unud
Kampanye Membudayakan Anti-Fraud. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Inspektorat Jenderal Kemendikbudristek mengadakan Kampanye Membudayakan Anti-Fraud di Hotel Pullman Bali Legian Beach pada Rabu (12/7/2023).

Kampanye ini dilaksanakan secara bersamaan di empat kota, yaitu Denpasar, Makassar, Samarinda, dan Manado. Peserta kegiatan ini berasal dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Bali, Balai Bahasa Bali, Balai Guru Penggerak Provinsi Bali, UPBJJ Universitas Terbuka Bali, Universitas Udayana, Universitas Pendidikan Ganesha, Politeknik Negeri Bali, dan Institut Seni Indonesia Denpasar.

Acara ini menghadirkan narasumber dari Perwakilan BPKP, PPATK, Kejaksaan Tinggi, dan Auditor Itjen. Beberapa materi yang disampaikan meliputi praktik terbaik strategi Anti-Fraud di lingkungan pendidikan, sosialisasi anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme, penanganan pengaduan yang mengindikasikan tindak pidana korupsi oleh aparat penegak hukum, serta mekanisme pengaduan WBS dan sarana pengaduan lainnya.

Inspektur Investigasi Lindung Saut Maruli Sirait melaporkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya inspektorat investigasi untuk mengawal dan mengelola anggaran serta kegiatan pendidikan di Kemendikbudristek dan unit pelaksana teknis melalui upaya pencegahan.

Baca Juga :  Serangkaian Acara WWF Ke-10, Bupati Giri Prasta Hadiri Upacara Ritual Segara Kerthi

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menyosialisasikan program sistem manajemen anti penyuapan dan strategi anti-fraud kepada setiap unit kerja, sehingga setiap unit kerja dapat membuat perangkat pencegahan dan pengendalian terhadap perbuatan fraud. Kegiatan ini juga merupakan bentuk implementasi kerjasama antara Itjen Kemendikbudristek dengan KPK dalam membuka sarana dan pengaduan terkait perbuatan fraud oleh pegawai.

Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk kerjasama dengan PPATK untuk mencegah atau menghindarkan ASN dari tindak pidana pencucian uang dan aksi terorisme.

Baca Juga :  ACK Fried Chicken Luncurkan Program ACK Kids dan Gelar Lomba Menggambar di Kota Denpasar

Inspektur Jenderal Kemendikbudristek, Dr. Chatarina Muliana, menyampaikan dalam sambutannya bahwa fraud atau kecurangan adalah perbuatan ketidakjujuran yang disengaja untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang melanggar aturan dan dapat merugikan negara maupun orang lain.

Dampak dari perbuatan fraud ini dapat sangat besar dan memberikan efek buruk bagi masyarakat dan pemerintahan, meskipun tidak selalu terlihat sebagai kejahatan secara langsung.

Oleh karena itu, penting bagi para pengambil kebijakan dan pengelola anggaran untuk memahami arti dari perbuatan fraud dan membangun sistem pencegahan fraud. Sebagai APIP, Itjen Kemendikbudristek memiliki tugas untuk mengawal anggaran pendidikan yang berasal dari APBN, dan dalam upaya pengawalan tersebut, perlu dilakukan pencegahan fraud melalui sosialisasi, diseminasi, dan tindakan pengawasan lainnya.

Baca Juga :  OJK Dorong Peningkatan Literasi Keuangan Guru, Gelar Training of Trainers Bagi Para Guru SD/MI Secara Nasional

“Oleh karena itu, kegiatan Membudayakan Anti-Fraud merupakan salah satu bentuk sosialisasi yang akan membangun dan membentuk perilaku integritas bagi seluruh aparat pemerintah dalam melaksanakan tugasnya,” ujar Inspektur Jenderal. (unud.ac.id/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News