BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Butus kini tampak lengang sejak ditutupnya TPA tersebut untuk penerimaan sampah campuran. Penutupan dilakukan karena kapasitas yang sudah tak lagi mampu menampung kiriman sampah alias overload.
Namun, di balik penutupan itu, ada pemandangan menarik. Gunung sampah yang telah ditimbun dengan pasir kini mulai tampak menghijau di beberapa sisi. Bukan karena tumbuhnya semak belukar, melainkan karena warga mulai menanami ketela rambat (sela) dan rumput gajah untuk pakan ternak.
“Itu ada warga yang nanam. Di sisi selatan belum ada sebulan, rumput gajah sudah tumbuh subur. Selain rumput, warga juga ada yang menanam sela,” ungkap Gede Ngurah Jana Arika, petugas jaga di TPA Butus, Selasa (27/5/2025).
Menurutnya, tanaman tersebut tumbuh cukup subur di atas urugan tanah sampah TPA yang menggunung. Bahkan sebelumnya, warga juga sudah memanen singkong dan pepaya dari area TPA.
“Biasa saja seperti singkong pada umumnya, begitu juga pepaya. Dimakan seperti biasa, rasanya juga sama,” jelas Arika saat ditanya soal konsumsi hasil panen dari lahan bekas sampah itu.
Saat ini, TPA Butus hanya menerima sampah residu, sementara sampah yang telah dipilah dialihkan ke mesin pembakaran tanpa asap (incinerator) yang berada di TPA Linggasana, yang letaknya bersebelahan dengan TPA Butus.(st/bpn)













