IMA
IMA Webinar Series: Bali Kembali From Pandemic to Endemic in Hospitality Industry. Sumber Foto : Istiemwa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Menyambut era endemi tak hanya masyarakat lokal yang antusias untuk kembali mengunjungi beragam destinasi wisata di Indonesia, khususnya Bali. Pulau yang diapit pulau Lombok dan pulau Jawa tersebut akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum KTT G-20 tahun ini, menjadi tantangan bagi seluruh stakeholder untuk unjuk gigi, bertransformasi melalui kebijakan yang memulihkan industri pariwisata.

Seperti judulnya Bali Kembali, kali ini Indonesia Marketing Association mengundang stakeholder pariwisata Indonesia untuk bersama-sama mengulas kesiapan Bali mengakomodir kebutuhan wisatawan di masa yang akan datang, sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberlakukan bebas karantina bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali.

Sandiaga Uno menyambut baik inovasi IMA mengadakan diskusi ini, disaksikan lebih dari 1.000 peserta, pada sambutannya Sandiaga mengulas kebijakan bebas karantina di Bali yang baru diterapkan.

“Sejak 7 Maret 2022 kita membebaskan karantina, sejauh ini terlihat sukses. Alhamdulillah tidak ada kenaikan kasus, maka akan diperluas ke wilayah lain di Indonesia. Ini momentum baik indikator menuju ekonomi baru,” ucap Sandiaga Uno.

Sandiaga Uno menjelaskan, Dampak dari kebijakan ini tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu berbasis data. Pemerintah sangat optimis pemulihan pariwisata Bali dimulai tahun ini.

“Tingkat penghunian kamar hotel meningkat, kesempatan lapangan kerja semakin terbuka, UMKM semakin berdaya, mendorong UMKM menciptakan produk ekraf di Bali yang berkelas dunia,” tambah Sandiaga Uno.

Selain menghadirkan Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, IMA juga menghadirkan Ni Luh Made Wiratmi, SE., M.Si., selaku Asisten Perekonomian  dan Pembangunan Provinsi Bali, Irfan Setiaputra selaku Direktur Utama Garuda Indonesia, Hermawan Kartajaya selaku Founder Indonesia Marketing Association, dan  Suparno  Djasmin selaku Presiden IMA untuk berbincang virtual dalam acara IMA Webinar Series: ‘Bali Kembali: From Pandemic to Endemic in Hospitality Industry’, Selasa (15/3/2022).

Suparno Djasmin selaku Presiden IMA periode 2021-2023 pada sambutannya menegaskan bahwa Bali dalam konteks pemasaran merupakan suatu brand.

“Kami di IMA ingin turut berperan dalam melestarikan ‘brand‘ Bali ini dengan pengetahuan, keahlian dan jaringan yang dimiliki para anggota IMA di momentum recovery Bali,” ujarnya.

Hermawan Kartajaya selaku Founder IMA sepakat dengan hal tersebut, baginya Bali sudah menjadi brand wisata tersendiri, top of mind di mata turis mancanegara. Tak ada urgensi untuk menjadi desa wisata super prioritas pemerintah.

Maka dari itu, kata Hermawan Kartajaya, Bali ‘baru’ pun tidak perlu dicanangkan, sementara desa wisata lainnya perlu mencontoh Bali dengan memaksimalkan potensi masyarakat dan memperkuat tradisi, tak hanya pada bergantung pada keindahan alam dan wilayahnya.

Hermawan juga menekankan aspek creative tourism bahkan di metaverse. Di era digital ini, tak jarang ditemui masyarakat Bali memanfaatkan virtual reality yang dipublikasikan di kanal YouTube untuk mempromosikan musik tradisional yang menciptakan experience baru bagi peminat Bali di seluruh dunia. Hal ini merupakan inovasi yang bisa diterapkan pelaku wisata Bali, agar tak semata-mata menjadi destinasi wisata yang indah dipandang, namun mampu memberi experience dari jarak jauh.

