BALIPORTALNEWS.COM – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan budaya akademik inovatif untuk mendidik sumber daya manusia (SDM) unggul dan menguatkan kedaulatan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Rektor UGM, Prof.Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU., ASEAN., M.Eng., Kamis (19/12/2019) dalam puncak peringatan Dies ke-70 UGM di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Dia menyebutkan saat ini dunia global menjadi semakin dinamis dnegan perubahan yang semakin cepat, massif, sulit diprediksi dengan tantangan yang kian beraga, dan kompleks di semua lini kehidupan. Perubahan tersebut akan sering meleset dari prediksi yang telah dilakukan.

“Oleh sebab itu diperlukan pemecahan masalah yang dilakukan secara inovastif, cepat, responsif, fleksibel, antisipatif, dan adaptif terhadap perubahan dan disrupsi, tidak terkecuali pada penyelenggara pendidikan tinggi,” terangnya.

Panut menjelaskan bahwa upaya-upaya terebut sangat diperlukan untuk menjamin bangsa tetap memiliki sumber daya manusia yang unggu, produktif, berdaya saing  tinggi, dan setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Membangun sumber daya unggul telah menjadi priorotas pembangunan dalam lima tahun kedepan yang ditetapkan presiden Jokowi. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi sangat signifikan dalam pembangunan SDM unggul melalui berbagai jalan. Mulai dari proses pembinaan kualitas dosen dan mahasiswa, menyediakan ekosistem pembelajaran yang inovatif dan kondusif, serta menciptakan karakter mahasiswa yang unggul dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Panut mengatakan bahwa tantangan pendidikan abad 21 adalah menjembatani kesenjangan antara proses pendidikan di perguruan tinggi dan dunia kerja dan kebutuhan inovasi. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar bagi perguruan tinggi. Terjadi pergeseran akibat adanya perubahan  radikal dalam konsep dan praktik pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam pendidikan tinggi, lanjut Panut, terjadi pergeseran paradigma sains, kemanusiaan, dan artistik. Kebutuhan perubahan paradigma pendidikan itu direspon melalui berbagai strategi dan kerangka kerja pendidikan inovatif.

“Peta jalan membangun eksostem akademik inovatif dilakukan melalui empat pilar yakni dengan mendorong pemanfaatan sumber belajar internal dan eksternal, meningkatkan kompetensi learning skills, literacy skills, dan life skills, menyediakan media diseminasi pengetahuan sebagai sumber belajar, serta menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi melalui integrasi tridharma,” urainya.

UGM disebutkan Panut mendorong dan memfasilitasi model serta metode pengembangan muatan soft skills dalam kurikulum yang diwujudkan melalui berbagai metode. Hal tersebut dilakukan sejak mulai masuk sebagai mahasiswa baru, diintegrasikan dalam mata kuliah, kegiatan ekstra dan ko-kurikuler, kurikulum, asarama UGM Residence hingga implementasi di masyarakat elalui KKN PPM.

Sementara sebagai upaya menjawab tantangan the emerging skills, UGM menerapkan fleksibilitas metode pembelajaran melalui metode pengayaan dengan mengkombinaiskan pelaksanaan pembelajaran secara tatap muka di kelas dengan pembelajaran interaktif dalam jaringan (blenden learning). Selain itu juga mengembangkan strategi pendidikan transformasi digital.

Menyampaikan laporan tahunan rektor 2019, Panut turut menyampaikan bahwa UGM berkomitmen menyelenggarakan pendidikan inklusif dan berkeadilan. Hal tersebut diwujudkan dengan memberikan akses pendidikan seluas-luasnya lewat program afirmasi dan wilayah 3 T (tertinggal, terluar, dan terdepan). Selain itu juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa. Pada tahun 2019 UGM mampu menyediakan dana beasiswa sebanyak Rp. 160.058.855.182,00 yang disalurkan untuk 10.239 mahasiswa.

Lebih lanjut Panut menyampaikan bahwa UGM juga berupaya melakukan internasionalisasi akademik melalui summer course bidang unggulan lintas disiplin untuk meningkatkan mutu pendidikan, reputasi akademik, dan jejaring internasional. Upaya peningkatan visibilitas di kancah internasional juga dilakukan seperti melalui partisipasi dalam pemeringkatan dunia, akreditasi, serta sertifikais internasional.

“Sampai tahun 2019 sebanyak 39 program studi telah terakreditasi inetransional, 26 prodi bersertifikasi internasional, dan 6 prodi dalam proses akreditasi intrenasional,” ujarnya.

Dalam hal riset, Panut menyebutkan kinerja penelitian UGM terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan  kinerja penelitian UGM periode 2016-2018 menduduki peringkat pertama yang dirilis Kementrian Riset dan Teknologi/BRIN. Pada tahun 2019 hingga bulan November tercatat capaian kekayaan intelektual UGM sebanyak 440 judul. Capaian tersebut terdiri dari 123 paten dan 302 hak cipta, 7 merek, dan 8 desain.

Hilirisasi hasil riset dan inovasi produk UGM juga terus dilakukan agar bisa memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat dan menyelesaikan persoalan bangsa. Inovasi turut dilakukan dalam bidang pengabdian pada masyarakat yang membuahkan hasil pada tahun 2019 UGM menduduki posisi pertama peguruan tinggi berbasis kinerja pengabdian masyarakat oleh Kemenristekdikti.

“Dalam mewujdukan masyarakat kampus yang sehat baik fisik maupun mental, UGM telah mencanangkan Health Promtion University (HPU),” jelasnya.

Diakhir pidatonya Panut kembali menyampaikan perlunya upaya untuk selalu menguatkan melakukan penyesuaian dan mempin perubahan-perubahan yang terjadi. Menurutnya persoalan bangsa yang kompleks akan lebih mudah dan cepat dituntaskan saat seluruh elemen bangsa bergerak menyelesaikannya.

Dia pun mengajak seluruh sivitas akademika UGM untuk mewujdukan target pembangunan SDM unggul, profesional, berkompetensi, beralarlter, beretika, dan berdaya saing tinggi  melalui inovasi-inovasi akademik.

“Kumpulkan energi dan semangat berinovasi sesuai talenta masing-masing. singkirkan perbedaan dan sinergikan kekuatan berkolaborasi. Pendidikan dengan semangat inovasi menguatkan setiap batu penjuru, pilar, dan fondasi,” pungkasnya. (ika/humas-ugm/bpn; foto:firsto)