Penyu
Dorong Ekowisata Konservasi Penyu Berlandaskan Tri Hita Karana, Raka Dalem Raih Gelar Doktor Pariwisata. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Fakultas Pariwisata Universitas Udayana kembali melahirkan seorang doktor pariwisata melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor, dengan promovendus Anak Agung Gde Raka Dalem, Senin (31/1/2022) di Ruang Aula Lantai 3 Gedung Pascasarjana Unud, Kampus Denpasar.

Sidang dipimpin oleh Dr. Ir. I Gusti Ayu Oka Suryawardani, M.Mgt., Ph.D., dengan anggota Prof. Dr, Ir. Made Antara, MS. (Promotor); Ir. A.A.P.A. Suryawan Wiranatha, M.Sc., Ph.D (Kopromotor 1); Prof. Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP. (Kopromotor 2); Prof. Dr. Made Budiarsa, MA., Dr. Drs. I Putu Anom, M.Par., Dr. Yohanes Kristianto, S.Pd., M.Hum., dan Dr. I Gede Mudana, M.Si.

Di hadapan dewan penguji, promovendus mempertahankan disertasi berjudul ‘Strategi Pengembangan Ekowisata Penyu Berlandaskan Tri Hita Karana pada Turtle Conversation and Education Center, Serangan,  Bali’.

Riset mendalam dilakukan promovendus di TCEC (Turtle Conversation and Education Center) Serangan. Hasil riset menunjukkan bahwa lembaga ini 92% sudah memenuhi kriteria ekowisata penyu berlandaskan Tri Hita Karana (THK) seperti prinsip berkelanjutan, menyediakan interpretasi memadai, memberdayakan masyarakat setempat, menghormati nilai-nilai sosial budaya dan keagamaan, mentaati peraturan perundang-undangan, pengembangannya disetujui masyarakat lokal, memberikan kepuasan kepada konsumen, pemasaran bertanggung jawab, sistem pengelolaan sesuai dengan THK, prinsip perlindungan diri, penguatan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, serta penerapan protokol CHSE.

Baca Juga :  Wisman Ikuti Pelatihan Melukis, Menari, Menabuh dan Melayangan

Adapun model struktural pengembangan ekowisata penyu di TCEC menunjukkan bahwa ekowisata penyu berkelanjutan dapat dicapai melalui peningkatan sistem promosi digital, peningkatan kerjasama antar stakeholder (masyarakat, pengusaha dan pemerintah), peningkatan pelayanan kepada wisatawan, dan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada kegiatan ekowisata dengan melibatkan lembaga pariwisata, perguruan tinggi, media masa, unsur pemerintah seperti Kemenparekraf, Kementerian LHK, KKP, Dinas Pariwisata Bali dan Pemkot Denpasar, serta ditunjang dengan kemudahan mendapatkan permodalan untuk investasi.

“Dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut, diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat,” papar Anak Agung Gde Raka Dalem.

Baca Juga :  Bupati Sanjaya: Jaga Bumi Dengan Konsep Tri Hita Karana

Adapun strategi yang ditawarkan dalam pengembangan ekowisata penyu di TCEC yakni melalui peningkatan pengelolaan, capaian dan kompetensi, penyediaan pramuwisata professional, implementasi new normal, peningkatan kerjasama lembaga pariwisata, digitalisasi, partisipasi dan koordinasi dengan stakeholders, pengadaan dana, media umpan balik, souvenir unik, dokumen lingkungan dan implementasinya.

Novelty penelitian adalah ditemukannya kriteria ekowisata penyu berlandaskan THK yang terdiri dari 12 prinsip dan 48 kriteria. Dengan temuan tersebut di atas, Raka Dalem menyimpulkan hasil evaluasi terhadap TCEC ini sangat baik.

Namun karena penelitian ini dilaksanakan pada masa Pandemi Covid-19, promovendus menyarankan agar perlu dilakukan penelitian serupa pada era normal.

Baca Juga :  Tapak Dara Maknai HUT ke-8 Berlandaskan Tri Hita Karana

Anak Agung Gde Raka Dalem adalah dosen di Universitas Udayana. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Program Internasional Upskill Study, disamping sebagai peneliti pada Pusat Unggulan Pariwisata (PUPAR) Unud, serta Wakil Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom DEWI) Provinsi Bali.

Pria kelahiran Gianyar, 8 Juli 1965 ini menyelesaikan pendidikan S1 Teknologi Pangan & Gizi pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dan S2 Ilmu Lingkungan di UWS Australia.

Raka Dalem berpengalaman sebagai pemakalah seminar internasional di berbagai negara. Ia juga berpengalaman sebagai auditor pariwisata berkelanjutan dalam dimensi Tri Hita Karana dan auditor pariwisata berwawasan lingkungan & berkelanjutan selama 21 tahun, termasuk berpengalaman melakukan audit dalam skala internasional seperti Green Globe dan Earth Check). (unud.ac.id/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini