
BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Bali bagian timur berdampak langsung pada aktivitas transportasi laut dan nelayan. Pada Selasa (29/7/2025), penyeberangan fast boat rute Padangbai menuju Pelabuhan Pemenang, Lombok, ditutup sementara karena gelombang tinggi dan angin kencang.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Padangbai, I Ketut Muliana, membenarkan penghentian sementara operasional fast boat.
“Untuk kapal fast boat sementara ditunda mulai siang tadi. Sedangkan untuk kapal ferry tetap operasi seperti biasa,” jelasnya saat dikonfirmasi.
Penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif demi keselamatan penumpang. Belum ada kepastian kapan operasional fast boat akan kembali normal, karena pihak berwenang masih memantau kondisi cuaca hingga gelombang laut dinyatakan aman untuk pelayaran cepat.
Cuaca buruk yang sama juga berdampak besar bagi para nelayan di pesisir timur Karangasem, khususnya di wilayah Ujung, Kecamatan Karangasem. Sebagian besar dari mereka memilih “lego jangkar” atau berhenti melaut untuk sementara karena ombak tinggi dan angin kencang yang membahayakan keselamatan.
Ketua Kelompok Nelayan Inti Samudra, Mahmud, menyampaikan bahwa kondisi cuaca ekstrem telah terjadi sejak tiga hari terakhir.
“Beberapa nelayan yang pakai speed boat masih berani melaut, tapi yang memakai jukung tidak berani karena sangat berbahaya. Tadi pagi ada yang melaut 4 orang, saya juga sempat mau turun tapi tidak jadi setelah melihat kondisi ombak,” ungkap pria 46 tahun tersebut.
Menurut Mahmud, gelombang tinggi seperti ini memang biasa terjadi menjelang bulan Agustus dan akan berlangsung hingga sekitar tiga bulan ke depan. Akibatnya, banyak nelayan kehilangan mata pencaharian sementara. Sebagian beralih menjadi petani, sementara yang lain memanfaatkan waktu ini untuk memperbaiki jaring dan peralatan tangkap lainnya.
Menariknya, saat nelayan terpaksa berhenti melaut, harga ikan justru mengalami kenaikan. Meski tidak dalam musim ikan, hasil tangkapan dari nelayan yang tetap melaut cukup untuk menutupi biaya operasional dan kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini menambah dilema bagi para nelayan yang harus memilih antara bertaruh keselamatan di tengah cuaca ekstrem atau menunggu situasi membaik tanpa pemasukan tetap.(st/bpn)












