bitcoin
Perbedaan Bitcoin dan Ethereum. sumber foto : freepik.com

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Dari sekian banyak jenis mata uang kripto yang beredar, Ethereum dan Bitcoin adalah dua aset paling populer yang menjadi favorit para investor. Meki sudah populer, beberapa orang terutama investor baru mungkin masih belum mengetahui perbedaan Bitcoin dan Ethereum.

Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini kita akan mengulas seputar perbedaan antara kedua mata uang kripto tersebut. Simak penjelasannya sampai habis, ya!

Pengertian Bitcoin dan Ethereum

Sebelum membahas perbedaan Bitcoin dan Ethereum, ada baiknya kita memahami terlebih dulu pengertian keduanya. Pengertian Bitcoin adalah mata uang digital terdesentralisasi yang diciptakan oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto pada tahun 2009.

Mata uang digital ini menawarkan biaya transaksi lebih rendah dibandingkan pembayaran online sistem konvensional. Berbeda dengan mata uang yang dikeluarkan oleh bank sentral, Bitcoin adalah mata uang digital yang dioperasikan oleh otoritas terdesentralisasi. Karena bentuknya digital, maka Bitcoin tidak memiliki wujud fisik seperti mata uang resmi negara.

Kemunculan Bitcoin ini akhirnya mendorong inventor lain menciptakan jenis mata uang kripto lebih banyak, salah satunya Ethereum.  Ethereum adalah platform perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan program komputer bernama smart contract.

Smart contract pada Ethereum memungkinkan developer untuk melakukan eksperimen dengan kode mereka sendiri sehingga dibuatlah aplikasi yang disebut sebagai DApps atau Decentralized Applications.

Perbedaan Bitcoin dan Ethereum

Pada dasarnya, Ethereum dan Bitcoin merupakan sama-sama aset kripto yang terdesentralisasi, di mana keduanya tidak dikeluarkan maupun diatur oleh bank sentral. Akan tetapi, terdapat perbedaan antara keduanya. Perbedaan Ethereum dan Bitcoin tersebut yakni sebagai berikut.

1. Tujuan Diciptakannya

Perbedaan Bitcoin dan Ethereum yang pertama adalah dilihat dari tujuan diciptakannya. Pada saat pertama dirilis, Bitcoin diciptakan sebagai alternatif alat tukar mata uang fiat seperti dolar, rupiah, dan sebagainya.

Sehingga bisa dikatakan bahwa sedari awal Bitcoin memang ditujukan untuk aktivitas jual-beli dan memiliki nilai khusus. Sedangkan tujuan diciptakannya Ethereum adalah sebagai platform guna mendukung aplikasi terdesentralisasi.  Ethereum kini menjadi dasar berbagai aplikasi blockchain yang lebih luas, seperti smart contract, decentralized finance (DeFi), hingga NFT.

Baca Juga :  CEO Indodax Beri Tips Investasi Agar Tidak Boros Kelola Uang THR

Beda Bitcoin dan Ethereum adalah Bitcoin merupakan cryptocurrency pertama dan sistem transfer uang yang dibangun dan didukung oleh teknologi Blockchain. Sementara Ethereum mengambil teknologi di belakang Bitcoin dan secara substansial memperluas kemampuannya.

Seluruh sistemnya didukung oleh sistem global yang disebut ‘node’. Node adalah perangkat atau program yang berkomunikasi dengan jaringan Ethereum. Ethereum diciptakan dari penerapan teknologi Blockchain yang memiliki fungsi smart contracts (kontrak cerdas/ scripting).

Hal ini bisa memberikan fungsi mesin virtual “Turing-Complete” yang terdesentralisasi dan juga memiliki EVM (Ethereum Virtual Machine) yang dapat mengeksekusi skrip menggunakan jaringan internasional yang tersebar untuk publik.

Sistem seperti ini membutuhkan mata uang guna membayar sumber daya komputasi yang diperlukan untuk menjalankan aplikasi atau program, di sinilah ‘Ether’ berperan. Ether adalah aset digital yang tidak memerlukan pihak ketiga untuk melakukan proses pembayaran.

Namun, ia tidak hanya beroperasi sebagai mata uang digital, tetapi juga bertindak sebagai ‘bahan bakar’ untuk aplikasi yang didesentralisasi dalam jaringan.  Jika pengguna ingin mengubah sesuatu di salah satu aplikasi dalam Ethereum, mereka harus membayar biaya transaksi sehingga jaringan dapat memproses perubahan.

Biaya transaksi secara otomatis dihitung berdasarkan berapa banyak ‘gas’ yang diperlukan dari suatu tindakan. Jumlah ‘bahan bakar’ yang dibutuhkan dihitung berdasarkan berapa banyak daya komputasi yang diperlukan dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk berjalan. Ethereum pertama kali dikenalkan ke publik pada tahun 2014 oleh Vitalik Buterin.

Ia menjadi pengembang Bitcoin mulai dari tahun 2011 sampai tahun 2013, dengan kecerdasan dan pengalamannya menganalisa Bitcoin sebagai mata uang kripto pertama. Vitalik menyadari bahwa seharusnya Bitcoin bisa digunakan untuk tujuan yang lebih besar.

