Penutup Jalan Pura
Perbekel Desa Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Ni Ketut Anggaeni Wati. Sumber Foto : aar/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Fakta baru terungkap terkait masalah penutupan akses masuk (Pemedal) Pura Dalem Bingin Ambe, yang sempat viral di media sosial beberapa waktu belakangan ini, pihak penembok yang menutup akses jalan dikatakan bukanlah warga setempat.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Perbekel Desa Dauh Puri Kangin dalam rapat dengar pendapat oleh PHDI Bali, pada Sabtu (12/2/2022) lalu.

Dalam kesempatannya tersebut, Perbekel Desa Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Ni Ketut Anggaeni Wati mengatakan, bahwa yang bersangkutan pemilik kos-kosan yang menembok pemedal Pura tidak pernah ada melapor atau berkordinasi dengan pihak Desa.

“Iya benar. Selama ini memang tidak ada kepengurusan surat-surat apapun ke kita dari pihak yang menguasai tanah,” jelasnya.

Baca Juga :  Ciptakan Lingkungan Kondusif dan "Cooling System" Jalang Pemilu 2024, Desa Peguyangan Kaja Tertibkan Penduduk Non Permanen

Sementara itu, menguatkan fakta yang ada, pihak Kelihan Dinas Banjar Titih Kaler, I Gusti Putu Gede Donny Sanjaya menambahkan bahwa pihak penembok juga dikatakan tidak pernah melapor diri atau berkordinasi baik dengan banjar dinas maupun banjar adat setempat. Padahal tanah yang dulunya dikatakan jaba Pura itu sekarang dibangun sebagai usaha rumah kos-kosan.

“Yang jelaskan dia yang punya kos-kosan itu namanya Ketut Gede Wijaya. Yang bersangkutan tidak terdaftar sebagai warga di banjar kami. Saya sudah bongkar arsip data warga, tidak ada nama yang bersangkutan. Di banjar adat juga tidak ada,” ungkap Kelihan Dinas Banjar Titih Laler.

Baca Juga :  Sekda Dewa Indra Wakili Pj Gubernur Bali Buka Bulan Bahasa Bali VI tahun 2024

Selanjutnya dirinya juga mengatakan bahwa selama ini penghuni kos-kosan tersebut juga dikatakan tidak pernah dilaporkan oleh pemilik ke Banjar maupun Desa. Bahkan, saat terjadi pandemi Covid-19 melonjak, banyak penghuni kosan yang terjangkit, pemilik kosan tidak merespon dan menanggapi.

“Waktu awal Covid-19 melonjak, banyak penghuni kosan yang terjangkit. Jadi kan pemilik kos yang harusnya tanggung jawab. Saat saya hubungi, saya telpon saya SMS (kirim pesan) tidak ada tanggapan apa. Saya sama kelian adat sama pecalang jadinya repot. Karena penghuni kos juga tidak terdaftar di banjar,” paparnya kepada awak media. (aar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News