Donor Organ Mata
dr. Nyoman Yenny Khristiawati, M.Biomed, Sp.M. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai cita-cita bangsa Indonesia sebagai amanah Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Karena itulah setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang berkelanjutan sangat penting.

Hukum kesehatan merupakan penerapan dari perangkat hukum perdata, pidana, dan tata usaha negara di lapangan kesehatan. Hukum kesehatan juga mempunyai tujuan seperti yang terdapat dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan yaitu: ‘…meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal’.

Seiring berkembangnya teknologi dan kemajuan zaman, dunia kesehatan juga mengalami kemajuan penggunaan metode baru dalam pengobatannya. Misalnya dengan cara pencangkokan organ tubuh atau disebut juga transplantasi.

Transplantasi ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tidak berfungsi pada penerima, Tingginya pemanfaatan organ tubuh manusia dalam memenuhi kebutuhan kesehatan untuk kelangsungan hidup, serta peraturan hukum kesehatan terhadap pemanfaatan organ tubuh manusia untuk kelangsungan hidup yang menjadi dasar aturan tentang transplantasi organ. Transplantasi merupakan suatu tindakan yang mulia, dimana seorang donor memberikan organ tubuhnya untuk menolong pasien yang mengalami kegagalan fungsi organ tertentu.

Kelainan kornea termasuk ke dalam 4 urutan penyebab kebutaan terbesar menurut data WHO, setelah katarak, glaukoma, dan age-related macular degeneration. Menurut data Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI), 1 dari 1000 orang menderita kebutaan akibat kelainan kornea di Indonesia. Di Indonesia menurut data Bank Mata Indonesia, kurang lebih 2 juta orang Indonesia hidup dengan kebutaan kornea yang sebenarnya dapat dipulihkan dengan transplantasi kornea.

Menurut Prof. Dr. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, Sp.M(K)., PhD., Ketua Bank Mata Indonesia kekurangan donor kornea, daftar tunggu pasien tranplantasi kornea di mencapai lebih dari 20 ribu orang. Sementara itu, donor kornea dalam tiga tahun terakhir hanya sekitar 35 orang. Impor kornea dari negara pengimpor kornea seperti Sri Lanka, India, Belanda, dan Amerika Serikat baru bisa menutupi 5-10% transplantasi.

Di Indonesia sendiri, transplantasi yang sering dilakukan adalah transplantasi kornea mata, bahkan telah terdapat lembaga khusus yang menyediakan kornea mata bagi orang-orang yang membutuhkan kornea mata yakni Bank Mata. Menurut Bank Mata Indonesia, sejak tahun 1968-2008 jumlah pasien yang memerlukan donor kornea sebanyak 18.020 pasien, dengan jumlah operasi transplantasi kornea yang dilakukan sebanyak 3.547 pasien, dimana donor kornea didapatkan sebanyak 3.023 donor dari impor, dan hanya 524 donor lokal (14.7%).

Baca Juga :  LSS Diharap Tingkatkan Derajat Kesehatan 

Sumber donor impor terbanyak didapatkan dari Amerika Serikat sebanyak 834 (208 mata pertahun), dari Filipina sebanyak 813 (90 mata pertahun), dan dari Sri Lanka sebanyak 24 (12 mata pertahun).  Namun jumlah donasi kornea menurun tiap tahunnya karena kebijakan di berbagai negara, Bank Mata hanya mengirim kornea donor bila kebutuhan mereka telah terpenuhi.

Data PPMTI-BMI sejak tahun 1968-2008, Indonesia memiliki daftar tunggu pasien calon resipien kornea sebanyak 18.020 orang, dilakukan tindakan transplantasi kornea sebanyak 3.547 pasien (88,7 pertahun) dengan sumber donor lokal 524 (14,7%) dan donor impor 3.023 (85,3%). Data tahun 2008-2016 jumlah impor donasi kornea terbanyak didapatkan dari Amerika Serikat sebanyak 834 kornea (208 mata pertahun), Filipina sebanyak 813 kornea (90 mata pertahun), Sri Lanka sebanyak 24 kornea (12 mata pertahun).

