Pandemi Covid -19 telah melanda berbagai belahan Dunia yang berdampak pada berbagai sektor. Pulau Bali yang sangat mengandalkan Sektor Pariwisata juga tidak dapat menghindari dampak dari Pandemi Covid -19. Upaya pencegahan telah dilakukan mengikuti arahan badan kesehatan dunia (WHO), menjalankan instruksi Pemerintah pusat dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang langkah-langkah pencegahan efektif (termasuk upaya dan langkah strategis permasalahan ekonomi dan sosial sebagai dampak Pandemi). Tetapi, sektor Pariwisata yang mengandalkan kedatangan wisatawan tentu bertentangan dengan Social Distance atau Stay at Home yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid -19. Artinya, pariwisata di Bali menjadi lesu, wisatawan kecil kemungkinan untuk berwisata, daya tarik wisata menjadi sepi, sektor jasa terutama pariwisata terancam, berdampak kepada pendapatan ekonomi masyarakat dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan.

Baca Juga :  Bali Mantap, Pasien Corona Sembuh Capai 80 Persen

Tampak perlu disegarkan kembali bahwa Pandemic Covid -19 bukan permasalahan Pariwisata di Bali, tetapi permasalahan semua sektor, permasalahan seluruh daerah di Indonesia dan merupakan permasalahan global. Sehingga penanganannya tidak dapat partial hanya Bali saja, atau hanya Indonesia saja melainkan secara global masyarakat dunia-berbagai negara harus bersatu untuk menetralkan (memusnahkan?) pandemic Covid-19.

Terlepas dari hal tersebut, di tengah Pandemic Covid -19 Ekonom Dr. I Putu Anom dan Planolog Ida Bagus Suryawan dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, bersama Antropolog I Gusti Agung Oka Mahagangga dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana dan Antropolog dari FISIP Universitas Airlangga Toetik Koesbardiati, PhD., melahirkan buku berjudul “Spektrum Ilmu Pariwisata, Mitos Sebagai Modal Budaya Dalam Pengembangan Pariwisata Bali”.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Serahkan Paket Sembako di Jimbaran dan Sibang Kaja.

Pariwisata budaya telah berdinamika sedemikian rupa dan menimbulkan kekhawatiran apakah pariwisata budaya masih eksis di Bali? Pariwisata budaya terindikasi bergeser dan bersaing dengan jenis-jenis pariwisata lainnya (bukan berarti jenis pariwisata lain tidak baik atau tidak penting). Mitos sebagai bagian dari kebudayaan, sebenarnya memiliki kekuatan besar sebagai modal budaya dalam pengembangan pariwisata budaya. Tetapi, mitos tradisional di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya (bahkan di dunia) tampak belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Untuk di Bali, hampir setiap desa-desa pasti memiliki mitos lokal. Jika ini mampu dimanfaatkan akan menjadi ciri khas dan keunikan. Banyak kasus terjadi yaitu keseragaman produk wisata di Bali padahal sebagai wahana ekonomi kreatif hal ini dapat ditanggulangi seperti dengan melihat kembali mitos lokal yang dapat menampilkan ragam produk wisata. Termasuk sebagai sarana edukasi bagi para generasi milineal di era revolusi 4.0 tentang nilai-nilai lokal yang kaya makna dan melintasi zaman.

Para Penulis buku ini berupaya mempertemukan sisi akademis dan sisi praktis pariwisata dari perspektif Ilmu Pariwisata yang sangat Multidisipliner/Transdisipliner. Penggunaan Metodologi mengacu kepada paradigma klasik, paradigma moderen dan paradigma postmoderen (terlebih masyarakat dan pariwisata di Bali sedang dalam proses tradisional ke moderen, atau dari moderen ke postmoderen?). Pokok bahasan diupayakan-disertai isu dan contoh kasus mulai dari rekayasa sosial dalam pariwisata sampai peluang anggaran dana desa digunakan untuk pariwisata. Para pembaca akan diupayakan memahami mitos, kebudayaan, masyarakat dan pariwisata sebagai aplikasi atau terapan dari ilmu pariwisata (terutama dimensi budaya pariwisata, dimensi sosial pariwisata dan dimensi ekonomi pariwisata).

Baca Juga :  Kodim Tabanan Gelar Patroli Pendisiplinan Masyarakat

Secara ilmiah (baik eksakta maupun  sosial humaniora) telah dipahami bahwa entitas tidak ada yang pernah stabil sepenuhnya. Dinamika tidak terbantahkan (agama Hindu di Bali menyebut sebagai kekuatan Bethara Kala / Sang Waktu), selalu ada proses yang akan dimaknai beragam oleh manusia, masyarakat dan lingkungan. Tetapi intinya adalah dalam setiap proses apa pun diperlukan waktu (tidak bisa diperlambat-tidak bisa dipercepat), upaya/usaha (dapat aktif atau pasif) dan lingkungan (dapat mendukung atau tidak mendukung). Selalu terdapat siklus yang sering disangkal oleh manusia karena kepentingan-kepentingan.

Terkait Pandemic Covid -19 dan sektor pariwisata di Bali, mungkin buku berjudul “Spektrum Ilmu Pariwisata, Mitos Sebagai Modal Budaya Dalam Pengembangan Pariwisata Bali”, dapat menjadi kecubung ungu yang mendamaikan di siklus pariwisata dunia yang sedang menurun tajam. Buku ini diharapkan mampu dipahami oleh para calon intelektual muda pariwisata, menginspirasi, menjadi bahan renungan dan mengisi waktu “stay at home” untuk melahirkan gagasan kritis dan tindakan cemerlang kepada para pemegang kebijakan, para praktisi pariwisata, para pakar pariwisata, para penggiat pariwisata maupun masyarakat umum yang tertarik.

Pewarta : Adi Setiawan/baliportalnews.com