Kemudian bersama beberapa orang rekannya ia mulai membuat rancangan dan Whitepaper tentang proyeknya tersebut pada akhir tahun 2013. Pada tahun 2014, Ethereum dirilis untuk memenuhi kebutuhan transaksi Cross-Chain dan Cross-Platform dengan tujuan utamanya menghancurkan batas-batas transaksi finansial yang ada saat ini.

Baca Juga :  Monumen ‘Sita Kepandung’ Akan Dibangun di Simpang Enam Kota Denpasar, Pembiayaan Gunakan CSR dengan Mekanisme NFT

2. Jumlah dan Harga

Perbedaan Bitcoin dan Ethereum lainnya ialah dari segi jumlahnya. Di dunia hanya terdapat 21 juta Bitcoin, sementara jumlah ETH tidak terbatas, namun setiap tahunnya hanya 18 juta Ether yang dirilis dan dapat diperjualbelikan.

Perbedaan ini bisa berpengaruh pada harga Bitcoin dan Ethereum. Bitcoin sering dijuluki sebagai ‘emas digital’ lantaran memiliki market cap terbesar, merupakan mata uang kripto pertama, dan jumlahnya terbatas.

Keterbatasan jumlah Bitcoin ini menjadi kemungkinan faktor mengapa harganya terus naik, sebab nantinya Bitcoin berpotensi semakin langka. Pada Juli 2010 saat pertama kali diperjualbelikan, 1 BTC masih bernilai sekitar US$ 0,0008. Pada April 2022, nilainya sudah menyentuh angka US$ 46.000.

Sementara jumlah ETH yang tak terbatas, fungsinya yang beragam, dan memiliki market cap terbesar kedua setelah Bitcoin membuatnya disebut sebagai ‘perak digital’. Fleksibilitas Ethereum menjadikan mata uang kripto satu ini semakin dilirik para investor. Pada Agustus 2014, harga 1 ETH bernilai US$ 0,31 per koin. Sedangkan pada April 2022, harganya berada di kisaran US$ 3.400 per koin.

Itu dia sejumlah perbedaan Bitcoin dan Ethereum yang perlu Anda pahami. Kalau Kamu sendiri pilih mana? Baik itu Bitcoin, Ethereum, maupun aset lainnya, hal terpenting adalah selalu pertimbangkan dengan matang sebelum berinvestasi, ya!

Selain itu, pastikan Anda menggunakan platform jual beli aset kripto yang resmi dan telah terdaftar di BAPPEPTI serta KOMINFO seperti Pintu. Pintu merupakan aplikasi trading Cryptocurrency yang menyediakan berbagai fitur menarik yang dapat menguntungkan Anda. Berikut merupakan fitur-fitur yang ada di Pintu:

1. Harga Cryptocurrency

Anda dapat memantau harga Bitcoin dan aset crypto lainnya dalam satuan rupiah. Aset crypto juga dibedakan dalam beberapa kategori.

Baca Juga :  Pemkot Denpasar Kembangkan Teknologi Blockchain dan NFT

2. Fitur Earn Pintu

Earn merupakan fitur aplikasi Pintu yang dapat digunakan untuk menyimpan aset crypto dan memperoleh bunga tanpa mengunci dana Anda. Bunga diberikan setiap jam dan saldo dapat anda tarik kapan saja. Top up dan penarikan saldo Earn tidak dikenakan biaya, sehingga Anda dapat menikmati keuntungan secara maksimal. Bunga dibayarkan langsung ke saldo Earn Anda secara compounding dan menjadi nilai pokok untuk perhitungan bunga jam berikutnya.

Aset crypto yang terdapat pada fitur Earn adalah Bitcoin, Ethereum, , dan Dogecoin. Aset Bitcoin dan Ethereum diestimasikan menghasilkan bunga sebesar 4% per tahun (APY), . Bunga tersebut bukan merupakan bunga tetap, namun merupakan bunga rata-rata atau estimasi.

3. Biaya Transaksi

Biaya trading atau jual beli pada aplikasi Pintu adalah sebesar Rp. 0 atau gratis. Biaya trading yang gratis membebaskan kita semua untuk dapat melakukan transaksi jual maupun beli. Anda juga dapat mengirim aset crypto ke sesama akun Pintu secara gratis dan instan. Namun, apabila Anda ingin mengirim aset crypto ke luar Pintu, akan dikenakan biaya blockchain.

Biaya tersebut dibayarkan kepada miner blockchain dan bukan kepada Pintu, besar biaya juga berbeda untuk setiap jaringan dan dapat berubah menurut kepadatan jaringan. Selain itu, terdapat biaya tarik Rupiah sebesar Rp. 4.500 flat ke semua bank.

4. Over-the-counter (OTC)

Layanan Over-the-counter (OTC) ditujukan untuk institusi atau individu yang melakukan transaksi dalam jumlah besar. Minimal transaksi di OTC pada aplikasi Pintu adalah sebesar Rp1,5 miliar/Transaksi.

Dengan OTC, Anda dapat menghindari biaya yang tinggi saat melakukan transaksi besar dan mendapatkan harga terbaik dengan slippage minimal. Anda juga akan mendapatkan layanan one on one atau personal. Layanan tersebut akan menguntungkan bagi Anda yang melakukan transaksi jumlah besar.

Yuk investasi mulai sekarang Bersama Pintu! (*/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini