Sementara itu, Ni Ketut Arini menjelaskan bahwa Tari Baris Kekupu menggambarkan sekelompok kupu-kupu yang sedang bermain di Taman Bunga dengan gerak lemah gemulai yang memperlihatkan keelokan warna warni dari sayapnya. Tarian ini dipentaskan dalam durasi kurang lebih 10 menit. Tari Baris Kekupu merupakan salah satu dari sekian banyak jenis Tari Baris di Bali yang ditarikan berkelompok.
Arini menjelaskan bahwa pada awalnya Tari Baris Kekupu ini ditarikan oleh penari laki-laki, seperti Tari Baris pada umumnya. Kemudian digantikan oleh penari anak-anak perempuan karena didalam Tari Baris Kekupu ini terdapat unsur-unsur Tari Legong, hal ini merupakan salah satu keunikan yang terdapat pada Tari Baris Kekupu.
“Idenya terinspirasi dari hiasan kupu-kupu pada damar kurung yang dipasang saat upacara Mamukur, yang merupakan lambang dari Dewa yang menyinari perjalanan atma yang telah lepas dari unsur Panca Maha Bhuta menuju ke alamnya masing-masing,” ujarnya.
Secara historis, kata Arini bahwa Tari Baris Kekupu yang ada di Banjar Lebah, Desa Sumerta
Kaja diciptakan sekitar tahun 1930-an oleh seorang seniman kakebyaran di Bali yang berasal dari daerah Denpasar, yaitu Alm. I Nyoman Kaler dan dibantu dengan Alm. I Wayan Rindi yang merupakan seniman sekaligus putra daerah yang berasal dari Banjar Lebah. Tari Baris Kekupu diciptakan atas dasar permintaan dari Griya Gede Lebah (sekarang bernama Griya Gede Tegal Jinga), Desa Sumerta Kaja, agar diciptakannya suatu tari wali untuk mengiringi Upacara Mamukur.
“Hingga saat ini demi menjaga kelestarian Tari Baris Kekupu yang merupakan khasanah budaya yang dimiliki Banjar Lebah, Tari Baris Kekupu kini ditarikan juga pada saat Upacara Piodalan di Banjar Lebah yang dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali,” pungkasnya. (humas-dps/bpn)