Sedangkan jumlah donor kornea nasional sebanyak 313 kornea (35 mata pertahun). Pada tahun 2015-2020 didapatkan peningkatan jumlah donor nasional, sedangkan jumlah donor dari luar negeri menurun. Nepal Eye Bank mencatat peningkatan kebutuhan kornea dalam negerinya sejak tahun 2010 sebanyak 171 kornea menjadi sebanyak 1.156 kornea pada tahun 2019

Ketersediaan donor mata di Indonesia sendiri masih jauh dari cukup, selain faktor belum adanya kesadaran mendonorkan kornea namun juga sedikitnya sarana untuk melakukan donor kornea. Data dari Bank Mata Indonesia, Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 53 Tahun 2021 Tentang Transplantasi Organ dan Jaringan Tubuh, Paragraf 2 tentang Bank Mata dan Bank Jaringan Pasal 30  disebutkan :

  1. Bank mata dan bank jaringan merupakan badan atau lembaga yang bertujuan untuk merekrut pendonor, menyaring, mengambil, memproses, menyimpan, dan mendistribusikan jaringan untuk keperluan pelayanan kesehatan yang bersifat nirlaba.
  2. Bank mata dan bank jaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat sesuai kebutuhan dan/atau kemampuan Daerah.
  3. Bank mata dan bank jaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan izin Menteri.

Berdirinya Perkumpulan Penyantun Mata Tuna Netra Indonesia (PPMTI)-Bank Mata Indonesia didorong oleh keluarnya Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan RI No. 8 (birhub) 1967 tertanggal 24 Juli 1967 yang menyatakan antara lain: Kebutaan di Indonesia merupakan bencana nasional. Dalam SK tersebut menjelaskan angka kebutaan di Indonesia meliputi 1% dari jumlah penduduk dan sebanyak 10% dari para cacat tunanetra dapat dipulihkan penglihatannya dengan cara pencangkokan kornea mata, sehingga secara spontan pada tanggal 10 Maret 1968 secara resmi para sosiawas ini menghimpun diri dalam suatu badan: ‘Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra’.

Baca Juga :  Pengguntingan Pita oleh Bamsoet, Program JKJ Plus Resmi Diluncurkan
Bank Mata
Memperkuat Bank Mata di Indonesia Untuk Peningkatan Angka Transplantasi Kornea Mata. Sumber Foto : Istimewa

Bank mata bersifat sosial, bergerak dalam bidang kemanusiaan, mengamalkan sila ke 2 Pancasila. Memiliki visi untuk mencegah kebutaan dan mengusahakan pemulihan penglihatan tuna netra dan pencangkokan kornea mata. Bank mata juga memiliki misi menyelenggarakan kegiatan Bank Mata Indoneisa; eksisi dan transplantasi, mengadakan kegiatan penyantunan tuna netra lainnya, menyelenggarakan kegiatan penyuluhan dan pembinaan mengenai kesehatan mata, serta melakukan pembinaan kepada calon donor mata dan resipien.

Bank Mata adalah bagian dari Lembaga Masyarakat Nirlaba dan/atau Unit Pelaksana yang melakukan promosi kepada masyarakat, pencatatan cakon donor, pengambilan kornea donor dari jenazah, pengolahan dan seleksi kornea donor, penyimpanan dan pendistribusian kornea donor. Kornea donor digunakan untuk tindakan pemulihan penglihatan, pencegahan komplikasi lanjut dari penyakit, dan mengembalikan keutuhan bolamata penderita kerusakan atau kecacatan kornea, ataupun tujuan kegiatan penelitian dan pengembangan kemungkinan penggunaan jaringan bolamata lainnya.

