BALIPORTALNEWS.COM – Pada era globalisasi yang saat ini semakin berkembang pesat diiringi pula dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS).  Perkembangan IPTEKS menuntut seseorang agar memiliki kemampuan dan kecakapan untuk dapat mengikuti persaingan global. Saat ini telah terjadi revolusi digital yang dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan manusia sehingga mampu mengubah sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, dan kemasyarakatan. Hal itu ditandai dengan lahirnya fenomena abad kreatif (abad ke-21) yang menempatkan informasi, pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan jejaring sebagai sumber daya strategis yang tidak hanya berpotensi positif, tetapi juga negatif.

Semakin berkembangnya IPTEKS tersebut dapat mempermudah kehidupan manusia. Salah satu contoh saat ini manusia dipermudah dalam hal akses informasi melalui media sosial. Segala informasi yang ingin diketahui bisa diakses dalam media sosial. Hal tersebut ternyata secara tidak langsung menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penyeberan berita bohong (Hoax) saat ini dapat meresahkan kehidupan sosial bermasyarakat. Penyebaran berita bohong itu disebabkan karena rendahnya kemampuan literasi seseorang, sehingga berita yang disebarkannya tersebut belum ditelaah secara mendalam terkait dengan kebenarannya.

Indonesia adalah Negara yang tingkat literasinya masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari laporan PISA (Programme for International Student Assesment) 2015 yang diumumkan pada tahun 2016, Indonesia  masih berada pada 10 besar peringkat terbawah yaitu peringkat 62 dari 72 negara dengan rata-rata skor 395. Selain itu survei lain tentang literasi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 di New Britain, Conn, Amerika Serikat, misalnya, menempatkan Indonesia dalam posisi cukup memprihatinkan, yaitu urutan ke-60 dari 61 negara.  Laporan tersebut merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah.

Untuk menyikapi rendahnya tingkat literasi di Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia melakukan suatu upaya melalui Kemendikbud dengan Program GLS (Gerakan Literasi Sekolah). GLS merupakan gerakan literasi yang aktivitasnya banyak dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidikan dan tenaga kependidikan, serta orang tua. GLS dilakukan dengan melakukan kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Bahan bacaan yang dibaca tidak mesti buku pelajaran melainkan buku atau sumber baca lain yang sesuai dengan karakteristik dan perkembangan kognitif siswa.

Saat ini Program GLS sudah berjalan kurang lebih selama empat tahun. Banyak kendala yang dialami sekolah terkait dengan Program GLS, seperti penyediaan bahan bacaan yang sesuai minat siswa, menumbuhkan kesadaran siswa untuk membaca dan alat evaluasi untuk mengukur perkembangan literasi yang dicapai siswa melalui GLS.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan literasi siswa adalah melalui “MELISA” (Media Literasi Siswa). Konsep Melisa ini sebenarnya hampir sama dengan majalah dinding namun dalam Melisa bahan bacaan yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik siswa dan teknis pelaksanaannya terlebih dahulu membagi siswa menjadi dua kelompok yaitu kelompok informan dan kelompok pengkaji.

Kelompok informan bertugas membawa bahan literasi berupa cerpen, poster, puisi, pantun, berita atau tulisan hasil karyanya sendiri. Kelompok informan ini menempelkan bahan literasinya pada pagi hari sebelum pembelajaran dimulai. Kelompok pengkaji bertugas untuk mencatat informasi yang ada pada Melisa. Setelah kelompok informan dan pengkaji melaksanakan masing-masing tugasnya, 15 menit sebelum pembelajaran dimulai guru memfasilitasi siswa untuk melakukan semacam diskusi. Kelompok pengkaji diberikan kesempatan untuk menanggapi bahan literasi pada Melisa terkait dengan kebenaran informasi dan manfaat informasi tersebut bagi kehidupan. Kelompok informan bertugas untuk memberikan penjelasan atas tanggapan yang diberikan oleh kelompok pengkaji.

Hal tersebut rutin dilakukan setiap hari, kelompok informan dan pengkaji diperankan secara bergantian. Hal ini bertujuan agar semua siswa memiiki pengalaman sebagai penyedia informasi dan penelaah kebenaran suatu informasi. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya literasi dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Literasi akan menjadi suatu budaya karena siswa selalu berusaha mencari bahan literasi untuk ditempel pada Melisa. Sedangkan kemampuan berpikir kritis siswa terus dapat dikembangkan dengan menanggapi informasi yang tersedia pada Melisa. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dapat menjadi filter dalam penyebaran berita bohong. Filterasi yang dilakukan siswa dengan selalu memeriksa kebenaran dan fakta terkait berita tersebut.  Dengan demikian “MELISA” ini dapat sebagai suatu media menuju budaya literasi dan filterasi HOAX.

Penulis :
I Made Andika Dwipayana, S.Pd.,M.Pd., Guru SD Negeri 1 Megati, Kec. Selemadeg Timur, Kab. Tabanan