PHDI
Marsekal (Purn) Ida Bagus Putu Dunia. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Beredar kabar dari pengurus baru PHDI Bali versi WBT yang telah terbentuk, yang infonya mengeluarkan ancaman keras akan mempidanakan pihak-pihak yang mendemo mereka dari tahun 2020 karena menentang keberadaan Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON) di Bali khususnya tentang keberadaan Veda Poshanam Ashram, organisasi pandita kelompok Sai Baba di seluruh Indonesia, Selasa (12/4/2022).

Hal ini langsung ditanggapi dengan tegas oleh Sekjen Forum Komunikasi Taksu Bali, Khismayana Wijanegara, SH., yang biasa disapa (Gung Khis) bahwa apa yang kelompok PHDI Bali versi WBT lakukan adalah merupakan ancaman terhadap eksistensi Hindu Dresta Bali sendiri apalagi mereka sudah mulai menggerakkan kelompok mahasiswa yang tidak tahu apa-apa tentang Hindu Bali yang masih dibiayai kuliahnya oleh orang tua mereka dan hal ini tidak akan membuat mundur 35 element/ormas Hindu Bali yang tergabung dalam Forum Komunikasi Taksu Bali.

Baca Juga :  Pj Gubernur Mahendra Jaya Buka Musrenbang RPJPD Provinsi Bali Tahun 2025-2045 dan RKPD Provinsi Bali Tahun 2025

“Ini merupakan pengalihan isu terhadap masalah sebenarnya tentang bahayanya eksistensi Hindu Dresta Bali/Hindu Nusantara dari kelompok Sai Baba karena sudah merecoki ranah ritual Hindu Bali yang sudah umat Hindu Bali suarakan dari tahun 2020 karena sampai saat ini hal-hal mendasar tentang keberadaan samparadaya gado-gado agama Sai Baba tidak pernah dibicarakan dan dalam Mahasabha PHDI XII versi WBT, justru mereka mengorbankan keberadaan para tokoh ISKCON (Hare Krishna) didalam tubuh PHDI Pusat dan tetap menampung kelompok Sai Baba,” ungkapnya.

“Kita bisa melihat memang dalam AD/ART PHDI PUSAT versi WBT pasal tentang pengayoman Sampradaya sudah dihilangkan tetapi justru keberadaan kelompok Sai Baba dalam kepengurusan PHDI WBT justru semakin menggurita, kalau dianalogikan bagaimana bisa undang undang anti narkoba bisa ditegakkan kalau penegak hukumnya sendiri merupakan pengedarnya. Beberapa contohnya adalah ada sekitar 5-6 sulinggih bergelar ‘AGNI’ yang bernaung di bawah Veda Poshanam Ashram (VPA), notabene affiliasi kelompok Sai Baba, ketua sabha walakanya sendiri adalah penasehat VPA di Sulawesi Tenggara, dan banyak tokoh Sai Baba duduk di kepengurusan baik di walaka dan pengurus harian,” sambungnya.

Baca Juga :  Membaur dengan Gen Z, Sekda Dewa Indra Ikuti Gerakan Tanam 1.000 Bibit Mangrove

Gung Khisma mengatakan bahwa keberadaan PHDI sebagai Majelisnya Para Sulinggih Hindu Dharma Indonesia semestinya ikut menjaga kerajegan agama Hindu dresta Bali, adat-istiadat, dresta, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal yang diwariskan oleh Leluhur Lelangit Bali, mengukuhkan dan menguatkan kedudukan, peran adat Bali sebagai dasar pedoman pelaksanaan Dresta gama-nigama Bali dan menjaga tradisi budaya Hindu Dresta Bali dari pengaruh ajaran Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON) yang saat ini banyak di ikuti oleh para tokoh dan akademisi yang berasal dari Bali sendiri.

Sementara itu, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) hasil Mahasabha Luar Biasa (MLB), Marsekal (Purn) Ida Bagus Putu Dunia menegaskan, Permasalahan utama yang harus diselesaikan adalah membersihkan Hindu Bali dari Sampradaya. PHDI hasil MS XII dikatakannya masih merangkul Sampradaya.

Baca Juga :  NPHD Sah Ditandatangani, Pemilukada Serentak di Bali Diharapkan Berjalan Kondusif dan Demokratis

Untuk itu pihaknya meminta pemerintah, lembaga terkait, ormas dan umat harus bersatu menolak PHDI Sampradaya dan segala aktifitas Sampradaya yang melemahkan Hindu di Bali.

“Tentang info tersebut, menurut saya, kita diarahkan untuk masuk dalam jebakannya dengan mengalihkan atau membiaskan masalah. Jangan terpancing! dan kita harus kembali pada substansi perjuangan yaitu memisahkan HK dan SBB dari Hindu Bali/PHDI. Kita tidak mau umat Hindu dikonversi dan ajaran Hindu didiskriditkan,” tegasnya, saat dikonfirmasi langsung melalui pesan WA, Selasa (12/4/2022).

Dalam hal ini, IB Dunia meminta pihak terkait untuk ber hati-hati. Agar tetap fokus pada pokok masalah. Perlu langkah segera agar semua elemen perjuangan ajeg Hindu Bali bisa bersatu. (aar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News