Selama ini yang menjadi permasalahan Bank Mata Indonesia dalam mendatangkan kornea donor dari luar negeri karena secara umum kebijakan di berbagai Bank Mata adalah hanya mengirimkan kornea donor bila kebutuhan mereka telah terpenuhi, sehingga kedatangan kornea donor yang dipesan kemungkinan didapatkan dalam jangka waktu 2-3 bulan atau lebih. Sampai periode 1980, International Eye Bank Sri Lanka, San Diego Lions Eye Bank, dan Central Florida Lions Eye Bank mengirimkan donasi kornea namun kemudian terhenti sama sekali. Sehingga Bank Mata Indonesia harus memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri yang tentu masih sangat sulit karena jumlah donor kornea yang masih sangat minim dan belum ada peraturan Pemerintah yang jelas untuk mendukung Bank Mata.

Sosialisasi donor kornea di Indonesia juga mendapat tantangan yang berat karena faktor multikultural dan heterogenitas agama di Indonesia.

Pandangan agama mengenai donor kornea dalam agama Islam menurut FATWA MUI tahun 1979 dikatakan Seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghidupkan kornea matanya sesudah wafatnya dengan diketahui dan disetujui dan disaksikan oleh ahli warisnya, wasiat itu dapat dilaksanakan, dan harus dilakukan oleh ahli bedah.

Baca Juga :  Sekda Denpasar Alit Wiradana Buka Webinar Paradigma Baru Kesehatan Menuju Pariwisata Kembali Bangkit 

Dalam pandangan agama Kristen Protestan, pendeta Wahju S Wibowo, Ph.D., mengatakan transplantasi dan donor penting sebagai bagian peningkatan kualitas hidup seseorang, tindakan ini membawa gema kekristenan mengenai kasih.

Dalam pandangan agama Hindu, donor organ dan jaringan merupakan wujud pelaksanaan kemanusiaan atau Manusa Yadnya, membebaskan penderitaan orang lain, mulia dan luhur, dimana identitas kita bukanlah badan jasmani namun atman atau roh.

Dalam pandangan agama Budha, dikatakan tidak ada nilai moral yang dilanggar dalam donasi tubuh dan organ karena itu merupakan praktek nyata ajaran Budha. Bahkan umat Budha Sri Lanka merupakan pendonor kornea mata terbanyak di dunia. Dalam pandangan gereja Katolik, donasi organ tubuh untik menolong orang lain asal tidak membahayakan hidup dan harus dilakukan dengan semangat solidaritas.

Dalam perspektif hukum, belum diatur lebih jauh mengenai transplantasi dan donor organ. Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan tindakan jual beli organ dan tubuh dilarang dalam dalih apapun. Dalam aturan PP juga hanya mengatur tindak pidana dan tata cara transplantasi organ dan jaringan manusia hanya sebagai aturan yang melibatkan donor mati atau donor jenazah. Dalam PP Nomor 53 Tahun 2021 tentang Transplantasi Organ dan Jaringan Tubuh pasal 60, Pemerintah telah mengatur mengenai sumber pendanaan pengembangan bank mata dan bank jaringan yang berasal dari APBN, APBD atau sumber lain sesuai ketentuan UU.

Belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kemudahan prosedur donor kornea di Indonesia serta bagaimana kekuatan hukum Bank Mata untuk berdiri sendiri agar dapat meningkatkan jumlah donor kornea di Indonesia. Bank mata sebaiknya memiliki pusat-pusat donasi kornea yang terintegrasi di tiap-tiap rumah sakit baik RS Pemerintah maupun swasta sehingga akan lebih mudah dalam pengambilan donor dan memudahkan resipien untuk mencari donor kornea. (dr. Nyoman Yenny Khristiawati, M.Biomed, Sp.M. Seorang dokter spesialis mata yang berpraktek di Bali, dan saat ini menempuh pendidikan Magister Hukum konsentrasi Hukum Kesehatan di Universitas Hang Tuah, Surabaya)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini