika anak-anak diabaikan, dampaknya bisa fatal. Mereka bisa mencari pelarian ke hal-hal negatif, termasuk narkoba atau pergaulan bebas,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa untuk bisa berhasil di dunia politik, perempuan perlu membangun kepercayaan sosial sejak dini. Bukan sekadar tampil di media atau pencitraan sesaat, tetapi melalui aksi nyata dan keikhlasan membantu masyarakat.
Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali, Gede Suralaga, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran perempuan di ranah politik harus dilihat sebagai kekuatan utama, bukan sekadar pelengkap.
“Perempuan punya peran historis sebagai pelopor perubahan. Dari masa R.A. Kartini hingga era modern, mereka terbukti mampu menjadi motor penggerak kemajuan. Kini, saatnya perempuan Bali tampil sebagai penentu kebijakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, seminar ini menjadi momentum strategis untuk membekali kaum perempuan dengan wawasan politik dan membangun jejaring lintas sektor.

Anggota Komisi IV DPRD Bali, Putu Diah Pradnya Maharani, atau akrab disapa Gek Diah, turut mendorong para perempuan, termasuk generasi muda, agar berani tampil dan menyuarakan gagasan secara kritis.
“Jangan takut berpendapat. Kalau ingin perempuan Bali punya posisi strategis di parlemen, maka kita harus saling mendukung dan memahami isu-isu politik dengan baik,” kata politisi muda yang meraih suara tertinggi di Pemilu 2024 itu.
Gek Diah juga mengingatkan agar perempuan tidak mudah terpengaruh tren di media sosial. Menurutnya, popularitas di dunia maya belum tentu mencerminkan kebenaran.
“Kita harus menjadi pengguna medsos yang cerdas, bukan dikendalikan oleh algoritma,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua KPU Provinsi Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, menyampaikan komitmen pihaknya untuk meningkatkan partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam pemilu maupun pilkada. Ia menyebut target keterwakilan bukan lagi 30 persen, tetapi menuju kesetaraan 50 persen.
“Kami juga tengah mendorong pelaksanaan pemilu ramah lingkungan atau green election. Semua ini harus diiringi peningkatan kapasitas kader perempuan agar lebih kompetitif,” ujarnya.
Kegiatan ini, menurut Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Bali, I Made Artanegara, merupakan implementasi dari amanat Permendagri Nomor 36 Tahun 2010 mengenai fasilitasi pendidikan politik.
“Kesbangpol berperan menyusun program, memonitor, mengevaluasi, dan melaporkan hasil kegiatan pendidikan politik. Kami berharap adanya kolaborasi aktif dari KPU, Bawaslu, dan parpol untuk mendorong demokrasi yang lebih berkualitas,” jelasnya.
Dengan semangat kolaboratif dan dukungan semua pihak, perempuan Bali diharapkan dapat terus memperkuat perannya dalam politik tanpa meninggalkan akar budaya dan tanggung jawab sosialnya. (ads/bpn)