“Destinasi wisata lain bukan masalah tidak indahnya, yang menjadikan Bali destinasi pilihan adalah karena Tri Hita Karana, tradisi dan kerukunan masyarakatnya yang tak hanya melakukan persembahan  setiap  hari  dan  tetap  kuat hingga saat ini. Maka tidak perlu menjadi Bali baru, tirulah masyarakat Bali yang terbuka untuk semua agama, status, tanpa membedakan apa-apa. Dahulu pertunjukan tarian Bali hingga 4 jam, namun masyarakat terbuka dengan masukan wisatawan mancanegara, maka akhirnya dipersingkat. Mental seperti ini perlu diterapkan oleh desa wisata lainnya di Indonesia,” ujar Hermawan.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Hadiri Ramah Tamah Meriahkan Hari Jadi Provinsi Bali Ke-64

Menyusul pemulihan ekonomi, guru marketing yang akrab disapa HK ini menekankan menuju 2030, stakeholders perlu berfokus pada The New Economy yang mencakup tiga faktor Generation Z, Metaverse, dan SDGs.

“Metaverse ini sedang bersaing, orang Bali sudah punya beberapa contoh, sudah ada gamelan di VR (Virtual Reality), ini permulaan daripada metaverse,disitu  orang bisa beraktivitas  yang  meaningful.  Terakhir, SDG contohnya Hotel Blossom di Canggu yang menyediakan aktivitas menanam pohon, atau Potato Head, beach club di Bali yang menyediakan Sweet Potato Lab,” ucap HK.

Sedangkan, Ni Luh Made Wiratmi, SE., M.Si., selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Bali mengungkap sesuai dengan anjuran pemerintah, kali ini kita sudah menerima tamu wisatawan mancanegara dan domestik.

“Kesiapan sebenarnya sudah lama sekali terutama untuk vaksin, masyarakat sangat menyambut booster agar wisatawan bisa datang ke Bali,” papar Ni Luh Made Wiratmi.

Proses transformasi ini mesti melibatkan kolaborasi dari berbagai kalangan. Bicara soal wisata, tak lepas dari keberadaan moda transportasi.

Irfan Setiaputra selaku Direktur Utama Garuda Indonesia menyatakan pihaknya menyiapkan rute baru penerbangan langsung dari negara-negara yang minatnya tinggi ke Bali untuk tidak perlu transit di Jakarta, minggu lalu kami sudah buka rute dari Sidney.

Baca Juga :  Wakil Gubernur Bali Cok Ace Gandeng Stakeholder Bangkitkan Pariwisata Bali di Tengah Pandemi Covid-19

“Saat ini, kita menerapkan booster kepada seluruh kru dan front liner, kita pastikan semua kru sudah lengkap vaksin. Selain itu, terdapat diskon selama travel fair, dan discount 80% untuk bagasi yang overweight,“ jelas Irfan.

Irfan berharap kembalinya jumlah angka wisatawan dapat menghidupkan kembali perekonomian masyarakat lokal. Harapannya tak hanya sekedar membeli oleh-oleh, tapi memborong oleh-oleh.

“Produk UMKM tidak mahal, tapi respon ketika dibeli senang sekali. Respon yang paling menakjubkan adalah melalui pembelian ini,” ujar Irfan.

Kehadiran IMA Bali diharapkan dapat mengakselerasi kebangkitan ekonomi dengan mengajak pelaku usaha Indonesia membantu penerapan kegiatan usaha. IMA juga mengajak berkolaborasi untuk melakukan transformasi, sebagai katalisator pemulihan ekonomi.

“Besar harapan saya ke depannya IMA Bali dapat mendukung program pemerintah dan inovatif dalam upaya mempromosikan pariwisata bali yang aman dan nyaman di pasar mancanegara,” sambut  Tjokorda  Oka  Artha  Ardana Sukawati (Cok Ace) selaku Wakil Gubernur Bali.

Keterlibatan konsultan pemasaran dalam upaya pemulihan pariwisata juga tertuang pada acara MarkPlus Tourism beberapa waktu lalu, yang juga menampilkan Cok Ace selaku Wagub Bali. Diulas bagaimana creative tourism mampu merubah pola perilaku wisatawan yang sebelumnya berkutat pada foto-foto dan video di lokasi wisata, menjadi turut berpartisipasi aktif dalam aktraksi wisata, belajar, dan terlibat dengan nilai masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan ungkapan Hermawan sebelumnya, yang dapat diterapkan di desa-desa wisata di Indonesia.(bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini