
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025 kembali menjadi panggung megah bagi ekspresi budaya Pulau Dewata. Namun yang menjadi sorotan utama tahun ini bukan hanya parade megah atau pementasan klasik, melainkan kehadiran dan partisipasi luar biasa generasi muda Bali dalam menjaga, mengembangkan, dan meregenerasi seni budaya leluhur.
Dengan mengusung tema “Jana Kerthi: Guna Widya Sabdaning Kautaman”, yang berarti memuliakan manusia melalui ilmu pengetahuan dan seni luhur, PKB 2025 menegaskan peran penting pemuda dalam pewarisan nilai-nilai tradisi di era modern. Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus budaya luar, generasi muda Bali justru tampil sebagai garda terdepan dalam mempertahankan identitas budaya lokal melalui berbagai aksi nyata di panggung PKB.
Dari panggung utama di Art Centre Denpasar hingga arena-arena komunitas di berbagai kabupaten/kota, ribuan anak muda tampil dalam berbagai jenis seni pertunjukan. Mulai dari tabuh, tari tradisional, wayang, arja, hingga seni rupa dan kriya, para seniman muda ini menunjukkan bahwa kesenian Bali tetap relevan dan diminati lintas generasi.
Partisipasi generasi muda tak hanya hadir dari kalangan siswa dan mahasiswa seni, tapi juga dari komunitas-komunitas kreatif independen yang selama ini menjadi motor penggerak pelestarian budaya secara swadaya. Misalnya, Sanggar Seni Tunas Muda asal Karangasem menampilkan pertunjukan tari klasik yang dipadukan dengan narasi kontemporer tentang perubahan sosial, dan sukses memukau penonton.
Dalam pandangan Prof. Dr. I Wayan Dibia, salah satu tokoh penting dalam dunia seni pertunjukan Bali sekaligus kurator PKB, dinamika festival ini telah mengalami perubahan signifikan dari sisi konten, meskipun kerangka program pokoknya terkesan tetap.
Prof. Dibia menyoroti bahwa sejak memasuki dekade ketiga pelaksanaannya, PKB kerap dianggap monoton karena program utama seperti pawai, lomba, dan sejumlah pertunjukan lainnya cenderung sama dari tahun ke tahun.
Namun, ia menegaskan kehadiran anak muda dalam ajang PKB ini tentu memberikan warna tersendiri sehingga kesan anak muda tidak ikut dalam ajang Kesenian Bali terbantahkan.
“Kalau ingin melihat apa yang ada di PKB, jangan hanya melihat pola program pokoknya saja. Masuklah ke bagian-bagian pertunjukan yang ada. Anda akan terkejut melihat betapa kesenian-kesenian yang sejenis bisa menunjukkan perbedaannya sesuai dengan gaya daerahnya masing-masing,” ujar Prof. Dibia.

Keterlibatan generasi muda dalam PKB 2025 juga menjadi cerminan meningkatnya minat terhadap pendidikan seni. Data dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah pendaftar jurusan seni di berbagai jenjang pendidikan, baik formal maupun non-formal. Banyak sekolah dan sanggar kini membuka kelas khusus pelatihan tari, tabuh, dan seni rupa untuk anak-anak dan remaja.
Hal ini membuktikan bahwa regenerasi seniman tidak lagi menjadi kekhawatiran utama. Sebaliknya, anak-anak muda kini melihat seni bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai jalan karier dan ekspresi jati diri.
Pemerintah Provinsi Bali pun menunjukkan komitmen kuat dalam memberi ruang dan dukungan pada partisipasi pemuda. Penyelenggaraan PKB 2025 secara lebih inklusif ditunjukkan dengan adanya segmen khusus “Ajang Kreativitas Remaja”, di mana berbagai karya seni anak muda ditampilkan dan mendapat apresiasi setara dengan seniman senior.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana, menyebut bahwa pelibatan generasi muda merupakan kunci utama kesinambungan budaya Bali ke depan.
“Kami ingin memastikan bahwa seni dan budaya Bali tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara kreatif oleh anak-anak muda Bali. PKB adalah laboratorium besar tempat ide, inovasi, dan semangat mereka bertemu,” ujarnya.
Ditempat terpisah, Ketut Dea Sesarahayu, sebagai salah satu peserta yang pertama kali mengikuti PKB 2025 dari kabupaten Buleleng mengungkapkan kegembiraan dan rasa bangga dapat mengikuti PKB 2025 ini.
“Dengan ikut PKB ini, saya sendiri secara pribadi ikut melestarikan budaya Bali terutama Kabupaten Buleleng dan berharap kepada generasi muda lainnya untuk dapat berperan aktif dalam melestarikan Budaya Bali,”ungkap Dea.
Hal Senada diungkap oleh Komang Tri Eri Gunawan, dirinya tertarik mengikuti PKB karena disini merupakan ajang untuk menampilkan kesenian dari berbagai Kabupaten/Kota di bali.
“Perkembangan seni dan budaya bali tetap eksis, dan saya selaku anak muda ini merupakan ajang yang ditunggu tunggu dan kedepan seni dan budaya Bali tetap eksis dalam ajang PKB apalagi kecintaan orang Bali terhadap seni dan budaya menjadikan anak muda selalu hadir dalam PKB ini,”terang Eri.
Meski menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada. Di antaranya adalah pentingnya penguatan literasi budaya di kalangan pemuda agar inovasi tidak mengaburkan esensi. Selain itu, digitalisasi juga membawa tantangan baru, seperti budaya instan dan ketergantungan pada eksistensi media sosial dalam berkesenian.
Namun, semangat generasi muda Bali yang tampil dalam PKB 2025 menjadi bukti bahwa mereka bukan sekadar pewaris, tetapi juga pencipta masa depan budaya. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak muda ini bisa menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani warisan leluhur dengan dunia modern.
Pesta Kesenian Bali 2025 bukan hanya ajang pertunjukan, tetapi juga momentum afirmasi identitas budaya di tengah perubahan zaman. Melalui peran aktif generasi muda, seni Bali tidak hanya tetap hidup, tetapi juga tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan kultural yang dinamis dan adaptif.
Dalam tangan mereka, tradisi tak hanya dilestarikan, namun juga dimaknai ulang sebagai kekayaan yang terus relevan dan membanggakan. PKB 2025 pun menjadi bukti bahwa masa depan budaya Bali, aman dalam genggaman generasi penerusnya. (ads/bpn)












