Astra Talk
Ketua Korwil Grup Astra Bali, IB. Putu Astawa. Sumbe Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASARRangkaian 11th  SATU Indonesia Awards 2020 diakhiri dengan kegiatan AstraTalk, Jumat (13/11/2020) Grup Astra Bali mengundang media cetak dan onine untuk bincang santai dengan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards (SIA) dari Bali di Loh Coffee & Eatery.

Ketua Korwil Grup Astra Bali, IB. Astawa dalam sambutannya mengatakan, tahun ini menjadi spesial dan sangat membanggakan karena Bali dapat meraih juara dalam bidang teknologi dan menjadi finalis favorit. Selain itu juga terdapat 5 orang Penerima Apresiasi SIA 2020 Tingkat Provinsi dari Bali.

“Semoga SATU Indonesia Awards bisa melahirkan banyak intan-intan bangsa yang dapat memancarkan cahaya positif generasi muda untuk menjadi inspirasi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Penerima Apresiasi SIA 2020 dari Bali tingkat provinsi, yakni : 1) I Gede Gian Saputra, Pendamping Pemasaran Desa Berbasis Digital, Kategori Kelompok; 2) Komang Ayu Sri Widyasanthi, Gerakan Gigi Sehat Bali, Kategori Kesehatan; 3) Benny Santoso, Diplomasi Budaya Melalui Tempe, Kategori Kewirausahaan; 4) I Nengah Agus Tripayana, Pendidikan untuk Semua, Kategori Pendidikan; 5) Taufiqur Rahman, Olah Sampah Menjadi Rupiah, Kategori Lingkungan.

Sedangkan Peneriman Apresiasi SIA 2020 Bidang Teknologi yang juga terpilih menjadi Finalis Favorit tahun ini, yakni : I Gede Merta Yoga Pratama dengan Pelacak Ikan Berbasis Navigasi #FISHGO.

Baca Juga :  Rai Mantra Lantik Made Toya Sebagai Penjabat Sekda Denpasar
Astra Talk
I Gede Merta Yoga Pratama dengan Pelacak Ikan Berbasis Navigasi #FISHGO. Sumber Foto : tis/bpn

Merta Yoga Pratama selaku Founder Fish Go menjelaskan, latar belakang lahirnya Fish Go ini karena dirinya melihat potensi besar Bangsa Indonesia yang memiliki lautan luas dengan sumber daya ikan yang melimpah. Tetapi berdasarkan data statistik 25% dari masyarakat kurang mampu di Indonesia itu didalamnya masuk kelompok nelayan.

“Dengan data tersebut, saya menciptakan Fish Go dengan tujuan membantu para nelayan agar mudah menentukan lokasi ikan berkumpul, kapan waktu yang tepat untuk menebar jaring di laut, sehingga tangkapan ikan melimpah dalam waktu yang singkat,” jelas Mertha Yoga Pratama.

Menurut hasil riset yang dilakukan dari tahun 2018 hingga 2020, dirinya mengklaim ketika nelayan menggunakan Fish Go, hasil tangkapan nelayan meningkat hingga 84% dan menghemat bahan bakar sebesar 30%.

“Jadi dengan hasil tangkapan ikan meningkat dan penggunaan bahan bakar lebih yang sedikit, membuat penghasilan nelayan juga meningat,” tambahnya.

Astra Talk
Komang Ayu Sri Widyasanthi, Gerakan Gigi Sehat Bali, Kategori Kesehatan. Sumber Foto : tis/bpn

Sementara Komang Ayu Sri Widyasanthi yang juga berprofesi sebagai dokter gigi, menjelaskan awal mula munculnya Gerakan Gigi Bali Sehat itu ketika dirinya mengadakan bakti sosial dan edukasi di salah satu desa di Bangli. Ketika melakukan edukasi kesehatan, dirinya sempat melontarkan pertanyaan ‘Siapa yang tidak memiliki sikat gigi?’ kehadapan anak-anak.

