Problem Based Learning
Apa yang Terjadi Jika Model Pembelajaran Problem Based Learning Diterapkan pada Anak Usia SD ?. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM Guru dan peserta didik pasti selalu mengharapkan dalam setiap proses pembelajaran dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Guru mengharapkan agar peserta didik dapat memahami setiap materi yang disajikan, peserta didikpun mengharapkan agar guru dapat menyampaikan, menjelaskan dan memfasilitasi pelajaran dengan baik, salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang menekankan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan berdasarkan sebuah permasalahan. PBL merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Pada proses pembelajaran yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim (kelompok) untuk memecahkan dan mencari solusi terhadap suatu masalah. Peserta didik akan berperan aktif dan terlibat langsung dalam pembelajaran di sekolah.

Melihat perkembangan kognitif anak SD pada usia kurang lebih 6 hingga 12 tahun ditandai dengan perkembangan pemikiran yang terorganisir dan rasional. Piaget menyebut tahap ini sebagai tahap operasional konkret, pada tahap ini bisa menjadi kunci titik balik dalam perkembangan kognitif peserta didik karena menandai awal pemikiran logis. Peserta didik akan lebih sering menggunakan pemikiran logis, tapi hanya bisa menerapkan logika pada objek fisik, benda nyata / konkret dan permasalahan riil.

Dalam proses pendidikan, karakteristik peserta didik di SD merupakan unsur pokok (subkompetensi) penting dalam kompetensi pedagonis. Menguasai karakteristik peserta didik menjadi hal mutlak bagi guru, bahkan penguasaan karakteristik menjadi salah satu indikator profesional atau tidaknya seorang guru. Karakteristik peserta didik SD berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis sebagai seorang guru yaitu:

  1. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain, kecenderungan meremehkan anak lain.
  2. Jika tidak bisa menyelesaikan suatu hal, maka dia akan berusaha dan bertanya untuk mendapatkan solusi.
  3. Tidak bisa diam dan ingin terlibat langsung dalam setiap kegiatan pembelajaran.
  4. Cepat bosan jika pembelajaran berpusat pada guru dan guru hanya berceramah saja.
  5. Adanya minat terhadap kehidupan sehari-hari yang konkret.
  6. Realistis dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
Baca Juga :  Tahun ini, 40 SD dan SMP di Jembrana Direhab Melalui DAK

Lantas apa yang terjadi jika PBL diterapkan pada pembelajaran anak SD?  Apakah terlalu sulit? atau mungkin tidak cocok? Pengalaman yang paling penulis ingat adalah ketika menerapkan PBL pada peserta didik kelas III SD pada materi Tema 3 subtema 2 tentang wujud benda. Peserta didik menunjukkan antusiasme yang tinggi dan respon positif yang sangat baik selama kegiatan berlangsung.

Problem Based Learning
I Wayan Weda Gustana P, S.Pd., Guru Kelas II SDN 2 Kerta. Sumber Foto : Istimewa

Oleh sebab itu, informasi dan hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik akan melekat dalam jangka waktu yang lama dalam ingatannya. Peserta didik sangat senang dan sangat memaknai pembelajaran yang mereka lakukan, karena banyak indera mereka yang terlibat selama pembelajaran menggunakan PBL. Secara signifikan hal tersebut memengaruhi hasil belajar peserta didik, dibuktikan dengan hasil tes evaluasi yang diberikan semua peserta didik memperoleh hasil diatas batas standar yang ditentukan.

Baca Juga :  Dimulai Serentak, Ini Harapan Kadisdikpora Soal MPLS di Buleleng

Hasil yang penulis peroleh tersebut juga didukung begitu banyak hasil penelitian yang dijumpai di Google Schoolar menunjukkan hasil pengimplementasian PBL pada anak SD memiliki dampak positif yang signifikan. Penulis sendiri sudah berulang kali menerapkan PBL dalam pembelajaran dan memang hasilnya terlihat jauh lebih baik daripada menerapkan gaya belajar klasik yang masih berpusat pada guru. Anak SD senang diajak belajar di luar kelas, senang dan lebih memaknai pembelajaran menggunakan benda konkret, senang diajak mencari solusi dari suatu masalah, senang dilibatkan langsung dalam pembelajaran dan sangat senang jika diajak belajar sambil bermain. Jadi, untuk guru SD di seluruh Indonesia jangan ragu lagi menerapkan model pembelajaran PBL pada anak SD.(I Wayan Weda Gustana P, S.Pd., Guru Kelas II SDN 2 Kerta)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini