“Banyak sekali pelatihan yang diberikan, mulai dari proses tahapan produksi, packaging, hingga marketing” katanya.
Satu yang cukup membantunya bangkit dari krisis pandemi Covid-19 adalah tentang pemasaran secara digital. Semula, Lemini hanya mengandalkan toko offline saja. Kini, dia mulai serius untuk mengekspansi pasarnya ke beberapa media digital. Seperti media sosial, website, hingga marketplace. Pelan tapi pasti, cara tersebut efektif dalam meningkatkan hasil pemasarannya.
Selain kebaya, Lemini juga memproduksi beberapa aksesoris pendukungnya seperti tusuk konde, bros, hingga handbag. Seluruhnya dipatok dengan harga yang cukup terjangkau mulai dari Rp20 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Omzet yang didapatkan perbulannya mencapai Rp15 juta. Dibalik usaha yang dijalani Lemini, terselip beberapa wanita hebat yang ikut membantu usahanya. Total 6 orang ibu rumah tangga dia beri tugas untuk menjahit dan bordir.
Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Agus Suprijanto menambahkan, Pertamina akan terus mendukung pengembangan produk-produk kebudayaan lokal agar lebih mendunia.
“Semua ini harus kita jaga dengan cara melestarikan para perajin dan UMK yang bergerak dibidang tersebut. Agar terus berkembang dan mampu naik kelas hingga kancah global” katanya.
Menurut Agus, melalui Program Kemitraan, Pertamina ingin dapat senantiasa menghadirkan energi yang menggerakkan roda ekonomi. Energi yang menjadi bahan bakar, serta energi yang menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan. Selain itu juga sebagai implementasi SDGs tujuan ke-8 yakni menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pertamina senantiasa mendukung pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) melalui implementasi program-program berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) di seluruh wilayah operasionalnya. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab lingkungan dan sosial, demi mewujudkan manfaat ekonomi di masyarakat.(bpn)













