Laura Adhisty
Laura Adhisty.

BALIPORTALNEWS.COMGlobalisasi dapat dikatakan sebagai percepatan atau penyempitan keterkaitan antara seluruh dunia, batas-batas teritorial maupun budaya antar bangsa hingga menjadi seolah-olah hilang. Beberapa orang berpendapat bahwa globalisasi dapat mendatangkan kematian negara berdaulat, karena globalisasi dapat melemahkan kemampuan pemerintah dalam mengendalikan perekonomian mereka dan masyarakat.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II muncul fenomena politik baru dalam politik global yaitu, kerjasama dan intergrasi negara di dalam suatu kawasan. Globalisasi menjadi salah satu alasan munculnya kerjasama kawasan. Kerjasama kawasan memberikan batas-batas negara untuk melakukan suatu tindakan atas nama kedaulatan. Di dalam menghadapi dampak globalisasi negara-negara mencoba menganalisa dampak-dampak yang muncul guna meminimalisir ancaman yang ada dengan melakukan kerjasama kawasan. Kerjasama kawasan dapat memberikan dampak yang positif bagi negara-negara yang tergabung dalam hal mengintensifkan kerjasama di dalam berbagai aspek. Khususnya dalam aspek ekonomi, kerjasama kawasan bisa melahirkan transaksi perdagangan antar negara anggota.

Baca Juga :  Rektor Serahkan Sertifikat Penghargaan kepada 19 Mahasiswa yang Mengikuti Program IISMA dan ICT

Globalisasi memiliki berbagai dampak pada perekonomian dunia. Dampak yang utama pastinya dengan munculnya kemiskinan dan kesenjangan global. Salah satu penyebab kemiskinan akibat globalisasi dunia adalah Structural Adjustment Program (SAPs) yang didesakkan oleh IMF kepada Bank Dunia. SAPs ini berkaitan dengan ideologi neoliberal, ideologi tersebut pada dasarnya menjadi faktor utama mengapa kesenjangan global meningkat tajam dan juga angka kemiskinan sangat besar. Alasannya karna basis ideologi neoliberal adalah kompetisi, dalam pasar neoliberal semua negara harus bersaing dalam medan perang sementara itu tidak semua partisipan memiliki kapasitas atau kekuatan yang sama. Hal ini mengakibatkan keuntungan hanya akan didapatkan oleh pemain yang kuat. Penyebab lainnya yaitu pembelaan atas pasar yang telah menjadikan peran negara dalam pembangunan menjadi termaginalkan, karena pada dasarnya neoliberalism didefinisikan sebagai agenda peraturan masyarakat yang didasari kepada dominasi homo economicus pada dalam diri manusia sehingga pada prakteknya terjadi dominasi sektor finansial atas sektor riil dan tata ekonomi politik. Maka dari itu, konsekuensi dari faham ini membuat negara tidak diperbolehkan campur tangan dalam perekonomian dikarenakan pasar merupakan satu-satunya mekaniskme yang paling baik dalam mendorong produksi, distribusi dan juga konsumsi, dalam artian pasarlah mekanisme yang paling efektif untuk mendistribusikan sumber-sumber ekonomi.

Akibat yang ditimbulkan ideologi neoliberalism secara jelas akan membangkrutkan banyak usaha kecil dan menengah khususnya di negara berkembang yang berhujung kepada lahirnya pengangguran. Karena dengan hilangnya perusahaan-perusahaan kecil maka perusahaan-perusahaan asing yang menjadi kompetitor akan membesar, hingga menyebabkan negara-negara berkembang secara sistematis memangkas buruh guna mengundang investasi, karena buruh yang murah selalu digunakan sebagai keunggulan yang kompetitif dan dapat menarik investasi asing. Agenda neoliberalism sendiri pada akhirnya hanya akan mematikan negara berkembang. Kecenderungan di dalam politik dunia pada akhirnya melemahkan negara, baik karna alasan normatif ataupun ekonomi. Oleh karena itu, dengan adanya arus globalisasi banyak negara kuat menindas negara berkembang atau miskin.

Baca Juga :  Bantu Mahasiswa Perantauan Selama Pandemi, UGM Buka Call Center Posko Logistik 

Ancaman terhadap nasionalisme negara bangsa ini tidak cukup hanya dari pelaku politik transnasional saja, kebebasan individu yang ditawarkan globalisasi juga dapat menjadi ancaman nasionalisme. Sebagai contoh di Indonesia, pada tingkat ekonomi terjadi pembukaan pasar-pasar asing dan para politisi juga lebih senang menjamu kapitalis mancanegara daripada konstituen dalam negerinya. Ditengah himpitan arus globalisasi dan maraknya kebebasan individu, semangat nasionalisme harusnya dapat lebih ditingkatkan guna mempertahankan kesatuan bangsa kita, khusunya bangsa Indonesia.

Referensi :

Baca Juga :  Mahasiswa ITB STIKOM Bali Tampilkan Kolosal Labuh Gentuh di PKB Ke-44

(Laura Adhisty, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini