pembelajaran
Siswa antusias mengikuti pembelajaran. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM Pembelajaran merupakan interaksi yang intensif antara siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Multi interaksi, antara siswa ke guru, guru ke siswa, ataupun siswa ke siswa. Dengan pola demikian maka pembelajaran tentu akan berjalan bermakna. Dikatakan bermakna karena siswa terlibat sebagai subjek dalam pembelajaran, bukan lagi sebagai objek yang hanya menerima transfer ilmu pengetahuan dari guru.

Kenyataannya dalam proses pembelajaran belumlah optimal memberikan pelayanan kepada siswa. Ketidak optimalan dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh pembelajaran yang monoton, guru cenderung mendominasi, atau penggunaan metode yang kurang tepat. Kesenjangan ini tentu menyebabkan siswa kurang semangat dalam belajar dan muaranya ke rendahnya motivasi belajar siswa.

Motivasi merupakan salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran. Motivasi secara teori ada yang bersifat internal dan eksternal. Untuk faktor internal tentu sulit bisa dikontrol atau dikendalikan. Karena sifatnya bawaan dan dipengaruhi oleh faktor keluarga. Dalam hal ini motivasi yang bisa dikembangkan dengan memberikan perlakuan tentunya motivasi eksternal.

Pelaksanaan pembelajaran selama ini  kurang optimal, karena terbatasnya ruang dan waktu guru dalam membimbing peserta didik selama proses belajar. Terlebih hasil eksplorasi penyebab masalah menemukan beberapa hal yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa. Hal ini berdampak secara simultan nanti pada hasil belajar siswa.

Baca Juga :  Apa yang Terjadi Jika Model Pembelajaran Problem Based Learning Diterapkan pada Anak Usia SD ?

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa berdasarkan hasil eksplorasi penyebab masalah yaitu: pengaruh teman sebaya, sikap dari guru, suasana kelas pada saat belajar, pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton dan satu arah, minim interaksi multi arah, proses pembelajaran cenderung bergantung pada buku teks.

Meningkatkan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan menerapkan model problem based learning, mengoptimalkan media pembelajaran berupa video pembelajaran dan power point, serta menggunakan LKPD dalam memandu pembelajaran. Problem based learning adalah salah satu pembelajaran inovatif yang menekankan aktivitas belajar siswa dengan memecahkan permasalahan kontekstual yang sifatnya realistis serta bermakna.

Pembelajaran ini memberikan ruang kepada siswa untuk berdiskusi, berkolaborasi, memecahkan permasalahan, dan saling mendukung untuk keberhasilan menyelesaikan suatu permasalahan. Bahkan secara spesifik Problem based learning mengarahkan pada pembelajaran student center sehingga motivasi belajar siswa pada saat proses pembelajaran menjadi meningkat. Selain itu menyebabkan siswa lebih aktif, cekatan, membantu siswa memahami konsep, dan mengembangkan keterampilan sosial.

Penerapan Problem based learning dalam hal ini didukung oleh media power point dan LKPD. Dengan menggunakan power point pembelajaran berjalan sistematis dan terdapat unsur visual yang menyebabkan pembelajaran berjalan menarik dan mengarahkan siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Dengan menggunakan LKPD Pembelajaran yang diterapkan juga berpusat pada siswa dengan berbasis aktivitas dari LKPD yang diberikan guru. LKPD menuntun aktivitas pembelajaran siswa menjadi tearah karena ada rambu-rambu kegiatan yang harus diikiuti siswa.

pembelajaran
Siswa menyajikan hasil karya. Sumber Foto : Istimewa

Terdapat tantangan yang ditemukan dalam melakukan praktik baik menerapkan problem based learning terintegrasi dengan power point, video pembelajaran, dan LKPD untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya pada hasil tapi proses yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Apa yang Terjadi Jika Model Pembelajaran Problem Based Learning Diterapkan pada Anak Usia SD ?

Jika dilihat dari pelaksanaan dua kali siklus dan berkaca pada hasil evaluasi terdapat 5% siswa yang belum tuntas. Kajian secara persentase hasil ketidaktuntasan memang rendah. Namun, hal ini tidak dapat diabaikan dan sebagai acuan dalam melakukan formulasi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.

Terkait dengan menerapkan problem based learning terintegrasi dengan power point dan video pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yang dilakukan respon rekan-rekan sejawat antusias dan tertarik ingin melakukan praktik baik serupa.

Bahkan dalam hal ini Kepala Sekolah akan mewadahi guru-guru untuk melakukan diskusi berbagi praktik baik selama satu minggu sekali yang jatuh pada hari Sabtu dengan nama kegiatan 14 dangri berbagi. Respon yang positif dari ekosistem sekolah tentu merupakan langkah awal yang baik untuk terus melakukan inovasi pembelajaran kedepannya. (Ida I Dewa Ayu Ratih Widnyani, Guru SD Negeri 14 Dangin Puri)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini