Terumbu Karang
FKP Udayana Digandeng Kemenko Marves Memonitoring Terumbu Karang untuk Pemulihan Ekonomi. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Kementerian Koordinator Marine dan Investasi yang dipimpin Menko Luhut Pandjaitan menggandeng Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) untuk melakukan monitoring terumbu karang dilautan sekitar Buleleng dan Nusa Dua.

Kegiatan ini sendiri merupakan rangkaian panjang dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui kegiatan padat karya penanaman terumbu karang yang telah dilakukan selama masa pandemi Covid-19. Dimana program ini ditujukan untuk memberi pemasukan bagi penyelam-penyelam wisata di Bali yang kehilangan pekerjaan, sambil melestarikan alam melalui konservasi terumbu karang. Dimana para penyelam diminta untuk membentuk Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) di bawah laut.

Baca Juga :  Dukung Medical Tourism di Bali, PLN Percepat Penyalaan Listrik Pembagunan Baru RSU Bali Royal

Acara monitoring yang berlangsung pada Senin (31/1/2022) lalu tersebut dihadiri langsung oleh dekan FKP, Prof. Nuarsa. Prof. Nuarsa menyampaikan bahwa hasil monitoring menunjukan kemajuan yang berarti dari program PEN dalam pemulihan kondisi lautan di perairan Bali.

“Terjadi perkembangan yang signifikan terhadap recruitement terumbu karang alami yang ditemukan di perairan Buleleng dan Nusa Dua,” tuturnya.

Proses monitoring sendiri sudah dilakukan dalam beberapa bulan sebelumnya dimana hal ini di inisiasi oleh Pusat Riset BRIN. FKP Udayana sendiri diwakili oleh dua dosennya yang memiliki keahlian dalam penyelaman serta telat bersertifikat yaitu Bapak Dwi Budi Wiyanto dan Ibu Elok Faiqoh. Selain itu secara khusus monitoring juga melibatkan 4 mahasiswa penyelaman yang sedang melaksanakan tugas akhir.

Dalam monitoring ICRG tersebut, Dwi menyampaikan merasa cukup kesulitan dalam prosesnya karena beberapa faktor.

Baca Juga :  Dishub Denpasar Antisipasi Arus Balik Lebaran, Pastikan Kelancaran Pintu Masuk Hingga Pelabuhan Laut Pengumpan Lokal

“Terjadi beberapa kali cuaca ekstrim mengingat dilakukannya monitoring saat musim penghujan, selain itu kondisi perairan yang berarus dan bergelombang yang tinggi, namun semua bisa ditangani dengan mengikuti protocol safety first,” ucap Dwi yang saat ini merupakan coordinator program studi Ilmu Kelautan tersebut. (unud.ac.id/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News