BALIPORTALNEWS.COM – Jong Batak memperingati semarak sumpah pemuda melalui festival. Hal ini disampaikan oleh Ojax Manalu Direktur Jong Bataks Arts Festival di Taman Budaya Sumatera Utara, Minggu (27/10/2019).

“Jong Bataks Arts Festival sebagai spirit nasionalisme pemuda dalam merayakan Sumpah Pemuda,” katanya.

Ojax menjelaskan spirit nasionalisme kepemudaan itu perlu dipertemukan dalam suatu ruang, festival salah satunya. Ojax menambahkan, Jong Batak Arts Festival menginginkan semangat pemuda kembali menjadi jati diri bangsa. Di Jong Bataks Arts Festival berbagai rangkaian acaranya melibatkan pemuda-pemuda.

Berkaca pada Sumpah Pemuda bahwasanya sekarang ini kita harus mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang ada pada diri, mari melebur dan bersatu.

“Karena Sumpah Pemuda adalah akar dari berdirinya bangsa Indonesia,” kata Ojax.

Tanpa pernyataan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa dalam Sumpah Pemuda Indonesia tidak akan pernah terbentuk. Spirit itu diaplikasikan Jong Bataks Arts Festival melalui kebudayaan tradisional yang merupakan salah satu kebudayaan indonesia.

Sumatera utara, melalui Jong Batak Bond yang didirikan Amir Syarifuddin dan Sanusi Pane pada tahun 1952 berkontibusi dalam Sumpah Pemuda.

Baca Juga :  Menikmati Bali melalui Deretan Program KEMBALI 2020: A Rebuild Bali Festival

Ojax menjelaskan kegiatan selama tiga hari ini didedikasikan seutuhnya untuk mengumpulkan semangat kepemudaan. Salah satunya mengenang Satu Jam Bersama Nahum Situmorang, maestro yang telah menciptakan setidaknya 120 judul lagu. Juga ada renungan hari Sumpah Pemuda yang akan diorasikan oleh tokoh-tokoh Sumatera Utara.

Savira Basuki Pengunjung Jong Bataks Arts Festival mengatakan Jong Bataks Arts Festival sangat berperan dalam membangkitkan hasyat mencintai budaya tradissional yang merupakan salah satu sikap nasionalisme itu.

“Aku jadi penasaran sama budaya dan adat Batak sejak lihat pembacaan puisi bahasa Batak di hari pertama,” jelas Savira yang bersuku Melayu.

Ia berharap tahun depan bisa berparisipasi dalam Jong Batak Arts Festival. “Kita memang beda, tapi perbedaan itulah yang harus menyatukan kita,” tutupnya. (rki/bpn)