Baca Juga :  Meski di Tengah Pandemi, Pemkot Denpasar Tetap Realisasikan 9 Unit Bantuan Bedah Rumah

Berawal dari pertanyaan tersebut, dirinya kaget karena jawaban dari anak-anak adalah banyak yang tidak memiliki sikat gigi bahkan dalam 1 keluarga hanya memiliki 1 sikat gigi yang digunakan bersama-sama orang tua dan saudaranya.

“Tepat hari itu ketika mendengar jawaban dari anan-anak tersebut, saya berniat membangun Bank Fasilitas Kesehatan Gigi dan Edukasi Kesehatan Gigi yang akhirnya membentuk Gerakan Gigi Bali Sehat,” tambah Komang Ayu.

Astra Talk
I Gede Gian Saputra, Pendamping Pemasaran Desa Berbasis Digital, Kategori Kelompok Sumber Foto : tis/bpn

Sedangkan untuk Kategori Kelompok, I Gede Gian Saputra dengan Pendamping Pemasaran Desa Berbasis Digital, idenya muncul karena pihaknya ingin mengembangkan desa wisata berbasis masyarakat.

“Dengan adanya teknologi, masyarakat desa bisa menjadi subjek dalam pariwisata,” jelasn.

Tidak hanya di Bali, pemasaran desa berbasis digital sudah merambah ke daerah lain. “Untuk di luar Bali, kami juga ikut memasarkan desa di daerah Flores, NTT,” tambahnya

Astra Talk
Benny Santoso, Diplomasi Budaya Melalui Tempe, Kategori Kewirausahaan. Sumber Foto : tis/bpn

Sementara Benny Santoso dengan Diplomasi Budaya Melalui Tempe, ide tersebut muncul karena Indonesia adalah negara produsen tempe terbesar di dunia 2,1 juta ton per tahun. “Dengan data tersebut dan potensi market yang besar, saya membuat beragam rasa dan olahan tempe,” ujarnya.

Dengan brand ‘INI Tempe’ (Innovate, New Ideas With Tempe), ia mempromosikan tempe bukannya hanya di Indonesia tapi ke dunia. “Untuk memudahkan promosi tempe, kita harus membuat produk-produk yang inovatif,” tambah Benny.

Baca Juga :  Bupati PAS Apresiasi Peran KPID dalam Edukasi Masyarakat
Astra Talk
I Nengah Agus Tripayana, Pendidikan untuk Semua, Kategori Pendidikan. Sumber Foto : tis/bpn

Untuk Kategori Pendidikan, I Nengah Agus Tripayana dengan Pendidikan untuk Semua, menjelaskan ketika dirinya mengalami susahnya akses pendidikan terutama dana dan tidak mau melihat adik-adik di desanya mengalami kesusahan seperti dirinya, ia berinisitif pada tahun 2012 mendirikan komunitas lalu menjadi Yayasan Bina Sastra dan sampai saat ini sudah memilki sukarelawan sebanyak 85 orang yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda.

“Di Yayasan Bina Sastra, jika kalian memberikan uang sebesar Rp150 ribu ke yayasan, kami bisa menyekolahkan 1 anak,” jelas Nengah Agus.

Astra Talk
Taufiqur Rahman, Olah Sampah Menjadi Rupiah, Kategori Lingkungan. Sumber Foto : tis/bpn

Sementara untuk Kategori Lingkungan, Taufiqur Rahman dengan Olah Sampah Menjadi Rupiah menjelaskan dirinya berasal dari pesisir utara pulau Bali, ia sangat prihatin melihat sampah-sampah berserakan di pesisir pantai tempat tinggalnya.

“Dari kondisi tersebut, saya memiliki ide untuk mengubah sampah-sampah tersebut manjadi barang yang lebih berharga,” ujarnya.

Sampah-sampah tersebut diubahnya menjadi miniatur seperti motor dan mobil yang bisa dijadikan hiasan di ruangan seperti kamar atau ruang tamu. “Kegiatan mengolah sampah menjadi rupiah itu sudah saya lakukan dari kelas 6 SD hingga sekarang,” tambahnya.(tis/bpn)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here