Ternak
drh. Ni Made Restiati, MPhil. Sumber Foto : Istimewa. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Mengapa masyarakat perlu waspada? Seluruh negara di dunia khawatir jika kasus penyakit FMD merebak. PMK adalah penyakit virus yang penularannya sangat cepat pada hewan berkuku genap umumnya dianggap ternak (Sapi, Kerbau, Babi, Kambing, Rusa dll). Hal yang paling ditakutkan adalah kerugian ekonomi mikro yang meluas cepat menjadi kerugian makro yang berkepanjangan, mengganggu ketahanan pangan nasional maupun global akibat penurunan produksi drastic. Kerugian yang tak kalah pentingnya adalah terganggunya perdagangan antar negara untuk produk itu sendiri (Daging, susu, keju, mentega, tulang, kulit, lemak, minyak hewani, dll). Dimana jika terdapat kasus positive, negara tersebut akan di ‘Banned’ atau diisolasi dari perputaran perdagangan global.

Salah satu Dokter Hewan di Denpasar, drh. Ni Made Restiati, MPhil., yang juga Pembina dari Yayasan ‘One Health’ Lingkar Sehat mengatakan penyakit FMD adalah penyakit virus Apthovirus dari family Picornaviridae yang mempunyai 7 jenis strains berbeda yang tersebar diseluruh dunia. Penyakit tersebut terdaftar sebagai ‘Penyakit Terrestorial’ sebagai penyakit yang sangat cepat menular dari wilayah satu kewilayah yang lain.

Baca Juga :  Pimpinan FKH Unud Kunjungi Balai Pertanian Tanaman Pangan Bali

“Penularan penyakit FMD melalui ekskresi dan sekresi dari hewan yang tertular seperti air liur, air mata, susu, air kencing, termasuk sperma, dll. Mengapa penularannya begitu cepat? Karena penyebarannya dibantu oleh hembusan angin atau udara dan semua lingkungan disekitarnya jelas tercemar termasuk makanannya, air minumnya, kotorannya, bahkan daging, susunya sendiri yang akan dibawa kemana-mana, termasuk pakaian, sepatu dan peralatan para pekerja peternakan,” ungkapnya.

Selanjutnya juga dijelaskan bahwa ciri-ciri atau gejala klinis penyakit FMD ditandai dengan adanya demam, lepuh2 disekitar mulut terasuk gusi, lidah, bibir bahkan tenggorokannya, disekitar puting susu dan kuku. Jika hewan tersbut sembuh, virus akan tetap tinggal ditubuhnya yang lemah sakit-sakitan dan menjadi sumber penularan permanen.

Sejarah penyakit FMD di Indonesia bukanlah hal baru, bahkan sudah diketahui ada di Indonesia pada tahun 1887, penularan berasal dari import sapi dari Belanda. Wabah FMD sering terjadi di Indonesia, sampai dengan tahun 1983 dicanangkan vaksinasi massal untuk membabaskan penyakit FMD di Indonesia dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan nasional sehingga hasilnya, setelah dievaluasi oleh FAO dan ASEAN, akhirnya institusi tertinggi di bidang kedokteran hewan dunia yaitu OIE mendeklarasikan bahwa Indonesia adalah negara bebas penyakit FMD.

Penyakit FMD diklasifikasikan sebagai bukan penyakit ‘Zoonosis’ atau penyakit yang menular dari hewan kemanusia atau sebaliknya. Pernyataan bahwa penyakit FMD pada hewan merupakan penyakit zoonosis pernah dilaporkan terjadi di Ingris pada tahun 1966, dilaporkan juga bahwa walaupun menula tetapi pengaruh virus tersebut terhadap manusia sangat jarang dan ringan.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Harap Para Duta Besar Indonesia di Negara ASEAN Bisa Promosikan Bali

Sejak Indonesia didklarasi bebas FMD pada tahun 1986, kejadian pertama terjadi  di Gresik pada tanggal 28 April April 2022, selanjutnya menyebar cepat keberbagai wilayah Jawa Timur lainnya, bahkan sampai saat ini menyebar sampai ke Aceh. Tindakan cepat dilakukan oleh berbagai pihak baik pemerintah pusat, daerah, Karantina Hewan, para pakar baik dilingkungan akademisi maupun Organisasi profesi dokter hewan (PB PDHI), dll. Koordinasi institusi lintas sekotral Bersama penegak hukum kepolisian juga telah mulai bergerak, untuk mencegah penularan cepat tersebut. Pertanyaannya apakah cukup? Bagaimana dengan koordinasi dilingkup terbawah sebagai sumber penularan di level peternak dan jalur perdagangan antar peternak akibat ‘Panik Selling’ akibat peternak yang ketakutan dan menjual ternaknya secara mendadak?

Baca Juga :  Jaringan Media Siber Indonesia Ditetapkan Sebagai Konstituen Dewan Pers

“Khususnya di Bali, diperlukan penanggulangan yang khusus, mengingat Bali merupakan suatu pulau penghasil ternak nasional dan sumber plasma nuftah species Sapi Bali satu-satunya di dunia,” paparnya.

Tindakan kekarantinaan bagi perpindahan hewan bekuku genap bisa cepat dilaksanakan untuk mencegah penularan penyakit FMD masuk ke Bali, yaitu dengan menutup pemasukan hewan atau ternak hidup masuk ke Bali. Manfaat menjadi pulau sumber nuftah Sapi Bali berperan besar dalam rangka menutup pintu hewan ternak berkuku genap masuk ke Bali, tetapi ada masalah sangat krusial yang harus dipikirkan, yaitu Bali adalah daerah tujuan wisata manca negara, memerlukan supply hasil olahan ternak dari berbagai belahan dunia, bagaimana menanggulanginya? Import daging, susu, keju, sosis, dll dari luar pulau Bali, bahkan dari luar negeri, bagaimana solusinya? Tidak ada jalan lain, produk local harus mulai dikembangkan unguk mengisi kekosongan supply pendukung kuliner dunia torusim di Bali, tanpa harus menggantungkan import. (bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini