BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan kinerja positif Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali hingga September 2024. Stabilitas sektor ini didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terkendali. Data menunjukkan pertumbuhan signifikan pada penyaluran kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), serta aktivitas pasar modal.
Pertumbuhan Kredit dan Penghimpunan DPK
Penyaluran kredit di Bali mencapai Rp110,76 triliun, tumbuh 7,56 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,11 persen pada September 2023. Kredit investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 20,32 persen yoy, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian Bali.
“Sebanyak 53,14 persen kredit disalurkan ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dengan pertumbuhan 8,58 persen yoy. Berdasarkan sektor, penyaluran kredit didominasi oleh sektor konsumtif (34,02 persen) dan perdagangan besar serta eceran (29,33 persen),”ungkao Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu
Di sisi lain, penghimpunan DPK mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 15,30 persen yoy, mencapai Rp189,01 triliun. Kenaikan ini didorong oleh tabungan perseorangan yang tumbuh Rp13,88 triliun.
Rasio dan Risiko
Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 58,60 persen, menurun dibandingkan September 2023 (62,81 persen). Kualitas kredit tetap terjaga, meskipun Non-Performing Loan (NPL) gross sedikit meningkat menjadi 3,42 persen dari 3,21 persen tahun sebelumnya.
Rasio kredit bermasalah (Loan at Risk/LaR) turun signifikan menjadi 13,43 persen dibandingkan 22,84 persen pada September 2023, didukung oleh penyelesaian kredit restrukturisasi.
Pasar Modal dan Pembiayaan
Jumlah investor pasar modal di Bali tumbuh 20,46 persen yoy, mencapai 133.749 Single Investor Identification (SID). Transaksi saham mencapai Rp2,83 triliun, tumbuh 32,40 persen yoy, menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan kontraksi tahun sebelumnya.
Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mencapai Rp11,81 triliun, tumbuh 15,20 persen yoy, didominasi oleh sektor perdagangan besar, eceran, dan aktivitas penyewaan. Pembiayaan melalui fintech peer-to-peer lending juga melonjak 67,50 persen yoy, mencapai Rp1,42 triliun.
Edukasi dan Inklusi Keuangan
OJK Bali terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui 625 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 58.369 orang hingga Oktober 2024. Program edukasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas disabilitas, pelajar, dan finalis Jegeg Bagus Bali.
“Selain itu, OJK menyelenggarakan kompetisi LMSKU OJK Championship 2024 dengan peserta dari 45 sekolah di Bali, sebagai bagian dari dukungan terhadap Generasi Emas 2045,”imbuh Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu.
Dukungan UMKM dan Layanan Konsumen
Melalui program UMKM Bali Nadi Jayanti 2024, OJK memfasilitasi edukasi keuangan, pemasaran produk, dan pembiayaan bagi UMKM Bali. Layanan konsumen juga menjadi perhatian, dengan 400 pengaduan diterima hingga Oktober 2024, 394 di antaranya telah terselesaikan.
Dengan berbagai upaya ini, OJK optimis sektor jasa keuangan di Bali akan terus tumbuh secara berkelanjutan dan mendukung perekonomian daerah. (bpn)













