BALIPORTALNEWS.COM – Revolusi industri 4.0 menghadirkan tantangan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali pada sektor ketenagakerjaan.

Mekanisasi, otomatisasi, dan hadirnya kecerdasan buatan menjadi ancaman yang harus dihadapi pekerja atau buruh di era disrupsi saat ini.

Hal tersebut mengemuka dalam sarasehan bertajuk Pekerja Ditengah Badai Revolusi Industri 4.0 yang digelar Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) UGM di Gedung PAU UGM, Senin (29/4/2019).

Sarasehan menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan serikat pekerja. Mereka adalah Prof. Dr. Ari Hernawan, S.H., M.Hum., dosen FH UGM, Kirnadi, S.E., Sekjen Aliansi Buruh Yogyakarta, serta Sinergi Aditya, S.IP., anggota kajian strategis HMP UGM.

Dalam kesempatan tersebut Sinergi Aditya menyampaikan harapan bagai para mahasiswa untuk dapat membangun kesadaran kritisnya dan berpihak pada buruh. Pasalnya, mahasiswa merupakan calon buruh sehingga pemikiran dan keberpihakan tersebut menjadi sangat penting dimiliki para mahasiswa.

“Mahasiswa adalah buruh yang tertunda karenanya harus berpihak pada buruh,” tuturnya

Menghadapi era revolusi industri, dia menekankan pada mahasiswa untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang berjalan dengan cepat. Para mahasiswa diharapkan mampu mengikuti perkembangan dan melek teknologi agar tidak terlibas arus perubahan.

Baca Juga :  Pangapti: Film Dokumenter yang Mengisahkan Perjuangan Trans-Bali 1963 di Pelosok Way Kanan Lampung

Hal senada disampaikan Kirnaldi. Menurutnya buruh atau pekerja harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan akibat revolusi industri 4.0.

“Buruh tidak boleh hanya berdiam diri, harus melakukan inovasi. Pemerintah dan akademisi juga diharapkan dapat memberi solusi terkait beragam persoalan akibat revolusi industri,” jelasnya.

Menurutnya, otomatisasi dan mekanisasi merupakan tantangan nyata yang kini dihadapi oleh para buruh. Di satu sisi revolusi industri menghadirkan banyak pekerjaan baru, tetapi di sisi lain tidak sedikit pekerjaan yang hilang.

“Ada banyak jenis pekerjaan yang hilang, misalnya saat ini disektor perbankan dan perhotelan banyak melakukan pengurangan pegawai,” tuturnya.

Sementara Prof. Ari Hernawan menyebutkan bahwa revolusi industri sangat berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Banyak hal yang berubah di sektor ini, salah satunya seperti perubahan pola hubungan kerja yang tidak lagi mengikuti sistem dalam undang-undang.

“Dalam beberapa pekerjaan kontrak kerja hanya didasarkan pada kepercayaan saja tidak ada kongrak tertulis,” jelasnya.

Pada sarasehan itu Ari juga menyoroti tentang mahasiswa sebagai kaum intelektual yang diharapkan dapat berpikir secara kritis. Dengan begitu nantinya dapat lahir buruh-buruh yang berprikiran kritis pula. “Dari rahim intelektual seharusnya mampu menginjeksi kesadaran internal. Boleh memberi dukungan bagi buruh, tapi terpenting adalah kesadaran internal buruh untuk melakukan perubahan,” urainya.

Baca Juga :  75 Tahun PLN Hadir, Akses Listrik di Indonesia Semakin Merata

Ari berharap dari mahasiswa dapat melahirkan buruh yang cerdas yang dapat mengidentifikasi persoalan yang terjadi sebagai dampak revolusi industri 4.0. Dengan demikian bisa diperoleh suatu resolusi untuk menyelesaikan persoalan yang ada.(ika/humas-ugm/bpn)