Baliportalnews.com
Selalu terhubung dengan kami.

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTATes swab atau usap dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan metode yang saat ini paling akurat dalam mendeteksi infeksi virus corona jenis baru penyebab Covid-19. Namun begitu, hasil pemeriksaan terkadang berbeda meski uji swab dilakukan dalam waktu yang berdekatan.

Pakar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dr. Titik Nuryastuti, M.Si., Ph.D., Sp.MK (K) menjelaskan bahwa terdapat beragam faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil uji swab PCR. Salah satunya yaitu faktor waktu dan prosedur pengambilan sampel swab.

Baca Juga :  62 Mahasiswa dari 5 Negara Dunia Belajar Kewirausahaan Berkelanjutan dalam Global Summer Week 2026 di FEB UGM

“Waktu pengambilan swab yang berbeda bisa memberikan hasil pemeriksaan yang berbeda pula,” terangnya saat dihubungi Selasa (8/12/2020).

Ia mencontohkan, seseorang melakukan tes swab di rumah sakit dan hasilnya positif. Kemudian keesokan harinya kembali melakukan swab PCR di rumah sakit berbeda, namun hasilnya menjadi negatif.

“Bila ini terjadi dalam masa inkubasi virus, yaitu hari ke 2 -14 setelah terpapar, kondisi ini disebut sebagai negatif palsu. Ini mungkin terjadi karena jumlah virus yang rendah dan berada di bawah ambang deteksi PCR sehingga memberikan hasil negatif,” jelas Ketua Tim Laboratorium Covid-19 FKKMK UGM ini.

Titik menjelaskan banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil uji swab PCR, meliputi fase preanalitik, analitik dan post analitik. Fase preanalitik memberikan pengaruh yang paling besar, seperti proses pengambilan sampel, penanganan dan transportasi sampel sebelum sampai di laboratorium, penyimpanan serta pengiriman sampel.

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News