BALIPORTALNEWS.COM – Mahasiswa UGM memberdayakan masyarakat dalam mengelola ulat sutera di Desa Karang Tengah, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Ulat sutera merupakan salah satu sumber daya unggulan yang dimiliki Desa Karang Tengah. Potensi ulat sutera baik jenis ulat sutera emas maupun ulat sutera coklat cukup besar berasal dari kebun jambu mete yang banyak terdapat di kawasan tersebut.

“Dalam sekali panen warga bisa meraup hingga 10 Kg kepompong ulat sutera emas dan ulat sutera coklat,” ungkap Putri Hayuning Tyas, salah satu anggota tim pengabdian masyarakat UGM di Karang Tengah.

Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan Putri bersama dengan rekan-rekannya di FEB UGM yakni Melynda Rukmmana Devi, Thariq Surya Gumelar, dan Wafa Rizki yang tergabung dalam tim PKM Pengabdian Masyarakat UGM. Dibantu empat volunteer yaitu Anisabila Galuh, Nadhifa Aisha, Mutiara Amalia, dan Wildan Sulchan, mereka mendampini masyarakat melakukan pengelolaan ulat sutera.

Baca Juga :  Pakar UGM Jelaskan Alasan Orang yang Pernah Terinfeksi Covid-19 Tidak Divaksin

Langkah ini dilakukan para mahasiswa muda ini berawal dari keprihatinan terhadap besarnya potensi kepompong ulat sutera, tetapi belum dikelola secara optimal oleh warganya. Pada awalnya terdapat kelompok tani yang menindaklanjuti hasil panen kepompong ulat sutera hingga menjadi lembaran kepompong ulat sutera. Namun, seiring berjalannya waktu kelompok ini tidak lagi melakukan pengelolaan ulat sutera dengan maksimal karena lemahnya pengetahuan dan kurang menguasai teknologi.

“Selama empat bulan terakhir kami melakukan pembinaan secara rutin pada masyarakat mulai dari produksi, keuangan, dan pemasaran produk,” jelasnya.

Puti menyebutkan mereka mengarahkan masyarakat untuk mengolah kepompong ulat sutera menjadi aneka hiasan maupun souvenir. Selain itu juga memproduksi menjadi benang dan kain tenun.

Baca Juga :  Mengenal Labu Susu Citra LaGa Inovasi Peneliti UGM

“Kami juga bantu dalam memasarkan produk baik secara online maupun offline,” tuturnya. (ika/humas-ugm/bpn)