Pelatihan Membuat Banten
Tingkatkan Pemahaman Banten Sesuai Sastra, WHDI Kota Denpasar Kembali Gelar Pelatihan Membuat Banten. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Dalam upaya meningkatkan pemahaman makna upakara bagi masyarakat terutama bagi wanita Hindu tentang filosofi dan makna upakara banten sesuai sastra, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar secara berkelanjutan melaksanakan pelatihan Membuat Banten “Ayaban Tumpeng Pitu”.

Kali ini kegiatan dilaksanakan di Banjar Tainsiat Desa Dangin Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Jumat (24/3/2023). Acara ini dibuka secara resmi Wakil Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa.

Dalam kesempatan itu, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa mengatakan, pelatihan banten ini bukan untuk menggurui masyarakat tentang cara membuat banten. Namun kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terutama wanita Hindu terkait makna dan filosofi dari Banten.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga untuk berbagi ilmu tentang cara mejejaitan dan metanding sesuai dengan sastra agama Hindu.

Baca Juga :  Wali Kota Jaya Negara dan Wawali Arya Wibawa Terima Kunjungan Wali Kota Piraeus Yunani di Kota Denpasar

“Kami mengetahui ibu-ibu semua pasti sudah sering dan biasa dalam membuat banten namun dengan kegiatan ini kita bisa sharing dan berbagi ilmu,” ucap  Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa.

Dalam pelatihan ini akan dijelaskan makna dan filosofi Banten sesuai sastra agama oleh narasumber dari WHDI Kota Denpasar. Melalui pelatihan banten ini, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa berharap ibu-ibu bisa mandiri membuat banten minimal untuk diri sendiri maupun keluarga. Sehingga nanti kedepan bisa sendiri mempersiapkan banten. Mengingat wanita Hindu di Bali tidak terlepas dari ritual upacara. Bahkan dengan bisa membuat banten juga bisa membantu perekonomian keluarga.

Baca Juga :  Disdukcapil Kota Denpasar Gelar Sosialisasi Aktivasi IKD di Beberapa OPD

Salah Satu Narasumber Ni Wayan Sukerti mengatakan, pelatihan banten ini adalah untuk memberikan pemahamam tentang banten sesuai dengan sastra dan mencegah mencegah istilah “nak mula keto”.

Menurutnya, jika pemahaman tentang banten tidak diberikan maka Agama Hindu tidak akan berkembang. Untuk itu dalam pelatihan ini akan di jelaskan makna dari setiap banten, cara mejejaitan dan metanding yang benar.(bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News