BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – 170 peserta pelatihan teologi Hindu Brahma Widya menjalani ritual Pawintenan Tapak Gana pada Minggu (23/2/2020) lalu di Pura Lokanatha, Luminang, Denpasar Utara.

Ritual ini merupakan tahap akhir dari seluruh materi yang ditempuh selama sembilan bulan. Selain pawintenan, saat itu juga dilakukan ritual masepuh pawintenan bagi peserta yang sudah mawinten. Kegiatan diawali dengan ritual mapetik di Jaba Pura, merajah dan ngelinggihang Ongkara Atma di Utama Mandala Pura.

Ritual ini dipuput oleh tiga sulinggih, yakni Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Nanda, Ida Rsi Satya Jyotir dan Sira Mpu Dharma Sogata juga didampingi dua Ida Bhawati. Di sela proses pawintenan, Ida Pandita Mpu Nabe Acarya Nanda menerangkan sekelumit pehamanan seputaran makna pawintenan kepada peserta.

“Pawintenan berasal dari kata Inten yang berarti permata, atau Soca,” ujarnya. Dalam keyakinan umat Hindu di Bali, menurut dia, Soca merupakan simbul dari kesucian.

Kata dia, melakukan Pawintenan merupakan langkah yang positif bagi diri maupun alam semesta. Bahkan itu juga tersurta dalam sebuah catatan suci lontar. “Ada pula lontar yang menyebutkan, suci namanya apabila menguncarkan nama tuhan setiap hari, misalkan berjapa,” ujarnya.

Baca Juga :  Kembangkan Jaringan, NET89 Beri Edukasi Kepada Member

Tahun 2020 ini, kursus teologi Hindu Brahma Widya sudah memasuki angkatan ketiga. Kursus ini membahas tentang tentang nilai-nilai agama dan penerapannya dalam lingkungan beragama.

Ketua Panitia, I Wayan Dody Arianta mengatakan, pelaksanaan pertama, peserta diberikan materi samskerta dasar, nyurat kajang, itihasa, purana, reformasi ritual, Siwa sidhanta, modre, krya Patra, wariga dasar, Dharma Wacana berserta yang lain-lain.

“Setelah menjalani pawintenan, peserta diharap bisa menempatkan diri di masyarakat dan menerapkan ilmu yang telah didapat dalam kursus,” pungkasnya. (da/bpn)