Tumpek Klurut
Tumpek Klurut. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Hari suci Tumpek Klulut merupakan tradisi yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali. Dalam satu tahun, umat Hindu melaksanakan upacara ini selama dua kali, tepatnya setiap 6 bulan sekali.

Umat Hindu merayakan Tumpek Krulut setiap Saniscara Kliwon, wuku krulut di tahun ini jatuh pada tanggal 29 Mei 2021. Bertujuan sebagai sujud syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara atas terciptanya suara-suara suci atau tabuh dalam keindahan dan seni. Pada perayaan upacara ini, masyarakat Hindu Bali sejatinya memberikan persembahan kepada Dewa Iswara yang menurut kepercayaan Hindu hadir dalam bentuk manifestasi gamelan.

Baca Juga :  Miliki Nilai Hubungan Historis, Pendopo Puri Tonggak Awal Perjuangan Partai Politik di Bali

Tumpek Klulut berasal dari kata lulut yang artinya hati menyatu dengan keindahan (sundaram) sehingga pikiran menjadi damai dan kata lulut secara harfiah memiliki arti kasih sayang atau tresna, oleh karena itu Tumpek Klulut juga bisa diartikan hari kasih sayang, tidak heran kalau dalam pelaksanaannya, banyak yang menyebut upacara ini sebagai perayaan hari valentine ala Bali.

Kasih sayang yang dimaksud disini diwujudkan dalam bentuk keindahan, dalam hal ini suara gamelan. Yang dipuja juga dalam Tumpek Klulut yaitu Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Dewi Semara Ratih. Karena itu banten yang dihaturkan adalah sesayut lulut asih. Upacara Tumpek Klulut tidak terlalu berhubungan dengan perayaan hari kasih sayang.

Upacara utama dalam hari suci ini adalah penyucian satu set gamelan. Cara penyuciannya dilakukan dengan menyipratkan air suci ke set gamelan yang akan disucikan. Penyucian ini bertujuan untuk menghilangkan hal-hal buruk yang menempel pada gamelan.

Selanjutnya, masyarakat Bali akan menghaturkan sajian berupa sesajen yang merupakan simbol persembahan kepada Dewa. Jenis sesajen yang diberikan pun beragam. Biasanya dilengkapi dengan ketupat, ajuman, tigasan, pengambean, serta peras. sesajen ini dapat diletakkan di dekat alat musik dengan tujuan agar suara gamelan tetap terdengar cantik dan indah.

Baca Juga :  Kabid Keungan Polda Bali Terinspirasi dari Jiwa R.A Kartini

Setiap upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali tentu memiliki pesan moral yang sangat kuat untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya peyaraan hari suci tumpek klulut ini.

Terdapat hal penting yang harus diperhatikan yaitu rasa tulus ikhlas dalam melaksanakan setiap prosesnya. Karena, rasa tulus dalam melaksanakan upacara serta menghaturkan sesajen merupakan bentuk nyata dari rasa kasih sayang yang dimiliki oleh setiap orang. (Anak Agung Sri Anggreni, S.Pd.H, Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Mengwi, Badung)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini