BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Pada tanggal 28 Oktober – 1 November 2020, lebih dari 150 penulis, seniman, pegiat dari lebih dari 30 negara akan hadir dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-17, untuk berbagi kisah luar biasa dan berbagai gagasan menarik yang mengeksplorasi tema tahun ini, Mulat Sarira.

Seperti Festival tahun-tahun sebelumnya, tema ini terinspirasi dari filosofi Hindu Bali. Mulat Sarira, Refleksi Diri, adalah kemampuan untuk merefleksikan diri sendiri dan memahami alasan di balik tindakan-tindakan yang diambil. Bagi umat Hindu Bali, Mulat Sarira adalah prinsip spiritual dalam memandang perbuatan, pikiran, dan nilai-nilai yang dilakukan oleh diri sendiri sebelum menilai orang lain.

“Karena egosentrisme terus menyebabkan konflik manusia, dari diskriminasi hingga perang, penyakit, dan genosida”, komentar Pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe. “Umat Hindu Bali percaya bahwa mereka harus melihat pilihan dan perilaku mereka sendiri, untuk direnungkan terlebih dahulu sebelum melihat yang dilakukan oleh orang lain.”

Festival tahun ini akan mengeksplorasi tindakan refleksi diri yang sederhana, memahami siapa diri kita, nilai-nilai kita, dan alasan di balik tindakan kita. Tema ini akan menghadirkan percakapan yang menarik antara tokoh-tokoh sastra, penulis emerging, pegiat dan jurnalis terkemuka, untuk membahas bagaimana refleksi diri berhubungan dengan pekerjaan dan proses artistik yang mereka jalani. Bagaimana literatur atau tulisan yang mencerminkan persepsi diri seorang seniman dapat berhubungan dengan orang lain di seluruh budaya.

Baca Juga :  Badung Gencarkan Edukasi Prokes dan Penyemprotan Disinfektan

Diskusi penuh inspirasi, pertunjukan yang menarik, jamuan makan bersama para tokoh sastra, dan acara-acara selepas petang (after dark events) akan mengungkap inti dari setiap kisah penuh kejutan: siapa kita dan apa yang mendorong tindakan kita.

Bersamaan dengan pengumuman tema 2020, UWRF juga telah meluncurkan karya seni atau poster resmi untuk tahun ke-17, yang diciptakan oleh seniman Bali terkemuka Teja Astawa. Karya-karyanya telah mendapat pengakuan nasional dan seni khas gaya Kamasan yang dikerjakannya mewakili kisah-kisah yang diceritakan dalam seri tematik.

Menanggapi tema UWRF20, Teja Astawa berkomentar, “Bagi saya, Mulat Sarira berarti kembali ke tradisi, karena hal tersebut adalah akar kita. Ketika saya menerjemahkan tema Ubud Writers & Readers Festival ke karya seni saya, saya mengambil elemen-elemen yang berkaitan dengan tradisi yang mencerminkan makna dari tema itu sendiri.”

 “Melalui tema tahun lalu, Karma, kita mengeksplorasi dampak tindakan pribadi dan kolektif kita pada lingkungan sosial dan sekitar kita,” ujar Janet DeNeefe.

“Pada saat media sosial dan konektivitas bergerak sangat cepat, ketika kita dapat dengan mudah memberikan penilaian pada orang lain, kita akan bertanya seperti apa Mulat Sarira atau Refleksi Diri pada tahun 2020. Menyadari tindakan diri sendiri sebelum memberikan penilaian pada orang lain tidak akan semudah kelihatannya.”

Baca Juga :  Masa Pandemi Covid-19, Koperasi Hadapi Permasalahan Berat

 “Pada tahun ke-17 ini, UWRF akan merayakan para penulis, seniman, dan pegiat dari seluruh Indonesia dan dunia yang sangat sadar akan konsekuensi dari tindakan mereka. Melalui perspektif lintas budaya tentang prinsip Hindu Bali dalam Mulat Sarira, kita akan mengeksplorasi bagaimana refleksi diri dapat memengaruhi orang lain di sekitar kita.”(r/bpn)