Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, MEDANLake Toba Film Festival (LTFF) 4.0 kembali hadir meski di tengah pandemi. Acara persembahan Rumah Karya Indonesia ini tampil beda dari tahun-tahun sebelumnya.

Melihat situasi kesehatan yang tidak memungkinkan terjadi kerumunan LTFF 4.0 mengadakan webinar dengan tema Gairah Film Lokal Berbasis Komunitas, Senin (24/8/2020) melalui Zoom meet.

Webinar ini diisi oleh pemateri Bowo Leksono Direktur CLC Purbalingga, Onny Kresnawan Ketua Asosiasi Dokumentaris Nusantara Medan, Ori Semloko Direktur LTFF 4.0, dan dimoderatori oleh Jhon F Siahaan salah satu pendiri RKI.

Pada webinar ini Bowo Leksono menceritakan bagaimana film lokal mampu terus hidup dalam semangat komunitas film di Purbalingga. Komunitas film yang memiliki basis pelajar itu berbaur erat dengan masyarakat seperti mengadakan acara layar tancap sebagai agenda rutin.

“Kita harus melibatkan masyarakat untuk menekan permasalahan dana. Juga jagan hanya mikir produksi tapi bagaimana distribusi film ini bisa sampai ke masyarakat,” ujarnya.

Bagi Bowo film juga amat penting di masa sekarang ini. Di mana semua sudah menggunakan video mulai dari orang tua sampai ke anak kecil untuk berekspresi. Di sanalah kesempatan bagi pencinta film menggunakan film lokal untuk  perkembangan lingkungan sosial kemasyarakatan di lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  La Nina Picu Hujan Lebat, Masyarakat Bali Diminta Waspada

Onny Kesnawan menyampaikan LTFF juga dapat mulai mengembangkan sayapnya agar gairah film lokal dapat sampai ke banyak daerah di Sumatera Utara. Seperti sineas di Langkat atau Sibolga dapat hadir bersama-sama membicarakan karyanya. Anak-anak juga semangat berkarya kedepan. Jadi, bukan fokus pada sebuah ajang kompetisi.

“Jangan melulu kompetisi tapi bukalah ruang-ruang yang yang lebih memberikan nilai-nilai untuk berdiskusi,” ujar Onny.

Menanggapi hal ini Ory Semloko menyampaikan LTFF memiliki tujuan utama agar dapat membentuk ekosistem film di Sumatera Utara. Semua berawal dari kesadaran bagaimana caranya dapat merekam kekayaan kebudayaan atau kesenian yang ada di Sumatera Utara.

Menurut Ory Sumatera Utara sudah memiliki banyak komunitas film. Namun, pergerakannya juga hilang muncul akhirnya mempengaruhi karya yang dibuat. Harusnya sesama komunitas film juga bisa saling berkolaborasi untuk mengangkat kisah-kisah kebudayaan dalam sebuah film. Hal ini tentu menghidupkan gairah film lokal karena dekat dengan masyarakat.

“Kita ini belum menyadari kalau kita itu punya kekayaan tapi kita masih berkiblat ke Hollywood ataupun ke film Indonesia. Akhirnya kita tidak bisa melihat lingkungan kita sendiri,” ujar Ory.

Baca Juga :  Cara Raih Peluang Kerja di Tengah Pandemi

Edy Suwardy, Perwakilan Perfilman, Musik, dan Media Baru Direktorat Jenderal Kebudayaan sebagai pendukung kegiatan LTFF 4.0 mengapresiasi Webinar yang diadakan LTFF.

Menurutnya ini membangkitkan semangat perfilman di Indonesia yang sekitar lima bulan tertidur akibat Covid-19. “Mudah-mudahan ini menjadi semangat dari komunitas pada komunitas dan menjadi upaya untuk menghasilkan karya yang dapat dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Edy.

Webinar hanya satu dari rangkaian acara LTFF 4.0. Kedepannya LTFF juga akan mengadakan Masterclass, sebuah ruang diskusi untuk berbagi ilmu dengan maestro perfilman pada 24-30 Agustus. Diisi dengan materi Directing, cinematography, script building, audio, dan artistik.

Disusul dengan Online Acting Competition, sebuah kompetisi seni peran secara online sebagai output rangkaian kegiatan LTFF 4.0. Kompetisi ini terbagi atas tiga tahap seleksi diantaranya, seleksi karya, pembacaan skrip yang diberikan panitia, dan akting monolog.

Seluruh seleksi ini dilakukan melalui Zoom Meet dan Youtube. Penilaian akan dilakukan oleh juri dan jumlah suka di Youtube. Pendaftaran dibuka mulai 15-30 Agustus. (r/bpn))