KDRT
Cegah Stunting, Pemkot Denpasar Gelar Sosialisasi KDRT. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Guna mewujudkan generasi bebas stunting, cerdas dan tangguh, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu meningkatkan konvergensi layanan ditingkat keluarga pada sasaran-sasaran prioritas.

Untuk itu Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Denpasar bersinergi dengan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali mengadakan Sosialisasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga Yang Berimplikasi Pada Stunting, Jumat (31/3/2023) bertempat di Ruang Mahottama Gedung Sewaka Dharma Lumintang.

Kegiatan ini dibuka Sekda Kota Denpasar, IB. Alit Wiradana yang pada kesempatan ini juga menyerahkan bantuan sembako kepada 50 kelompok rentan yang ada di Denpasar secara simbolis. Tampak hadir dalam kesempatan ini Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua Gatriwara Kota Denpasar, Ny. Purnawati Ngurah Gede, Ketua Bidang II BKOW Prov Bali, Nyoman Hartini beserta unsur terkait lainnya.

Sekda Alit Wiradana saat membacakan sambutan Wali Kota Denpasar mengatakan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan kekerasan berbasis gender yang terjadi di ranah personal. Kekerasan ini banyak terjadi dalam hubungan hubungan pribadi, dimana pelakunya adalah orang yang dikenal baik dan dekat dengan korban. KDRT merupakan kejadian yang merusak sendi-sendi utama ketahanan keluarga dengan korban perempuan dan anak terbanyak.

Baca Juga :  Indosat Ooredoo Hutchison Memperluas Jangkauan dan Dukungan di Bali dan Nusa Tenggara

“Dahulu kasus KDRT masih dianggap tabu untuk dibicarakan karena dianggap ranah persoalan pribadi, namun kini KDRT menjadi urusan publik yang nyata dan telah diatur dalam undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga,” ungkapnya.

Faktor yang menyebabkan terjadinya KDRT begitu kompleks dan dapat dikatakan multi faktor, mulai dari faktor individu, faktor pasangan, faktor sosial budaya, dan faktor ekonomi. KDRT ini pun berdampak terhadap berbagai aspek siklus kehidupan dan tumbuh kembang anak dalam rumah tangga. Karena KDRT belakangan sering terjadi dan sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak.

Baca Juga :  Es Krim JOYDAY Jadi Official Global Partner AFC U17 Women’s Asian Cup

“Adapun salah satu dampak dari KDRT adalah implisitnya pada stunting. Peran keluarga terhadap pencegahan stunting sangat penting karena pencegahan stunting dilakukan pada masa emas yaitu 1.000 hari pertama kehidupan yang meliputi dari masa anak dalam kandungan,” paparnya.

Menurutnya, jika KDRT masih terjadi maka dampak tidak langsungnya adalah ada anak lahir stunting, karena KDRT pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu baik fisik maupun psikis. Sehingga penting ketahanan dan keharmonisan keluarga diciptakan untuk mewujudkan sebuah keluarga yang berkualitas.

Baca Juga :  Konferensi Internasional di Bali Membahas Regulasi Teknologi Keuangan

“Kami sangat mengapresiasi adanya sosialisasi ini yang melibatkan berbagai organisasi perempuan yang tergabung dalam GOW Kota Denpasar. Diharapkan melalui sosialisasi ini organisasi perempuan bisa ikut berpartisipasi memerangi KDRT baik sebagai pengawas dan pemantau, sebagai pejuang perbaikan, dan sebagai pemberi informasi kepada sesama masyarakat. Organisasi perempuan punya strategi potensial untuk membantu pemerintah dalam menekan angka kekerasan dan juga penurunan stunting. Dalam hal ini seluruh elemen masyarakat harus berkolaborasi dalam pencegahan dan pelafalan KDRT sebisa mungkin. Aksi pencegahan KDRT bisa kita mulai dari keluarga kita sendiri,” katanya. (bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News