BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pameran kebersihan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar bertajuk “Gara-gara Sampah” melibatkan masyarakat, komunitas dan LSM peduli lingkungan.

Kegiatan ini berlangsung, Jumat (30/8/2019) di timur Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar. Agenda pameran pengelolaan sampah hingga talkshow dihadiri Wali Kota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra, Robi Navicula, Akademisi Universitas Udayana I Gede Hendrawan, tokoh agama dan Warung Kecil, Sri Novi.

Tantangan penerapan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 36 Tahun 2018 tentang pengurangan kantong plastik menjadi pembahasan dalam talkshow. Wali Kota Rai Mantra menyampaikan bahwa tantangan perilaku masyarakat serta kebiasaan yang juga berkaitan dengan rentang umur masyarakat sehingga harapannya perwali ini dapat memberikan perubahan-perubahan baik lingkungan dan tingkat kesehatan masyarakat.

“Perwali dalam penerapannya Pemkot Denpasar tidak sendiri, namun didukung oleh komunitas dan LSM,” ujar Rai Mantra.

Lebih lanjut dikatakan saat ini Pemkot Denpasar telah meluncurkan program Sadar dan Peduli Lingkungan (Si Darling) yang memusatkan kepada masyarakat mengelola sampah di rumah tangga. Sistem reward di Si Darling berdasarkan jumlah poin yang dikumpulkan yakni silver dengan pengumpulan poin 0-24 mendapatkan layanan bus sekolah gratis; gold dengan pengumpulan poin 25-75 dengan layanan yang didapatkan yaitu bus sekolah gratis, diskon belanja di beberapa toko, prioritas pelayanan (KK,KTP, perizinan, BD, pembayaran air/listrik), pelayanan rumah sakit dan puskesmas; dan platinum dengan pengumpulan 75 poin ke atas dengan layanan yang diperoleh bus sekolah gratis, diskon belanja di beberapa toko, prioritas pelayanan (KK, KTP, perizinan, BPD, pembayaran air/listrik), pelayanan rumah sakit dan puskesmas, serta beasiswa bagi siswa sekolah. “Si Darling berbasis nomor induk kependudukan dengan penerapan di keluarga, serta mendapatkan rewad dari Pemkot Denpasar,” ujar Rai Mantra.

Akademisi Udayana, I Gede Hendrawan menyampaikan hasil penelitian 80 persen sampah dilaut berasal dari aktivitas di darat dan 20 persen berasal dari aktivitas di laut. Di samping itu hasil survey yang kita lakukan Kota Denpasar menjadi daerah terbaik di Bali dalam pengelolaan sampah, terbukti dengan keberadaan bank-bank sampah serta juga didukung dengan perwali pengelolaan sampah saat ini.

Robi Navicula mengatakan data terkini bahwa Indonesia setiap menit membocorkan sampah ke laut sebanyak  4 ton sampah, sehingga ini menjadi gerakan kita bersama dalam pengurangan sampah plastik. Di Denpasar terdapat Tukad Bindu Kesiman yang bersih dari sampah dan telah menjadi destinasi wisata baru di Kota Denpasar. Mari dukung regulasi perwali pengurangan sampah plastic dan regulasi untuk lingkungan karena Bali telah menjadi gerakan yang berdampak hingga nasional dan internasional. “Kita harus bergerak bersama dari pemerintah, tokoh masyarakat, LSM, dan gerakan individu dalam pengurangan plastic,” ujarnya.

Sri Novi pemilik Warung Kecil di Sanur mengaku komitmen tidak memberikan sedotan plastik dan kresek kepada konsumen. Awal memulai mendapatkan banyak menerima keluhan dari konsumen dan mencemooh gerakan kami di warung. Namun semenjak ada Perwali yang diterbitkan Walikota Rai Mantra memberikan dampak dan kemudahan serta pemahaman bagi kami serta konsumen dalam gerakan pengurangan sampah plastik. “Wali kota telah menggampangkan pekerjaan kita dalam pengurangan sampah plastik, sehingga sekrang kita dukung regulasi Perwali 36 ini,” ujarnya. (pur/humas-dps/bpn)