Hari Raya Pagerwesi
Perayaan Pagerwesi di Pura Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar, Rabu (3/2/2021). Sumber Foto : bpn

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Hari ini umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Pagerwesi. Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon Wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta).

Jadi dapat kita simpulkan bahwa Pagerwesi merupakan hari yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang diturunkan melalui para guru. Guru yang harus dihormati dalam hal ini adalah Catur Guru. Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (guru di sekolah), Guru Wisesa (pemerintah) dan Guru Swadyaya (Ida Sang Hyang Widhi).

Anak Agung Sri Anggreni, S.Pd.H selaku Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Mengwi, Badung menjelaskan, Hari Raya Pagerwesi diartikan bahwa pager yang merupakan pagar atau pelindung, dan wesi yang berarti besi jadi saat Hari Raya Pagerwesi tersebut bertujuan untuk memagari diri (magehang awak) dengan kuat agar jangan mendapatkan gangguan atau rusak.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Tinjau Vaksinasi di Gor Purna Krida Kerobokan dan Tuban

Pagerwesi itu berguna untuk membatasi atau membentengi ilmu pengetahuan sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi umat manusia sehingga dapat menjadi pegangan hidup yang kuat dan tidak disalahgunakan. Pagar Besi ini memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, sebab tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia akan mengalami kegelapan (Awidya).

“Hari raya Pagerwesi ini merupakan rangkaian dari perayaan Hari Suci Saraswati (Dewi Ilmu Pengetahuan). Setelah Hari Raya Saraswati dan Pagerwesi rangkaian hari suci ditutup dengan upacara Tumpek Landep,” tambah Anak Agung Sri Anggreni, S.Pd.H.

Pengetahuan didapat saat Hari Raya Saraswati dan diperkokoh kembali saat Hari Raya Pagerwesi, sehingga kecerdasan kebijaksanaan dimana perpaduan antara akal dan perasaan bertemu untuk bisa menimbang baik dan buruk yang berkembang di kehidupan manusia saat ini, dan nanti akan berlanjut pada rangkaian Hari Suci Tumpek Landep yang artinya Landep itu runcing atau tajam dengan makna penajaman fokus dan berkomitmen untuk tetap konsisten dalam menjalani kehidupan ini.

Baca Juga :  Dukung Tradisi Nyepi, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Tutup Operasional Sementara

Selain menghaturkan persembahan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, saat inilah manusia melakukan Yoga Semadi, menyucikan diri dan mohon anugerah dan kekuatan kepada Hyang Pramesti Guru karena beliaulah guru sejati, agar bisa memagari diri dengan kesucian ilmu pengetahuan atau kekuatan yang dianugerahkan. Karena ilmu pengetahuan itulah sejatinya pager (pagar) yang sejati dan utama.(ads/bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here