Metaverse
Metaverse. Sumber Foto : freepik.com

BALIPORTALNEWS.COM, UBUD – Pada sesi terakhir hari kedua World Marketing Forum 2022 konsep ‘Marketing 6.0’ akhirnya secara resmi diumumkan oleh Iwan Setiawan selaku CEO Marketeers. Konsep ini adalah puncak buah pemikiran Philip Kotler yang juga dikenal sebagai The Father of Modern Marketing, Hermawan Kartajaya selaku Founder & Chairman M Corp, serta Iwan Setiawan CEO Marketeers.

Dalam kesempatannya, Iwan membicarakan sekaligus mengumumkan versi terbaru konsep ‘Marketing,’ yakni ‘Marketing 6.0’ yang didasari oleh kelahiran Metaverse.

Iwan menjelaskan evolusi saluran pemasaran terdiri dari tiga fase, Multichannel marketing, Omnichannel marketing, dan kemudian Meta-marketing, evolusi Meta-marketing dikemas dalam offline IN online.

“Versi Metaverse kami terdiri dari empat hal diantaranya 1. IoT sebagai data capturing device, 2. AI sebagai data-analyzing device, 3. Blockchain sebagai data-storing device, dan 4. VR sebagai human-machine interface device,” jelas Iwan.

Bagi industri pemasaran, Iwan menyatakan, brand di Metaverse dapat memberikan petualangan, keuntungan, dan kenyamanan yang segar bagi semua orang. Bicara soal Metaverse, tak lepas dari  situs perdagangan (NFT) yang juga akan berfungsi sebagai cara baru untuk membuat kontrak, yang dilengkapi dengan pembayaran melalui mata uang kripto. Selain itu, Virtual Identity dan Digital Content juga saat ini diakui sebagai pengalaman menarik yang dapat digunakan brand dalam meningkatkan approach humanisnya ke pelanggan.

“Buku ini masih pada perkembangan tahap awal, namun saat Marketing 6.0 diterbitkan, kita mungkin tidak akan melihat Metaverse seperti yang kita bayangkan sekarang.  Brand dapat ‘bermain’ di  Metaverse  hanya  dengan  mengambil  keuntungan dari pelanggan yang ingin melarikan diri dari dunia nyata melalui diri virtual mereka, mendapatkan uang (didukung oleh blockchain), atau mereka yang hanya mencari kenyamanan,” ucap Iwan dapa akhir sesi tersebut.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Tekankan Pentingnya Keselarasan Aturan Hukum dan Kearifan Lokal

Sekilas menilik perkembangan konsep ‘Marketing,’ Marketing 1.0 di masa lampau merupakan paradigma pemasaran yang hanya mengutamakan fitur produk bisnis (product-driven). Marketing 2.0 mengalihkan fokus pemasaran kepada aspirasi hingga selera konsumen (consumer-centric). Marketing 3.0 secara komprehensif meliputi kebutuhan masyarakat bukan hanya sebagai konsumen akan tetapi juga kesejahteraan komunitas dan kelestarian alam yang menaunginya. Tiga versi ‘Marketing’ ini menunjukkan periode berlakunya paradigma pemasaran tradisional.

Sejalan berkembangnya teknologi informasi yang ditandai secara mencolok oleh pemakaian massal media sosial, versi Marketing 4.0-pun muncul. Semakin maraknya pemakaian internet bagi segala aktivitas masyarakat, semakin gencar perhatian pegiat pemasar dalam menyusuri jejak-jejak digital para konsumen.

Baca Juga :  Surya Adnyani Mahayastra Melepas Bantuan untuk Posyandu

Dalam konteks ini, fitur CX (Customer Experience) pada akhirnya dicetuskan. Iwan Setiawan, CEO Marketeers menjelaskan bahwa fitur ini memuat lima elemen, ada lima, namanya 5A yang terdiri dari: Aware, Appeal, Ask, Act, Advocate. Dengan demikian, fitur paradigma ini lebih detail dalam memperhatikan kebutuhan konsumen.

Meskipun versi 4.0 telah meliputi interaksi virtual sebagai medan pemasaran baru, pembaruan paradigma masih harus dicanangkan mengingat pesatnya pemutakhiran berbagai gadget yang ada.

Diresmikan pada tahun 2020, Marketing 5.0 memadukan fitur CX (Customer Experience) dengan Next Tech. Ragam terobosan dalam teknologi seperti AI (Artificial Intelligence), Otomatisasi Robotika, IOT (Internet of Things) menyokong versi 5.0 sebagai acuan berpikir dan bertindak para pegiat pemasaran untuk menunjang pertumbuhan bisnis.

Baca Juga :  Bangun Karakter Pendidik untuk Menghasilkan Generasi Hebat

Peran brand kedepannya pada Marketing 6.0 adalah menyediakan koleksi yang menghibur konsumen ketika mereka ingin melarikan diri, menyediakan gamifikasi untuk menganjurkan hidup sehat seperti M2E (Move-to-Earn), dan toko dimana konsumen dapat merasakan produk sebagaimana ada secara fisik. Pengunjung yang tertarik untuk mendengarkan elaborasi lebih lengkap akan Metaverse dapat hadir pada ajang World Marketing Forum 2023 di Thailand.

Sakchai Ruangkittikul selaku Managing Partner PRAssociates menambahkan bahwa World Marketing Forum ketiga akan berkutat soal ‘Bergerak Menuju New Marketverse’.

“The New Marketverse adalah tempat yang melampaui apa yang Anda ketahui hari ini. Tahun depan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi karena saat ini, semuanya tidak dapat diprediksi,” ujar Sakchai Ruangkittikul.

Tak lepas dari sudut pandang kemanusiaan atau humanity, Sakchai menutup helat WMF 2022 dengan sebuah pesan. “Jangan lupa lakukan pemasaran untuk kemanusiaan.  Anda harus bersikap dan mengarahkan pemasaran Anda menuju kebaikan, baik kepada umat manusia dan dunia,” kata Sakchai Ruangkittikul.(bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini