BALIPORTALNEWS.COM – Bali patut berbangga karena satu lagi putranya yakni Made Sutama berhasil mengharumkan nama Indonesia, khususnya Bali di kancah internasional. Pria kelahiran Kabupaten Badung, 2 Januari 1988, yang beralamat di Jalan Pantai Berawa, Banjar Tandeg, Tibubeneng, Kuta Utara, Badung ini meraih juara 1 pada ajang “Pasaulio Sapnas/A Dream of The World” Ice Sculpture Festival di Belmontas, Vilnius, Lithuania, pada 21-22 Februari 2020.

KLIK GAMBAR DI ATAS UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI LEBIH LANJUT !!!

Menurut penuturan Sutama, pada lomba ini, dirinya mengangkat karya dengan judul “Eclipse” (Gerhana) dengan menampilkan cerita Dewi Ratih dan Kala Rau. Melalui epos ini, dirinya ingin membawa legenda Hindu di Bali ke kancah internasional.

“Secara tidak langsung orang-orang di sini (Lithuania-red) menanyakan cerita karya saya setelah melihat visualnya yang tidak biasa bagi mereka. Biasanya mereka lebih tertarik lagi ketika mendengar cerita di balik karya,” terangnya.

Baca Juga :  Koding Next Bantu Face Shield untuk RSUD Bali Mandara 

Alasan mengangkat legenda tentang gerhana berawal dari ketertarikannya akan keterkaitan manusia khususnya secara mental dengan keadaan bumi, bulan dan matahari. Mimpi cenderung terjadi ketika dekat purnama ataupun tilem. Bulan merupakan faktor signifikan seseorang mengalami mimpi saat tidur.

Dengan karya tersebut, Sutama berhasil mengalahkan 11 tim yang lolos seleksi pada lomba ini dan menjadi yang terbaik. Ada tim yang terdiri dari 3 orang, 3 tim dengan 2 anggota dan sisanya 8 seniman yang turun sendiri atau single artist. Sutama dalam hal ini turun sendiri.

Baca Juga :  Ini Protokol Kesehatan Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Untuk penilaian, kata Sutama, berdasarkan kesesuaian karya dengan tema lomba, tingkat kesulitan, detail dan kesesuaian karya dengan sketsa yang diajukan pada panitia. Pemilihan juara dilakukan oleh tim juri yang terdiri dari 3 orang akademisi/seniman, penonton dan seniman peserta lomba. “Kebetulan karya saya mendapat vote terbanyak dari juri, seniman dan penonton,” kenangnya sambil menunjukkan trofi juara.

Dia mengakui ada beberapa kendala dalam pengerjaan. Pertama, dia bekerja sendiri bukan tim. Sehingga dalam proses konstruksi es, harus menunggu bantuan dari peserta lain. Selain itu, ia bekerja pada suhu udara yang minus atau 0 derajat Celcius yang hanya pada malam hari saja terutama untuk proses pengeleman atau penyambungan es agar semua bagian menyatu dan siap diukir.

Baca Juga :  Patroli Dialogis Ciptakan Situasi Kondusif

Meski demikian dia mengaku lomba ini lebih banyak merupakan suatu kesenangan, karena mengukir es baginya adalah kenikmatan tersendiri meskipun dingin. Mungkin itu jadi salah satu kunci kemenangannya pada lomba kali ini. “Saya bekerja senang, tanpa beban, di samping tidak tidur dari jam 4 sore hingga 1 siang keesokan harinya,” bebernya.

Lebih lanjut dia mengimbau krama Bali agar jangan sampai lupa akar budaya. “Di manapun berada, kita ini orang Bali, orang Indonesia dengan keberagaman budaya yang adiluhung. Merantaulah sejauh mungkin, tapi tetap jadi Indonesia agar dunia tahu kebudayaan Indonesia itu beragam dan unik,” jelasnya. (pra/bpn)