BALIPORTALNEWS.COM – Pengembangan dan riset obat dari tanaman herbal yang ada di tanah air perlu dilakukan untuk mendukung kemandirian bahan baku obat nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Sumberdaya Iptek Dikti Kemenristekdikti, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, Kamis (14/11/2019) di Yogyakarta. Saat itu Ali Ghufron hadir menjadi pembicara kunci dalam The 6th International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences (ICPAPS) 2019 yang diselengggarakan Fakultas Farmasi UGM di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Ali Ghufron menyampaikan Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati termasuk tanaman herbal. Bahkan sekitar 80 persen tanaman herbal dunia tumbuh di Indonesia.

“Indonesia adalah negara dengan biodiversitas terbesar kedua dunia setelah Brazil. Kurang lebih ada 28 ribu spesies tanaman dimana 1.845 diantaranya teridentifikasi sebagai tanaman obat,” paparnya.

Meskipun memiliki keberlimpahan tanaman herbal, namun disebutkannya potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Dari 1.845 spesies tanaman yang teridentifikasi sebagai tanaman obat, baru 283 spesies yang secara resmi terdaftar di BPOM dalam penggunaan sebagai obat dan telah digunakan masyarakat.

“Sebagian besar lainnya belum dibuktikan secara klinis,” tuturnya.

Dia mencontohkan tanaman bajakah yang dalam beberapa waktu terakhir sempat booming dianggap berpotensi sebagai anti kanker. Pemerintah telah mengidentifikasi spesies tanaman ini ke dalam tanaman herbal. Kendati begitu, potensi sebagai anti kanker masih belum teruji secara klinis.

“Sudah kita identifikasi, tetapi bukti empirik sebagai obat kanker belum ada. Masih perlu identifikasi zat mana yang efektif untuk anti kanker,” katanya.

Oleh sebab itu dia menekankan pengembangan obat herbal yang berasal dari kekayaan alam Indonesia sangatlah diperlukan. Pemanfaatan tanaman herbal lokal sebagai obat ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi bangsa,terutama dalam mendukung kemandirian bangsa dalam bidang obat. Sebab hingga kini lebih dari 95 persen bahan baku obat diperoleh dengan impor dari negara lain.

“Kalau potensi yang ada ini bersama-sama dikembangkan, dibawah Dikti kan ada 20 RS dan 14 RSGM, kalau diuji maka potensinya luar biasa untuk menekan impor bahan baku obat,” ujarnya. (ika/humas-ugm/bpn)